Kamis, 30 April 2015

1. KEBENARAN DALAM ISLAM




Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu maka janganlah sekali-kali kamu               termasuk orang yang ragu (QS. Al Baqarah:147 )

A.    Latar belakang
               Sebagian besar umat Islam bila ada anggota keluarganya yang mati mereka mengadakan acara khusus untuk keselamatan mereka pada kehidupan alam berikutnya. Acara selamatan itu, yang oleh masyarakat Islam Makassar diberinya nama “attumate” yang dilakukan setelah penguburan jenazah dan pada waktu-waktu tertentu seperti hari ke-7,ke-20,ke-40,ke-100 atau satu tahun kematian anggota keluarganya.
Sebagian besar masyarakat Islam telah menganggap tradisi ini sebagai bagian amalan penting (menyerupai ibadah) yang harus dilaksanakan sehingga sekalipun mereka tidak memiliki biaya,tradisi ini tetap dilaksanakan dengan cara mengutang atau menjual tanah demi nama baik mereka di mata masyarakat.Orang yang tidak melakukan tradisi ini akan dianggap aneh/asing oleh masyarakat dan dicap sebagai orang sesat atau yang tidak berbakti kepada orang tuanya atau tidak kasihan terhadap keluarganya yang telah mati atau orang yang tidak memiliki “siri’ na pace” (rasa malu dan belas kasih) terhadap nasib keluarganya di alam kubur atau berbagai cemohan lainnya.
           Sedangkan sebahagian kecil umat Islam lainnya tidak mau mengadakan acara “attumate” tersebut. Ulama-ulama pun berbeda pendapat, ada yang membolehkan bahkan memimpinnya dan ada yang melarang dan  mendakwakan untuk meninggalkannya.
           Sesama ulama atau umat Islam berbeda pendapat tentu akan menimbulkan kebingungan umat Islam  lainnya,bukankah ulama itu selalu menjadi panutan umat ? dan  mungkin kita pun bingung tentang mana yang benar dan mana yang salah,mana yang sesuai syariat dan mana yang bertentangan dengan syariat,yang satu dengan yang lainnya saling mencela,menyalahkan dan menganggap dirinyalah yang dianggap benar bahkan mereka membenci golongan lain yang berbeda paham dengannya.Islam hanya mengenal satu kebenaran, dan kebenaran itu hanya datang dari Allah.Allah berfirman:”Maka tidak ada sesudah kebenaran itu,melainkan kesesatan” (QS.Yunus:32).
 Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.(Qs.Al Baqarah:147).
Allah melarang  kita mencampuradukkan antara yang benar dengan yang  salah  dan tidak boleh menyembunyikan yang benar untuk melakukan yang salah,

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan
 Janganlah  kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.
(QS.Al Baqarah:42).
           Allah dalam Al Quran telah menyampaikan bahwa manusia itu hidup di muka bumi ini telah dibuatkan syariat (peraturan) dalam urusan agama,
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”(Qs. Al Jatsiyah :18).
           Allah dalam Al Quran,telah memperingatkan agar kita jangan melakukan apa-apa yang kita tidak miliki  pengetahuan atasnya.Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintakan pertanggung jawabannya (Qs.Al Isra:36). Allah mengingatkan  bahwa jika kita mengikuti  amalan-amalan kebanyakan manusia di muka bumi ini tanpa melihat  kebenarannya,niscaya kita akan tersesat dari jalan Allah, karena kebanyakan manusia hanya mengikuti persangkaan belaka (Qs.Al An’am,116).
           Rasulullah SAW mewasiatkan kepada umatnya agar Ikutilah sunnahku dan sunnah sahabat-sahabatku yang telah mendapat petunjuk dan jauhilah perkara baru yang diada-adakan,karena segala perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat (HR. Ahmad,Abu Dawud,Ibnu Majah dan Tirmidzi).Dan Pada hadis Lain Rasulullah SAW bersabda: ”Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah,dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW.Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan,dan setiap bid’ah itu sesat” (HR.Muslim).
 Al Quran sebagai sumber kebenaran

           Berbedanya pendapat  para Ulama atau banyaknya Umat Islam yang melakukan acara”Attumate”apakah kita akan mengambil sikap”mengikuti saja (taglid) para orang banyak sekalipun mereka itu belum tentu benar atau akan menyesatkan kita? (Qs.Al An’am:116). Pergunakanlah akal yang  anugrahkan  Allah kepadamu dan ingat seruan Allah bila menghadapi perbedaan pendapat,
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisaa:59).
Ingat,Allah akan murka kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

B.    Ukuran Kebenaran Dan Kebatilan.
            Allah menurunkann Al Qur’an sebagai rahmat,petunjuk dan pelajaran bagi manusia. Al Quran berisi kebenaran dan memerintahkan manusia untuk berjalan di atas kebenaran dan menjauhi kebatilan.Kebenaran akan membawa manusia kepada kebahagiaan dan kebatilan akan membawa manusia kepada kesengsaraan hidup.Seorang manusia tidak akan bingung atau terombang ambing bila memegang prinsip dalam beragama Islam dalam melihat kebenaran,antara lain:
1.      Kebenaran adalah ajaran (kepercayaan dan amalan) yang sesuai dengan Al Qur’an dan sunnah Rasul. Ajaran yang bertentangan dengan Al Qur’an dan sunnah adalah kebatilan/kesesatan.”Maka tidak ada sesudah kebenaran itu,melainkan kesesatan.” (QS. Yunus:32).
2.      Tidak ada ibadah kecuali yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Amalan yang menyerupai ibadah yang tidak disyariyatkan  hanyalah sebuah kebatilan atau kesesatan.
3.      Islam telah sempurna (QS.Al Maaidah:3).Semua hal atau perkara telah diatur di dalam Al Quran (QS. Al An Aam:38). Semua bentuk amalan kebaikan yang bernilai ibadah-yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka-telah diajarkan oleh Rasulullah SAW.Amalan baru yang disangka bernilai ibadah tetapi tidak memiliki dalil syarii untuk melakukannya adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat (HR.Muslim,Ahmad,Abu Dawud,Ibnu Majah dan Tarmidzi).
4.      Tidak ada kewajiban bagi manusia yang tidak sanggup melakukannya.Janganlah memaksakan diri untuk melakukan suatu ibadah yang tidak sanggup dilakukan. Islam menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan atau sesuatu yang memberatkan.
5.      Tata Urutan Sumber hukum/landasan kebenaran bagi penulis adalah:
a.      Al Quran
b.      Hadis Rasulullah SAW yang sejalan/sesuai atau yang tidak bertentangan dengan Al Quran (Sunnah Rasul).
c.       Sunnah atau pendapat para sahabat Rasulullah SAW yang sejalan/sesuai atau yang tidak bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah Rasul.
d.      Kesepakatan,hasil musyawarah atau pendapat ulama yang sejalan/sesuai atau yang tidak bertentangan dengan Al Quran,Sunnah Rasul dan Sunnah Sahabat Rasul yang mendapat petunjuk.
e.      Kias yang sesuai atau tidak bertentangan dengan Sunnah Rasul atau sunnah sahabat yang mendapat petunjuk.
f.   Akal pikiran yang sesuai dengan Al Quran dan Sunnah Rasul
g.       Tradisi masyarakat dalam hal kemudahan/fasilitas pelaksanaan suatu ibadah yang tidak bertentangan atau tidak dalil yang melarang,dalam Al Quran,sunnah Rasul dan sunnah sahabat rasul yang mendapat petunjuk.
Untuk menentukan suatu amalan yang dianggap ibadah, yaitu yang di dalamnya terkandung suatu harapan (pahala) dan rasa takut (dosa atau kesusahan), maka kita kembalikan kepada solusi yang di berikan Allah, yaitu kembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasul (QS.An Nisaa:59):
a.      Suatu pendapat /ajaran atau kias dikatakan benar bila pendapat/ajaran itu sesuai dengan Al Qur’an dan hadist.Dan bila bertentangan, maka pendapat/ajaran itu salah/sesat dan menyesatkan
b.      Sunnah Rasul/Hadis adalah penjelasan atau keterangan-keterangan untuk Al Qu’an. Tidaklah mungkin Hadis bertentangan dengan Al Qur’an.Hadis yang bertentangan dengan Al Qur’an tidak bisa dijadikan dasar untuk melaksanakan suatu amalan,bila amalan itu  tidak pernah diperintahkan atau dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Amalan yang diada-adakan diharamkan oleh Allah (Qs Al A’raf:33) dan Rasulullah SAW menyatakannya sebagai amalan yang di tolak atau sesat.
”Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada atasnya perintah kami maka tertolak”.(HR.Bukhari-Muslim).
“Jauhilah perkara baru yang diada-adakan (dalam agama),karena segala perkara baru yang di ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”(HR.Abu Dawud,Inbu Majah dan Tirmidzi).
Suatu amalan dapat dikatakan sebagai amalan ibadah bila amalan itu disyariatkan oleh Allah dan Rasul dan ada tuntunan pelaksanaannya dari Rasulullah SAW.Suatu amalan ibadah dapat diterima bilamana memenuhi dua syarat,yaitu:
1.      Dilaksanakan dengan ikhlas kepada Allah semata,artinya amalan itu dilakukan semata-mata tertuju kepada Allah,antara lain sebagai wujud ketaatan melaksanakan perintahnya,sebagai ungkapan rasa syukur atau cinta kepada Allah,karena mengharapkan rahmat dan atau karena takut pada murka-Nya. Ibadah tidak boleh tertuju kepada makhluk Allah,baik karena mengharap pujian, kepercayaan dari manusia, atau untuk memperoleh manfaat keduniaan.
2.      Dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW sebagai suri teladan dalam menjalankan Agama Islam,artinya ibadah yang kita lakukan benar-benar sesuai dengan cara yang diajarkan atau yang dicontohkan oleh Rassulullah SAW, baik bacaan,gerakan, maupun tempat pelaksanaannya.
Berdasarkan kedua persyaratan tersebut di atas,maka:
a.      Suatu amalan sekalipun termasuk amalan ibadah yang dilakukan dengan ikhlas namun pelaksanaannya tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW maka amalan tersebut tertolak,misalnya ikhlas berdoa,tetapi berdoanya memakai persyaratan perdupaan atau sesajen atau dilakukan di kuburan keramat maka doanya tentu tertolak karena persyaratan/medianya atau tempatnya  itu adalah bid’ah.
b.      Suatu ibadah yang dilakukan sesuai tuntunan Rasulullah SAW namun tidak ikhlas atau mengharap sesuatu dari orang lain baik pengakuan,pujian atau penghargaan dari orang lain maka tertolak,misalnya seseorang melaksanakan ibdah haji sesuai tuntunan Rasulullah SAW, tetapi niatnya untuk memperoleh gelar haji, agar masyarakat memuji atau menghargainya.
c.       Suatu amalan yang dilaksanakan dengan ikhlas tetapi tidak masuk amalan yang disyariatkan maka tertolak karena termasuk amalan yang dibuat-buat (bid’ah).
 Muhammad SAW adalah teladah umat dalam menjalankan agama

C.     Amalan Utama Harus Sesuai Tuntunan Syariat
Sebagian besar masyarakat Islam memandang sesat orang-orang yang membid’akan tradisi attumate karena dianggap telah melarang melakukan beberapa amalan utama dalam Islam,seperti membaca Al Quran,berzikir,bersedekah,dan menjamu tamu dengan makanan.Dan dikatakannya bahwa justru yang melarang itulah yang sesat,padahal mereka hanya melihat isi tradisi tanpa melihat kemasan (amalan pokok) dan tujuannya. Kemasan atau amalan pokoknya adalah amalan attumate (amalan khusus untuk orang yang telah mati) sedangkan tujuannya adalah untuk keselamatan orang telah mati.Keduanya bertentangan dengan syariat yang diajarkan Rasululah SAW.
Begitupun halnya dalam tradisi attumate,yang di dalamnya berisi amalan-amalan ibadah yang utama,seperti:
1.      Bersedekah sebagai ibadah yang sangat dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya,tetapi adakah Rasulullah mengajarkan kita untuk sibuk menyiapkan benda-benda yang akan disedekahkan kepada imam pengurus jenazah dan untuk orang-orang yang meshalati jenazah padahal mereka yang ditinggalkan sedang dalam kesusahan karena musibah kematian anggota keluarganya ?
2.      Membaca Al Quran termasuk amalan yang utama,tetapi adakah Rasulullah mengajarkan kepada umatnya untuk mengundang warga berkumpul-kumpul di rumah kelurga yang kematian untuk membaca Al Quran ?.Adakah Rasulullh mengajarkan membaca Al Quran lalu pahalanya dikirim kepada orang yang telah mati ?.
3.      Bertahlil atau berzikir dengan kalimat “Laa ilaaha illallah” adalah amalan yang sangat utama, tetapi adakah Rasulullah mengajar kita untuk mengundang atau berkumpul di rumah orang yang kematian keluarganya untuk berzikir yang pahalanya dihadiakan kepada orang telah mati ?.
4.      Memuliakan tamu dengan memberi jamuan makan adalah amalan yang utama,tetapi adakah Rasulullah SAW mengajar bahwa bila salah seorang keluargamu mati maka buatlah makanan dan kue yang banyak (kalau tidak ada biaya maka mengutanglah atau juallah tanahmu) lalu undanganlah seluruh kerabat,tetangga dan kenalan ke rumah untuk makan bersama pada hari ke-7 atau ke-20 atau ke-40 atau ke-100 kematiannya.
Suatu amalan akan mengandung keutamaan bila dilaksanakan sesuai tuntunan syariat.Bilamana kita hanya memandang amalannya tanpa memandang tuntunannya, maka apapun amalan bisa menjadi amalan yang utama sekalipun dibungkus dengan maksiat,sebagai contoh membangun masjid adalah amalah yang utama,tetapi bagaimana bila uang pembangunan masjid kita peroleh dengan cara korupsi ?. Menyantuni fakir miskin dan anak yatim piatu adaah amalan yang utama,tetapi bagaimana bila uangnya diperoleh dengan cara berjudi ?.Bagaimana pua bila membaca Al Quran atau berzikir dilakukan di dalam amalan yang tidak disyariatkan (attumate), apakah itu tidak termasuk kezaliman sedangkan masih banyak syariat lainnya yang diperintahkan Allah tidak kita kerjakan ?.
Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang
 tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang
 yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik (QS.A Baqarah:59).

D.    Dasar Dan Tujuan Penulisan
           Ada beberapa pasal dalam Al Qur’an dan Hadis yang menjadi dasar bagi penulis untuk mengangkat tradisi ini sebagai bahan kajian, antara lain :
1.      Seruan Allah untuk berdakwah
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS.Ali Imran:104)
2.      Seruan Allah agar kita menjalankan Agama Islam dengan benar dan hanya mengikuti syariat yang diturunkan-nya
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al Bayyinah : 5)
“Kami telah menjadikan kamu berada di atas syariat maka ikutilah syariat itu dan janganlah mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui     (QS. Al Jatsiyah : 18)
“ Bagi tiap-tiap umat telah kami tentukan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) itu (QS. Al Hajj : 67).
3.      Pernyataan Allah dan Rasul-Nya bahwa Islam ini telah sempurna,
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.”(QS. Al Maaidah:3).
“Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (H.R Ath Thabrani)
4.      Larangan Allah untuk mencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil,
”Janganlah kamu mencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu menyembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui              (QS. Al Baqarah : 42)
“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang tidak ada pengetahuanmu atasnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggung jawaban” (QS. Al Israa : 36).
5.      Pernyataan Allah bahwa melakukan amalan yang hanya ikut-ikutan pada amalan orang banyak (manusia) adalah kerugian.
“Jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah” (QS. Al An’aam : 116).
“ Sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu,      niscaya kalau begitu, kamu benar-benar (menjadi) orang yang merugi “                           (QS. Al Mukminuum : 34)
6.      Ancaman Allah atas orang-orang yang mengambil ajaran di luar syariat Islam:
“Barang siapa yang berpaling dari Al Quran maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari kiamat “ (QS. Thaaha : 100).
“Adapun orang-orang yang menyimpan dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka jahannam” (QS. Al Jin : 15).
“Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan” (Qs. Al Imran 24 )
“Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkannya), maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya” (QS. Az Zukhruf :36).
7.      Pernyataan Rasulullah bahwa segala amalan (dalam agama) yang tidak disyariatkan dalam Al Quran atau Sunnah Rasul adalah tertolak atau sesat.
“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada atasnya syariat kami maka tertolak (HR. Bukhari dan Muslim).
“Jauhilah perkara baru yang diada-adakan, karena segala perkara baru yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. (HR.Ahmad, Abu Dawud,Ibnu Majah dan Tirmidzi).
            Berdasarkan ayat-ayat di atas, maka tujuan penulis mengkaji masalah tradisi attumae ini adalah :
1.      Untuk berbagi pengetahuan atau pemahamani syariat Islam dan hukum-hukum dari ritual attumate.,sehingga bisa dibedakan antara amalan sunnah atau amalan bid’ah.
2.      Untuk memberi jawaban atas pertanyaan mengapa umat Islam daam masalah tradisi attumate,sebagian besar melaksanakannya,sehingga kita bisa menentukan sikap memilih jalan yang mana yang  akan kita ikuti apakah ikut pada kebayakan manusia yang melaksanakan tradisi attumate atau ikut pada sebagian kecil yang meninggalkan tradisi tersebut.
3.      Untuk memberikan pemahaman bahwa segala keprcayaan yang bersifat gaib dan amalan yang dianggap ibadah harus mengandung kebenaran dan kebenaran dalam Islam adalah kepercayaan dan amalan yang memiliki dasar syariat di dalam Al Quran dan Sunnah Rasul. Kepercayaan dan amalan yang tidak memiiki dasar syariat dalam Al Quran Sunnah Rasul adalah batil.
4.      Agar kita sebagai umat Islam hanya terikat pada syariat Allah dan Rasul-Nya dan tidak terikat pada ajaran-ajaran manusia yang seperti kita sendiri. Jangan hanya melihat pada banyak orang yang melakukan tetapi lihatlah dalilnya pada Al Quran dan Sunnah Rasul.

KATA PENGANTAR 'TRADISI ATTUMATE DALAM TINJAUAN SUNNAH'


Allah SWT telah menciptakan surga dan neraka sebagai tempat untuk membalas amal perbuatan manusia dan jin.Surga yang penuh dengan kenikmatan diperuntukkan bagi hamba yang diramhati-Nya dan neraka yang penuh dengan kesengsaraan diperuntukkan bagi manusia yang meninggalkan dunia dalam keadaan durhaka.Allah telah mengilhamkan dua jalan kepada jiwa manusia,yaitu jalan kefasikan dan jalan ketakwaan.Bagi orang yang menempuh jalan kefasikan maka akhir perjalannya adalah neraka dan kepada yang menempuh jalan ketakwaan maka akhir perjalannya adalah surga.Allah membekali masing-masing manusia dengan hati dan akal pikiran untuk menentukan jalan mana yang hendak dilaluinya.Maka beruntunglah orang-orang yang menggunakan hati dan akalnya dalam menjalankan agama Allah dan merugilah orang-orang yang tidak menggunakan hati dan akalnya dalam menjalankan agama Allah yaitu Islam.
Kita semua tentu tidak mau rugi dalam hidup ini,melainkan menginginkan keberuntungan hidup di dunia dan di akhirat. Allah pun mendorong kita untuk berjuang mengejar kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia.Agar perjuangan hidup kita bisa tercapai maka Allah menurunkan syariat (peraturan hidup) bagi manusia yang berisi kebenaran,yaitu kebenaran sejati yang tidak bisa diragukan. Kebenaran tersebut telah sempurna mengatur segala aspek kehidupan manusia yang bisa mengantar kita kepada jalan ketakwaan dan menjauhkan kita dari jalan kefasikan.Kebenaran yang yang terangkum dalam Agama Islam tersebut tidak perlu lagi ditambah-tambah dengan syariat apapun dari selain Allah,apalagi dicampuradukkan dengan kebatilan.
Kita hidup dalam masyarakat yang majemuk,yang bukan saja berbeda suku dan ras,melainkan berbeda keyakinan beragama.Sesama Islam pun kadang kita berbeda pendapat/paham dan kita hidup dalam berbagai golongan sampai umat Islampun terpecah belah menjadi beberapa golongan yang masing-masing golongan menganggap dirinya paling benar,padahal kebenaran itu hanya satu.Diantara kita ada yang berdalih bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat padahal itu adalah pendapat yang keliru.Bagaimana mungkin perbedaan pendapat itu dikatakan sebagai rahmat sedangkan Allah sendiri melarang kita berpecah belah dalam agama,Allah menyuruh kita bersatu berpegang teguh dalam agama Islam,sehingga setiap kali kita berbeda pendapat dengan sesama maka Allah memberikan solusi yaitu kembalikan perbedaan itu kepada Allah (Al Quran) dan rasul/hadis (QS.An Nisaa:59).
Rasulullah SAW telah meyatakan kepada para sahabat bahwa kelak umat Islam akan berselisih paham,dan Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabat yang seandainya mendapati zaman perselisihan pendapat itu dalam urusan agama Islam maka “berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah sahabatku yang diberi petunjuk,dan jauhilah perkara baru yang diada-adakan,karena setiap perkara baru adalah bi’dah dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR.Abu Daud,Ibnu Majah dan Ad Darimi).Dalam hadis lain Rasulullah SAW mengatakan bahwa kelak umatku akan terbagi menjadi 73 golongan,72 golongan akan masuk neraka dan 1 golongan akan masuk surga.Siapa yang satu golongan itu ?,Tanya seorang sahabat.Rsulullah menjawab bahwa yang 1 itu adalah pengikut sunnahku,atau oleh para ulama mengistilahkannya sebagai golongan ahlusunnah wal jamaah.
Di dalam masyarakat Islam di tanah air ini,kadang kita hidup bersama dengan sesama umat Islam tetapi berbeda keyakinan beragama,berbeda pendapat atau berbeda amalan dan semuanya mengaku ahlusunnah waljamaah,yaitu golongan pengikut sunnah,tetapi dalam prakteknya terkadang amalan tersebut tidak ditemukan dasar syariatnya dalam sunnah (Al Quran dan hadis).
Islam ini dibangun di atas sunnah maka untuk menentukan siapa sebenarnya ahlusunnah dan siapa yang ingkar sunnah (ahlu bid’ah) maka kita kembalikan kepada sunnah (Al Quran dan Hadis).Siapa yang keyakinan dan pelaksnaan agamanya sesuai sunnah maka itulah ahlusunnah dan siapa yang melebihi dari sunnah maka itulah ahlu bid’ah.Nah,supaya anak-anakku ataupun saudara-saudara pencinta sunnah bisa membedakan antara keyakinan dan amalan yang sesuai sunnah dan yang melanggar sunnah maka penulis mempersebahkan sebuah tulisan tentang “Tradisi Attumate dalam Tinjauan Syariat”.
Penulis terdorong mengungkap masalah Tradisi Attumate ini karena dalam masyarakat tempat tinggal kita tradisi ini amat populer dan mendapat tempat istimewa di hati umat Islam,diataranya mereka percaya bahwa “attumate” adalah bagian dari amalan ibadah dalam Islam,karena banyaknya umat Islam yang melakukannya dan umumnya dipimpin oleh imam atau tokoh-tokoh agama dalam masyarakat.Namun sebagaian kecil masyarakat lain tidak mau melakukan amalan tersebut karena diyakini bukan syariat Islam atau sebagai amalan bid’ah yang harus dijauhi.Apakah karena banyak umat yang melakukan ritual “attumate” sehingga kita katakan bahwa golongan yang banyak itu benar,sedangkan golongan kecil yang tidak mau melakukan ritual tersebut kita anggap sebagai kelompok yang salah atau sesat,padahal Allah telah mengingatkan bahwa “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)(QS.Al An Aam:116). Begitupun dalam QS Al Mukminuun:34,Allah menyatakan: “Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi”.Kalau demikian siapa yang harus dikuti atau ditaati,jawabnya adalah “taati Allah dan Rasul agar kamu mendapat rahmat”,bagaimana cara mentaati Allah dan Rasul,yaitu masuklah ke dalam Islam secara keseluruhannya dan jangan mengikuti langkah-langkah setan ,dengan meyakini dan melaksanakan syariat yang diturunkan Allah melalui Al Quran dan sunnah rasul dan tinggalkanlah syariat-syariat lainnya.
Alasan yang kedua sehingga penulis mengungkap masalah ini karena kurangnya ulama atau pemimpin umat yang bersedia menjelaskan kepada umat bagaimana sesungguhnya tradisi ini ditinjau dari akidah dan syariat Islam, serta kurangnya atau bahkan tidak adanya buku-buku atau tilisan-tulisan yang mengupas tuntas tradisi attumate ini,sehingga dengan adanya tulisan ini masyarakat dapat memperoleh informasi tentang tradisi attumate untuk menjadi pertimbangan apakah amalan tradisi attumate ini layak diteruskan atau lebih baik ditinggalkan.Adapun tujuan penulis mengupas tradisi ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada generasi Islam dan saudara-saudara yang memiliki komitmen menegakkan sunnah,berjemaah di atas kebenaran.
Kebenaran janganlah dilihat pada banyaknya orang yang melakukannya dan dari popularitas orang yang mengatakannya,melainkan lihatlah pada sumber kebenaran (Al Quran dan Sunnah Rasul).Apakah anda akan ragu karena merasa sendikit dan dianggap asing oleh  masyarakat atau mendengar ucapan-ucapan yang berupa celaan atau cemohan karena tidak mengikuti golongan mereka untuk melakukan tradisi “attumate” atau  tradisi lainnya ?.Janganlah bersedih.Janganlah ragu.”Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik” (QS.Al Muzammil:10).Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa “Islam awalnya asing dan akhirnya akan kembali dianggap asing,maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing” (HR.Muslim).Tetaplah berjalan di atas sunnah sekalipun terasa penuh dengan duri.Jalanilah kebenaran Islam sekalipun terasa pahit,yakinlah bahwa senantiasa bersama dengan orang-orang yang bersabar dalam kebenaran.Allah adalah sebaik-baik penolong dan pelindung orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.Akhirnya,kepada Allahlah penulis berharap semoga tulisan yang sederhana ini dapat memberi manfaat bagi umat Islam terutama bagi diri dan keluarga penulis.Amin.

                                                                                                         Palajau, 30 April 2015