Selasa, 05 Mei 2015

MENGGADAIKAN TANAH UNTUK ATTUMATE



Kehidupan Te'ne tidak seperti saudara lainnya yang sudah berkeluarga,yang semuanya telah berhaji dan memiliki mobil,sedangkan Te'ne baru dua tahun diwisuda S-1.Ayah Te'ne.Daeng Baso adalah pensiunan Guru.Daeng Baso memiliki sebidang tanah yang rencananya akan diwariskan kepada Te'ne,sedangkan tabungan Taspennya dipersiapkan untuk pendaftaran Te'ne menjadi PNS,karena PNS di daerah Te'ne memang mahal.Te'ne telah lulus K-2 dengan menggunakan ijazah SMA padahal Te'ne belum pernah honor dikantoran karena sibuk kuliah,sehingga uang simpanan daeng Baso diserahkan kepada pengurus K-2nya sesuai perjanjian sebelumnya.Namun,sebelum menikmati gaji anaknya, Daeng Baso sudah dijemput oleh Malaikat Maut atas perintah Allah.
"Janganmaki susah-susah attumate,Amma, katidak diajarkanji dalam Islam !",Kata Te'ne pada ibunya dua hari usai dikuburkan ayahnya.Te'ne kasihan pada ibunya yang begitu fanatik pada tradisi sehingga harus mengeluarkan banyak biaya untuk amalan tradisi yang tidak diajarkan Islam."Apa kau bilang,Te'ne ?,sejak kapan kau tersesat seperti itu ?,kalau bukan ajaran Islam mengapa iman desa dan masyarakat Islam lainnya melakukannya,liat di TV kyai-kyai saja melakukannya,jangan kau jadi anak durhana pada orang tua",ujar Daeng Baji pada Te'ne."Tapi,dimanaki mau ambil uang,Amma !",sambung Te'ne."Hei,Te'ne,waktu kau minta uang pada tettamu,tettamu tidak pernah bilang dimana mau ambil uang,mengapa kau ngomong begitu,ini siri',Nak, bagaimanapun caranya kita harus laksanakan,apa kata orang nanti bila tidak kita tidak lakukan,janganko banyak bicara,tettanu masih ada di rumah ini,nadengarki omonganta,tettamu hanya menginginkan keihlasanmu",jawab Daeng Baji.
Daeng Baji sangat fanatik pada tradisi,mereka sangat percaya bahwa selama 40 hari roh orang mati itu masih ada di rumah,makanya sejak Daeng Baso dikuburkan Daeng Baji selalu menyiapkan hidangan makanan untuk suaminya lalu memanggil Pak Imam untuk membacakan doa agar agar roh suaminya itu menikmati hidangan yang disiapkannya.Tapi lucunya,bukan roh ayahnya yang makan melainkan Pak iman sendiri bersama seorang tetangga sebelah.
Te'ne sudah menghitung-hitung sudah berapa biaya yang dikeluarga sejak kematian ayahnya. Bayangkan sebelum dikuburkan Te'ne harus menyiapkan tempat tidur beserta perlengkapannya seharga 2 juta, ditambah uang sedekah kepada orang yang ikut shalat jenazah sebesar 500.000.Dan bagaimana dengan pembeli kuda untuk acara ta'ziyat ?.
"Saya sudah dapat sapi,Amma, harganya 8 juta, jadi itu saja yang kami bagi empat",kata Nuri kakak tertua Te'ne yang ditugasi mencari sapi.Walau Nuri tergolong kaya,namun dia tidak mau menanggung seluruh biaya acara pattumatean ayahnya."Kita kan empat bersaudara,harus sama-sama berbakti kepada orang tua,supaya adilnya maka kita bagi empat",ujar Nuri saat rapat pembahasan rencana "attumate".
Tujuh hari kematian ayahnya,Te'ne dan kelaurganya serta tetangga-tetangganya sibuk mempersiapkan acara terpenting dalam kehidupan manusia,yaitu acara selamatan untuk orang yang telah mati,sampai shalatpun mereka lalaikan.Beberapa malam sebelumnya rumah diramaikan oleh acara membaca Al Quran beramai-ramai,lalu mendengarkan pembacaan Kitab" Jabadul Akhira"t kemudian acara Tahlilan dan mempersembahkan sesajen buat ayahnya yang tercinta.Undangan ta'ziatpun telah beredar.Satu persatu undangan telah berdatangan menikmati masakan dengan berbagai rasa,tidak lebih dari makanan pesta perkawinan,ada kuenya,ada es buah dan sebagainya.
Malam dilakukan puncak acara yaitu ta'ziat.Ustaz yang terkenal telah hadir di tengah-tengah undangan yang sedang menikmati jamuan makan malam.Usai acara makan malam,acara ta'ziatpun dimulai,yang diawali dengan pembacaan Al Quran,sepatah kata dari keluarga almarhum dan masuk acara inti,yaitu tauziah oleh ustaz.Beberapa undangan tertawa terpingkal-pingkal karena penceramah membawakah tauziyah yang lucu-lucu seakan-akan lupa bahwa itu acara kematian.Tapi itu tidak jadi masalah yang penting hadirian puas dan amploppun lancar,karena bayar uztas yang lucu itu agak tinggi dibanding dengan ustaz yang bikin ngantuk.
Usai acara para undanganpun kembali ke rumahnya masing-masing setelah mengucapkan terima kasih dan bersalaman dengan ustaz yang masih duduk menunggu amplop.
Setelah seluruh undangan pulang,maka kotak undanganpun dibuka lalu dihitung.Ternyata isi undangan seluruhnya adalah 5 juta,ya lumayan.Tetapi ada sesuatu yang harus ditutupi oleh Te'ne,yaitu utangnya sapi untuknya 2 juta, bumbu-bumbu dan sebagainya di kios tetangga 1 juta belum dibayar, ayam dan ikan yang seluruhnya  juta juga belum dibayar.Uang lemari juga ternyata belum dibayar,kambing yang disembeli saat pemakaman 1,5 juta juga belum dibayar,dan lain yang membuat Te'ne harus menyiapkan uang sebanyak 8 juta,dan bagaimana lagi biaya untuk 4 harinya,100 harinya dan 1 tahunnya ?.
"Sabar Nak,kalau tidak ada lagi uangmu,maka gadaikan saja dulu sawah kita,daripada ketahuan orang bahwa banyak utang kita,kan malu",kata Daeng Baji pada Te'ne yang kelihatan bingun memikirkan utangnya."Kalau sawah yang satu-satunya itu kita gadaikan,Amma maka kita akan makan apa , sedangkan beras yang dibawa tetangga-tetangga itu sudah harus dijual untuk menutupi utang ?".Balas Te'ne.Ini siri' Nak Te'ne,biarlah harta kita habis yang penting siri' tetap dipertahankan,apa kata orang bila ayahmu mati tanpa kita acarakan,orang akan bilang bahwa kita tidak punya siri',tidak punya rasa malu,tidak berbakti kepada suami atau orang tua".Balas Daeng Baji sambil merangkul anak bungsunya.Ya sudah,sudahlah.Kata Te'ne lalu berdiri menuju ke kamarnya."Nasib orang miskin di kampung bid'ah",ujarnya sambil membuang tubuhnya di kasurnya lalu menutup mukanya dengan bantal.
"Sabar Nak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar