Kamis, 02 Juli 2015

18. BERBAGAI KEPERCAYAAN MASYARAKAT TENTANG KEMATIAN



            Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur segala aspek kehidupan manusia baik untuk kehidupan dunia maupun untuk kehidupan akhirat.Islam telah dinyatakan sempurna oleh Tuhan yang menurunkan-N,ya(Q.S Al Maidah:3).Oleh karena itu umat Islam sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW,tidak dibolehkan mengambil ajaran lain ,bid’ah atau mengadakan berupa kepercayaan maupun ibadah atau mengada-adakan suatu amalan baru dan mengatasnamakannya sebagai amalan Islam.
            Rasulullah SAW pun telah menyatakan bahwa ajaran Islam telah sempurna, tidak ada satu pun yang telah tertinggal yang dapat mendekatkan kita kepada surga atau menjauhkan kita pada neraka semuanya telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menyatakan bahwa “barang siapa yang mengada-adakan suatu perkara yang baru dalam urusan agama maka tertolak”(H.R Bukhari dan Muslim). Rasulullah SAW berpesan agar kita menjauhi perkara baru (dalam agama) yang diada-adakan,karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat (H.R Abu daud,Ad Darimi dan Tirmidzi)
            Dalam masyarakat di lingkungan kita yang beragama Islam kadang kita dapati suatu kepercayaan dan amalan-amalan yang tidak didapati keterangannya dalam Al Quran dan sunnah Rasul,melainkan bersumber dari kebiasaan orang tua yang berlangsung secara turun temurun (tradisianal),baik yang berdiri sendiri maupun yang dipadukan dengan ibadah sunnah. Padahal Allah melarang kita,
 “Janganlah mencampuradukkan antara yang haq dengan yang batil dan janganlah menyembunyikan yang haq itu sedang kamu mengetahuinya” (Q.S Al Baqarah:42)
            Agar kita tidak terlibat dalam kesesatan,secara terbuka melakukan dosa dan pelanggaran,maka penulis mencoba mengemukakan berbagai kepercayaan yang berkembang dalam masyarakat yang pada tulisan ini-tentang kematian.

A.    Kepercayaan-kepercayaan yang berhubungan dengan kematian

Berbagai kepercayaan yang berkembang secara tradisi dalam masyarakat Islam sehubungan dengan kematian yang perlu kita lihat kebenarannya,antara lain:
1.      Roh gentayangan atau berkeliaran
Berbagai kepercayaan masyarakat tentang roh orang yang telah mati,  di antaranya :
a.       Roh gentayangan,yaitu roh yang diyakini tidak/ belum mempunyai tempat yang tetap di alam kubur. Roh gentayangan ini lahir berbagai istilah,di antaranya arwah penasaran, pocong,hantu,sundel bolong,kuntilanak,dan lain-lain. Roh gentayangan ini diyakini masih berkeliaran di muka bumi dan menganggu orang-orang masih hidup,terutama yang terkait dengan sebab-sebab kematianya.
b.      Roh berkeliaran,yaitu ada dua:
1).Roh yang memiliki tempat di alam kubur,melainkan masih berkeliaran di rumahnya selama 40 hari atau masih berkeliaran di kuburannya selama setahun.
2).Roh yang diyakini sudah memiliki tempat dialam kubur,namun pada waktu-waktu tertentu berkeliaran di muka bumi atau menemui keluarganya,seperti memasuki bulan puasa,pada hari lebaran,dan sebagainya.
c.       Roh kembali ke dunia,yaitu roh yang diyakini memperoleh izin dari Allah (karena ketinggian ilmu tariqatnya)untuk menjalani kembali kehidupan dunia ditempat atau pada tubuh yang lain (reinkarnasi dalam istilah Hindu).
                        Kepercayaan terhadap roh gentayangan melahirkan ritual mengusir roh jahat,sedangkan kepercayaan kepada roh berkeliaran melahirkan ritual “assuro ammaca”dan kepercayaan kepada kehidupan kembali (reingkarnasi) mendorong manusia menuntut ilmu tariqat. Apakah semua itu benar menurut tinjauan Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW?
            Allah melalui Al Quran tidak mengajarkan adanya roh manusia yang sudah berada di dalam kubur (baik roh yang baik maupun roh yang jahat) bisa kembali berkeliaran di muka bumi ini baik mencelakai atau menolong manusia yang masih hidup. Tidak ada pula keterangan dalam Al Quran bahwa orang mati bisa masuk ke dalam tubuh manusia yang masih hidup (kesurupan).
            Allah dalam Q.S Al Mu’minum:99-100 memberitakan bahwa orang-orang yang telah dikuburkan mustahil bisa kembali kedunia,kecuali dibangkitkan setelah hari kiamat. Orang-orang kafir (roh jahat) terkurung dalam penjara alam kubur. Dan pada ayat lain (Q.S Ar Ruum:56), jadi tidak ada kekuasaan manusia (yang telah berada di alam kubur)untuk bisa kembali ke dunia ini .(Selanjutnya baca:15.Menelusuri Jejak Roh Gentayangan).
                       
2.     Jazad lenyap dikuburan dan hidup kembali ditempat lain

Dalam masyarakat Islam berkembang suatu kepercayaan bahwa seorang yang telah dikuburkan (mati) jazadnya bisa lenyap di dalam kubur dan bisa hidup kembali menjalani hidup seperti semula,tetapi tinggal di tempat atau pada tubuh yang lain.Sebagian umat Islam percaya (terutama pengikut suatu aliran terikat) karena di antara guru-gurunya ada yang mengaku telah beberapa kali mati atau telah dikuburkan,bahkan di antara umat Islam ada yang pernah mendengar atau pernah melihat seseorang yang telah dikuburkan menampatkan diri di tempat lain,setelah digali kuburannya ternyata jazad orang tersebut sudah tidak ada di dalam kubur.
Sebagian guru tariqat mengajarkan bahwa ibadah itu ada 2,yaitu ibadah lahir (syariat) dan ibadah batin (hakikat).Diajarkan pula bahwa ibadah batin (rahasia) itu diajarkan langsung oleh Allah kepada gurunya atau ajaran Allah kepada Rasulullah SAW tetapi dirahasiakan oleh Rasulullah SAW yang hanya diajarkan kepad sahabat-sahabat yang dekat padanya.
Di antara ilmu rahasia itu,adalah sembahyang batin yang hanya berupa suara batin yang hanya berupa suara dalam tubuh. Bagi siapa yang mendapatkan ilmu ini maka dia tidak perlu lagi melaksanakan sembahyang lahir (shalat lima waktu). Pemilik ilmu ini dijamin masuk surga, bebas pemeriksaan di dalam kubur dan bebas pemeriksaan di dalam kubur dan bebas                        ( diizinkan oleh Allah ) untuk hidup kembali di muka bumi seperti manusia lainya yang belum pernah mati. Bagi pemilik ilmu ini maka jazadnya dijamin lenyap di kuburan. Apakah Allah dan Rasul-Nya mengajarkan yang demikian ?.
Allah melalui Al Quran telah menyatakan Al Quran adalah kebenaran yang tidak bisa diragukan lagi,sebagai petunjuk bagi umat Islam,yaitu petunjuk bagi orang beriman kepada yang gaib (Q.S Al Baqarah:2) kematian dan alam kubur tredapat dalam Al Quran adalah bagian dari keagaiban. Oleh karena itu,informasi/keterangan yang benar tentang kematian dan alam kubur terdapat dalam Al Quran. Ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Al Quran adalah ajaran sesat yang berasal dari setan.(Q.S Zukruf:36).
Ajaran Islam adalah wahyu dari Allah yang diajarkan oleh Jibril kepada Muhammad SAW dan menjadi tugas Nabi/Rasul untuk menyampaikan kepada seluruh umat tanpa ada yang disimpan/dirahasiakan,sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada Rasulullah SAW “Wahai Rasul sampaikanlah apa yang diturunkan  kepada kepadamu,jika kamu tidak melakukanya,berarti kamu termasuk orang yang berkhianat”dan Rasulullah SAW tidak akan mungkin membuat –buat ajaran selain dari wahyu Allah yang diperintahkan untuk sebarkan seluruhnya.Allah telah menjamin bahwa Nabi tidak akan membuat suatu ajaran selain dari wahyu Allah yang diperintahkan untuk sebarkan seluruhnya.Allah telah menjamin bahwa Nabi Muhammad tidak akan membuat suatu ajaran selain wahyu Allah. Jika itu terjadi atas nama Allah,”niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya,kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya”(Q.S Al Haggah:45-46).
Rasulullah SAW sebagai suri tauladan bagi umat Islam (Q.S Al Ahzab:21) telah mengajarkan dan mencontohkan cara shalat yang benar dan telah bersabda”shalatnlah kamu sebagaimana engkau melihat aku shalat”(H.R Bukhari).Jadi shalat yang sah di sisi Alllah adalah shalat yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW ,yaitu berupa bacaan dan gerakan pada waktu yang telah ditentukan,tidak ada shalat yang hanya berupa membunyikan sesuatu dalam tubuh.
Islam tidak mengenal reinkarnasi,yaitu hidup kembali sebelum datangnya kiamat,yang ada adalah hidup kembali setelah kiamat,sebagaimana firman Allaah “Dialah yang menciptakanmu dari tanah,sesudah itu ditentukan ajal (kematianmu),dan ada lagi satu ajal yang ditentukan “(Q.S Al An’am:2),
”Sesungguhnya kiamat itu pasti datang ,tidak ada keraguan padanya,dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan kembali orang-orang didalam kubur” (Q.S Al Hajj:7)
Dan pada ayat lain diterangkan bahwa manusia hidup di alam kubur menurut ketetapan Allah sampai hari kebangkitan (Q.S Ar Rum:56). Reinkarnasi adalah ajaran kepercayaan orang-orang Hindu yang kita tidak boleh mengikutinya.
Jazad yang lenyap di kuburan dan hidup kembali di tempat lain adalah tipu daya setan untuk menyesatkan manusia agar menuntut atau mengamalkan ilmu/ajaran sesat. Lenyapnya jazad seseorang di kuburnya itu karena setan (jin) yang mencurinya sedangkan sosok yang nampak di tempat lain hanyalah penyamaran setan yang menyerupai orang yang telah mati. Sosok yang nampak itu hanyalah sebuah tipuan,buktinya:
a.       Orang yang (dianggap) hidup kembali itu hanya bisa dilihat sesaat dan tidak bisa ditemui lagi untuk kedua kalinya.
b.      Tempat tinggalnya tidak jelas
c.       Orang itu tidak bisa kembali ke kampungnya atau menemui keluarganya
d.      Orang itu hanya bisa dilihat dan tidak bisa disentuh,jadi itu hanya tipuan mata

3.      Kuburan keramat
              Sebagian besar umat Islam percaya dan selalu mendatangi kuburan orang-orang yang dianggap saleh untuk berdo’a meminta berkah atau keselamatan. Mereka percaya bahwa bila berdoa di kuburan keramat maka segala keinginan cepat terkabul.  Mereka percaya bahwa penghuni kuburan keramat itu adalah orang-orang yang dekat kepada Allah melalui mereka maka Allah akan mengabulkanya.
              Para pemuja kuburan keramat sangat percaya dan menghormati kuburan keramat itu,dengan membangun kuburan,melakukan ibadah di tempat itu,bernazar dan mempersembahkan sesajian ,berupa penyembelihan hewan dan berbagai macam makanan penghormatan kepada kuburan keramat akan mendatangkan keberuntungan,sebaliknya penghinaan atau melupakan kuburan keramat akan mendatangkan keburukan atau kesialan. Sudah begitu banyak orang yang sukses memperoleh pangkat/jabatan yang tinggi atau kekayaan yang melimpah karena selalu mendatangi kuburan kermat.
              Secara historis,pemujaan terhadap kuburan orang-orang saleh telah ada jauh belum lahirnya Nabi Muhammad SAW ,yaitu dimulai oleh generasi kelima Nabi Adam AS atau pada zaman Nabi Nuh as. Mereka membangun kuburan dan membuatkan patung di atasnya dengan maksud mengenang jasa-jasa orang-orang saleh itu dalam mengajarkan agama. Sepeninggal Rasulullah SAW,pemujaan terhadap kuburan cucu Raulullah SAW , Hasan dan Huzain yang terbunuh pada peristiwa Karbala. Namun,ketika berdiri dinasti Sa’ud di Mekah(gerakan wanabi),pemujaan seperti itu dilarang.
              Di Indonesia,pemujaan terhadap kuburan orang-orang saleh dilakukan pada kuburan para wali penyebar agama Islam. Pemujaan ini masih berlangsung sampai sekarang,pada hal kongres Islam I di Mekah pada tahun 1926 telah menolak amalan tersebut (yang diusulkan oleh ulama tradisional ) karena dianggap mengandung kesesatan dan kesyirikan. Benarkah keberadaan kuburan keramat itu,tentunya jawabannya ada pada AL Quran dan sunnah Rasul-Nya
              Dalam Al Quran ,Allah menyatakan  bahwa wali-wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa,tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak pula bersedih hati terhadap kehidupan akhirat (Q.S Yunus:62-63). Orang salehpun kalau telah mati tidak bisa lagi menolong atau membantu urusan orang yang masih hidup,baik dalam urusan rezki,jabatan atau kesembuhan. Justru orang yang masih hiduplah yang disyariatkan untuk memohonkan ampunan bagi saudara kita (seagama) yang telah mati (H.R Abu Daud). Bertolong menolong dalam kebajikan dan ketakwaan itu hanya disyariatkan bagi manusiayang masih hidup,bukan bagi manusia yang telah mati (Q.S Al Maidah:2)
              Berbagai kemungkaran yang terjadi dalam penghormatan terhadap kuburan orang-orang saleh (keramat),diantaranya:
a.       Membangun dan memperindah kuburan yang mirip dengan sebuah rumah,adalah perbuatan yang dilarang Rasulullah SAW
“Rasulullah SAW melarang mengkapuri (mewarnai) kubur dan mendudukinya dan membina atasnya “ (H.R Muslim)
“Rasulullah SAW melarang didirikan sesuatu di atas kuburan atau menambah di atasnya(H.R Nasai)
b.      Meyalakan obor atau lilin dan sejenisnya di atas kuburan adalah perbuatan yang dilaknat oleh Allah (H.R Abu Daud dan Nasai)
c.       Berzikir dan berdoa memohon berkah atau keselamatan di kuburan adalah perbuatan bid’ah yang sesat. Tempat berdoa adalah di mesjid atau di rumah setelah shalat (H.R Bukhari dan Muslim)
d.      Mempersembahkan sesajian kepada oarang yang telah mati adalah yang termasuk perbuatan sesat,karena makanan itu hanya diperuntukkan bagi orang yang masih hidup. Jadi termasuk perbuatan boros,sebagai perbuatan setan      (Q.S Al Israa:27)
e.       Menyembeli hewan dikuburan atau atas nama penghuni kuburan adalah termasuk perbuatan syirik,sehingga daging sembelihan seperti itu haram dimakan.                                (Q.S Al Maidah :3).
        Berdasrkan ayat-ayat di atas maka jelaslah bahwa sengaja mendatangi suatu kuburan untuk berdoa yang berhubungan dengan kepentingan dunia kita,adalah perbuatan sesat,yang disyariatkan adalah mendatangi kuburan keluarga atau kerabat untuk mendoakan keselamatannya dan untuk mengingatkan kita kepada kematian (H.R Tirmidzi)  dan untuk mengurangi kecintaan kepada dunia (H.R Ibnuh Majah).Jadi Islam tidak mengajarkan adanya kuburan keramat,itu hanya diada-adakan oleh orang-orang yang tidak memahami syariat.

4.     Makanan Dan Kendaraan Penghuni Dalam Kubur
       
             Sebagian besar di antara  kita yang beragama Islam percaya bahwa orang-orang yang telah dikuburkan masih menunggu kiriman makanan dunia dari keluarganya atau pada waktu-waktu mereka kembali ke rumah keluarganya meminta makanan (sedekah). Kepercayaan ini membuat sebahagian di antara kita melakukan ritual pengiriman makanan atau menjamu orang mati yang disebut ”assuro ammaca”. Dengan “assuro ammaca”maka kita akan merasa aman dari gangguan roh-roh keluarga yang telah mati dan termasuk tanda kecintaan terhadap keluarga kita di alam kubur.
             Mereka percaya pula bahwa kambing ataupun sapi/kerbau yang disembelih atas nama orang yang telah mati akan menjadi kendaraannya atau teman menuju negeri akhirat atau dari alam kubur kepadan Mahsyar. Orang mati yang tidak disembelihkan hewan aqiqah akan kesulitan menuju ke tempatnya di akhirat atau akan tersiksa berjalan kaki,atau akan memanggil saudaranya/keluarganya untuk menemaninya. Benarkah semua itu? ya benar kalau sesuai dangan Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.
             Beberapa ayat dalam Al Quran menyatakan bahwa hidup kita di kampung akhirat tergantung pada amal-amal yang kita akan bawa. Kita tidak akan memperoleh kebaikan kecuali kalau membawa kabaikan dan tidak akan memperoleh keburukan kecuali kalau mambawa keburukan.
Barangsiapa yang berbuat baik maka untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat buruk maka untuk keburukan dirinya sendiri”(Q.S Fushilat:46)
Dan tidak dibalas kamu,melainkan apa yang kamu kerjakan”(Q.S Al Israa:15,Yasiin:54,Fathir: 18)
sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan”(Q.S At Tahrim:7)
             Makanan dunia yang dihidangkan untuk orang mati ataupun yang dikirim kepadanya mustahil akan sampai atau dinikmati olehnya sebab terjadinya perbedaan materi. Makanan dunia dan makanan roh (akhirat) berbeda materinya. Halusnya makanan dunia bukan dinikmati oleh roh orang mati melainkan dinikmati oleh setan-setan dari bangsa jin berdasarkan keteragan Rasulullah SAW (H.R Muslim).
             Begitupun halnya penyembelihan hewan aqiqah untuk orang yang telah mati,adalah suatu kesalahpahaman. Penyembelihan hewan aqiqah hanya disyariatkan kepada orang tua terhadap anaknya yang baru lahir sebagai tebusan amanah dari Allah yang disembelih pada hari ketujuh kelahirannya (H.R Ahmad,Abu Daud,Tirmidzi),jadi tidak disyariatkan kepada orang hidup terhadap orang mati pada hari ketujuh kematiannya. Adapun kendaraan orang-orang mati dari alam dunia ke alam kubur itu disediakan oleh Allah melalui malaikat yang menjempunya (malaikat maut) sesuai dengan keadaan rohnya,sedangkan kendaraan dari alam kubur ke Padang Mahsyar disediakan oleh Allah sesuai dengan keadaan amalnya.
             Kepercayaan tentang orang mati menikmati makanan orang dunia atau hewan sembelihan sebagai kendaraan orang mati bertentangan dengan akidah Islam dan merupakan tipu daya setan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah ,yang benar adalah bahwa makanan dan hewan sembelihan hanya diperuntukkan bagi orang-orang dunia dan bilamana kita menyembelih hewan atas nama orang yang telah mati maka itu termasuk perbuatan yang melanggar syariat (Q.S Al Maidah:3) dan termasuk perbuatan boros sebagai perbuatan setan (Q.S Al Israa:27)

5.     Malam Pertama Didalam Kubur

             Kebanyakan di antara kita percaya bahwa roh orang mati mengalami pemeriksaan pada malam pertama di dalam kubur. Benarkah itu? Bisa saja benar dan bisa saja tidak. Allah melalui Al Quran menceritakan tentang kehidupan alam kubur sebagai masa menunggu datangnya hari kiamat/pembalasan (Q.S Al Mu’minuum:99-100,Al Hajj:7 atau Ar Ruum:56) sedangkan awal kehidupan manusia di alam kubur dijelaskan oleh Rasulullah SAW.
             Menurut keterangan Rasulullah SAW,bahwa bila roh telah keluar meninggalkan tubuh,roh itu langsung dipegang oleh Malaikat lalu diantar menuju ke langit menghadap Allah . Bila roh itu telah tercatat di langit sebagai calon penghuni surga ata calon penghuni neraka maka diperintahkan dikembalikan roh itu ke dunia dan bertemu kembali di dalam kubur(H.R Ahmad)
             Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda”Apabila seorang telah dibaringkan dikuburnya dan telah ditinggalkan oleh teman-temannya,maka sungguh dia mendengar langkah sandal mereka.Dia didatangi oleh dua malaikat,lalu keduanya mendudukkanya , kemudian ditanyakan kepadanya”(H.R Bukhari dan Muslim).
             Dalam hadis lain diceritakan bahwa Rasulullah apabila selesai manguburkan mayat,beliau berdiri dia pinggir kubur itu dan berkata”mintakkanlah ampunan bagi saudara kamu dan mintakkanlah ketetapan baginya karena ia sedang ditanya”(H.R Abu Daud)
             Berdasarkan keterangan keterangan hadis di atas jelaslah bahwa istilah malam pertama di dalam kubur tidak bisa dibuktikan kebenarannya,kecuali kalau orang yang mati itu dikuburkan pada malam hari. Yang benar adalah bahwa pemeriksaan kubur dilaksanakan setelah manusia itu selesai dikuburkan. Bila dikuburkan di siang hari maka pemeriksaan dilakukan di siang hari tanpa menuggu malam hari. Dan bukan hanya orang yang dikuburkan atau diperiksa, melainkan semua orang yang mati bila akan memasuki alam kubur maka terlebih dahulu menghadapi pos pemeriksaan.  Apa  isi pemeriksaan itu?
             Dalam sebuah hadis sahih diterangkan oleh Rasulullah SAW bahwa kedua malaikat mendudukkanya ( orang mati)lalu ditanya kepadanya”Menurut kamu siapa Muhammad itu?”kalau dia orang mukmin dia menjawab”Aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba Allah dan utusanya”(H.R Bukhari dan Muslim). Dan pada hadist lainya diterangkan bahwa “orang mukmin yang telah mati ditanya siapa Tuahnnmu?Dia menjawab ,Tuhanku adalah Allah dan Nabiku adalah muhammad SAW”(H.R Bukhari dan Muslim).
             Dan pada hadis lain diterangkan bahwa pertanyaan di dalam kubur adalah: “Dan ruh itu pun dikembalikan ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat yang mendudukannya dan bertanya kepadanya,’Siapa Tuhanmu?’ dia pun menjawab,’Tuhanku Allah.’ Keduanya bertanya lagi,’Apa agamamu?’ dia menjawab,’Agamaku Islam.’ Keduanya bertanya,’Siapa lelaki yang diutus kepada kalian ini?’ dia menjawab,’Dia adalah Rasulullah saw.’ Keduanya bertanya lagi,’Apa ilmumu?’ dia menjawab,’Aku membaca Al Qur’an, Kitab Allah, aku mengimaninya dan membenarkannya.’ (HR.Ahmad).
             Dan ada pula hadis, yang sebagian ulama mengatakan bahwa hadist itu lemah bahkan ada yang menganggap sebagai hadist palsu menerangkan tentang pertanyaan didalam kubur.
“Dari Dlambra Bin Hab seorang dari tabi’in,ia berkata; Apabila sudah dinyatakan kubur si manyat dan orang pun pulang dari padanya mereka berkata di sisi kuburnya;” Hai si Fulan.Katakanlah Tuhanku adalah Allah,Agamaku adalah islam,dan Nabiku adalah Muhammad”(HR.Said bin manshur),hadis inilah yang menjadi dasar dari sebagian besar umat islam untuk mentalgin orang yang telah dikuburkan.Padahal mentalgin orang yang telah dikuburkan tidak dianjurkan dan tidak pula dilakukan oleh Rasulullah SAW.Yang diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah mentalgin (mengajar) orang yang hampir mati mengucapkan “Laa Ilaahaillallah)” (HR.muslim).Seorang-orang yang telah dikuburkan hanyalah di do’akan:”mintakallah ampunan bagi saudara kamu dan mintakanlah ketetapan baginya karena ia seorang ditanya”(HR.Abu Dawud).
             Berdasarkan hadis di atas jelaslah bahwa pertayaan didalam kubur adalah yang berhubungan dengan  Agidah/imam.Dan bukan lagi waktunya untuk mengajar orang yang telah  mati/dikuburkan untuk mengucapkan “Laa Ilaahaillallah atau Muhammadan Rasulullah”.Kesempatan terakhir mengajar manusia saat-saat terakhir menjelang kematiannya.Allah mensyariatkan kepada kita untuk mengajari atau memberi peringatan kepada orang-orang masih hidup dan tidak kepada orang yang telah mati “berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat,orang yang takut kepada (Allah) akan mendapat pelajaran “ (Q.S.Al A’laa: 9-10).Mentalgin atau mengajari orang yang telah dikuburkan adalah perbuatan yang sia-sia karena “Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang yang mati mendengar” (Q.S.An Naval:80-81,Ar Ruum:52).
 
6.     Mati karena kecelakaan di malam hari

Sebagian umat Islam beranggapan bahwa orang mati kecelakan akan celaka juga di negeri akhirat dan orang yang mati di malam hari akan mendapati  kegelapan dalam hidupnya  di dalam kubur.Mati kecelakaan yang dimaksud antara lain dibunuh oleh manusia atau binatang ,kecelakaan lalu lintas dan lain-lain.
Sebagian di antara kita ada yang menuntut dan mengamalkan  ilmu-ilmu yang dapat melindungi dirinya dari berbagai bentuk kecelakaan,ada yang berupa mantra,jimat-jimat ataupun benda-benda yang dipercaya  sakti.Benarkah bahwa orang mati kecelakaan akan celaka di akhirat dan orang mati di malam hari akan menemui kegelapan di alam kubur.Kebenarannya tentu dilihat dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya.
Nasib seorang setelah matinya adalah masalah gaib yang hanya Allah yang lebih tahu.Walaupun ada yang diberitahukan kepada manusia itu hanyalah sedikit dan pengetahuan yang sedikit  itu telah ada di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya.
Dalam Al-Qur’an di terangkan bahwa Allah telah menetapkan kadar (ketentuan) bagi tiap-tiap sesuatu  (Q.S.Ath Thalag:3) Dan segala peristiwa yang terjadi di muka bumi dan juga pada diri seseorang  telah ditetapkan oleh Allah dan tertulis dalam kitab lauh mahfuzh sebelum menciptakan langit dan bumi (Q.S.Al Hadid:22) Dan adalah ketetapan Allah itu pasti berlaku/terjadi (Q.S.Al Ahzab:37 dan 38).
Mengenai nasib seseorang di alam akhirat ,celaka atau bahagia itu tergantung pada bekal yang dibawanya,bukan dinilai dari cara kematiannya.Orang yang mati dalam keadaan beriman dan beramal saleh akan bernasib baik (Q.S.Al bagarah:82) sedangkan orang yang tidak beriman akan bernasib buruk (QS.Al Maidah:10).Orang yang mati dalam keadaan berdosa maka tempatnya adalah neraka (Q.S.Thaahaa:74) sedangkan orang yang mati dengan membawa amal saleh tempatnya adalah surga (Q.S.Thaahaa:112).Orang mati dengan membawa kebaikan maka akan memperoleh balasan kebaikan (Q.S.An Naml:89).Dan orang yang mati membawa kejahatan,maka memperoleh balasan keburukan (Q.S.An Naml:90).Orang yang mati dalam keadaan berbakti kepada Allah akan di tempatkan di dalam surga sedangkan orang yang mati dalam keadaan durhaka akan di tempatkan di dalam neraka (Q.S.al Infithaar:13-14) dan masih banyak ayat lainnya yang menerangkan bahwa celaka tidaknya manusia di negeri akhirat tengantung pada awal yang di bawanya.    
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis menjelaskan bahwa setelah manusia berumur 120 hari dalam rahim ibu, Allah lalu mengutus seorang malaikat untuk meniupkan roh ke dalam tubuhnya.malaikat itupun diperintahkan mencatat empat kalimat, yaitu rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, celaka atau bahagianya (menjadi penghuni neraka atau penghuni surga” ( HR Muslim ). Hadis ini sesuai dengan firman Allah , “ Dan kami tetepkan dalam rahim apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan” (QS. Al Hajj : 5 ).
Kita tidak boleh beranggapan bahwa mati karena kecelakaan akan membuat kita celaka, kecuali orang yang mati karena kecelakaan itu membawa dosa-dosa dan mati sebelum bertaubat. Di antara orang yang mati kecelakaan itu ada yang tergolong sebagai mati sahid atau mati di jalan Allah. Orang yang mati di jalan Allah akan di ampuni dosa-dosanya ( HR.  Muslim ). Yang termasuk mati di jalan Allah , antara lain :
v  Orang yang mati terbunuh karena bertempur di jalan Allah.
v  Orang yang mati karena tenggelam
v  Orang yang mati karena penyakit keras
v  Orang yang mati karena banyak mengeluarkan darah
v  Orang yang mati karena sakit perut ( HR. Bukhari dan Muslim ). Termasuk pula orang tang terbunuh karena mempertahankan hartanya. ( HR. Muslim )
                        Kepercayaan bahwa orang yang mati kecelakaan akan celaka adalah celaka di akhirat adalah kepercayaan yang dihembuskan oleh setan dalam rangka menyesatkan manusia, agar manusia menuntut ilmu-ilmu sesat. Memakai jimak-jimak atau benda-benda lain yang dianggap sakti yang semuanya itu adalah perbuatan syirik, karena mengambil pelindung selain Allah.meminta perlindungan kepada setan / jin hanya akan menambah dosa dan kesalahan.       ( QS. Al Jin : 6 ). Menuntut dan mengamalkan ilmu yang bertentangan dengan Al Quran maka ilmu itu adalah ilmu sesat yang disebarkan oleh setan. Setan akan mendampingi orang-orang yang mengamalkan ajarannya “dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk” Q.S Az Zukhruf : 36 ).
                        Orang mati kecelakaan yang bisa kita katakan celaka bilamana pada tubuh orang itu tergantung sebuah jimak, berarti dia mati dalam kesyirikan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW “jampi-jampi, jimak-jimak dan tilawah adalah syirik” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
“ Barang siapa yang menggantungkan jimak penangkal pada tubuhnya, maka Allah tidak akan menyempurnakan kehendaknya” ( HR. Abu Daud ). Syirik adalah perbuatan dosa besar, yang Allah tidak akan mengampuninya (QS. An Nisa : 48 ).
                        Perlindungan yang sejenis dengan jimak-jimak adalah jampi-jampi dan tilawah. Jampi-jampi berupa minyak atau suatu makanan yang telah di mantrai oleh seseorang  ( dukun ) lalu dipakai sebagai pelindung. Sedangkan mantra adalah sejenis bacaan atau doa dalam bahasa daerah. Mantra sebenarnya boleh dipakai asalkan tidak mengandung syirik, (HR. Muslim). Tetapi mantra yang diamalkan oleh kebanyakan manusia, umumnya mengandung syirik karena meminta perlindungan kepada selain Allah. Ada yang meminta kepada jibril, ada pula yang meminta perlindungan kepada bayangannya yang diberinya nama “Labolong” atau “malekleng”. Manakala kita memakai jampi-jampi, jimak-jimak, dan mantra-mantra maka setan dari bangsa jin akan menyertai kita memberi perlindungan, melindungi kita dari malapetaka atau orang-orang yang ingin mencelakai kita. Dan kita menyangka bahwa orang yang memakai  jampi jimak dan mantra adalah orang yang di sayangi Allah, yang selalu di jaga dan di lindunginya, padahal mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya dosa-dosa mereka semakin bertambah ( QS. Al Jin : 6 ), mereka semakin dekat dengan setan yang akan selalu menyesatkan dan menghalanginya dari jalan Allah, ( Qs. Az Zukhruf : 36 )

7.     Siram air dan tabur bunga di kuburan
Sudah menjadi kebiasan masyarakat setiap kali ziarah kubur maka pasti membawa cerek yang berisi air.Sebelum tabor bunga maka kubur terlebih dahulu disiram.Siram air memang ada dalilnya bahwa pernah dilakukan oleh Rasulullah ketika menguburkan putranya yang bernama Ibrahim,namun itu tidak bisa dijadikan sebagai suatu keharusan atau suatu kepercayaan bahwa siram air bermanfaat bagi si mayit.Karena ada hadis lain yang berkata lain,Seperti dari hadis Aisyah tidak mengatakan bahwa Rasulullah SAW membawa air dan menyiramkan di kuburan sahabatnya saat diperintahkan Jibril berziarah di kuburan baqi,begitupun saat Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang cara ziarah kubur,Rasulullah tidak mengajarkan siram air melainkan hanya salam dan doa.Lagi pula telah dijelaskan sebelumnya bahwa yang bermanfaat bagi orang mati hanyalah doa, sedekah atas nama orang mat,bayar utangnya dan sebagainya,jadi tidak ada siram air.
Begitupun Tabur bunga sepertinya telah menjadi keharusan dilakukan terhadap kuburan sebelum ditalqin.Bunga yang ditabur di atas kuburan beraneka warna dan di antaranya terdapat potongan-potongan daun pandan.Ada pula yang memberikan bunga dalam bentuk rangkaian atau karangan bunga.
Sebagian ulama berpendapat bahwa tabur bunga adalah bid’ah yang tidak pernah diajarkan atau dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan bahkan ada yang mengatakan bahwa tabur bunga di kuburan adalah tradisi umat agama lain,padahal Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa “barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka termasuklah ia kaum itu” (HR.Ahmad),artinya bila mati mereka akan dibangkitkan bersama dengan kaum yang ditirunya dalam urusan amalan ibadah.
Sebagian ulama lain membolehkan dan menganggap sunnah menabur bunga di kuburan dengan menghubungkan perbuatan Rasullullah SAW yang meletakkan pelepah kurma di atas dua kuburan,Lalu Beliau bersabda: “Sesungguhnya kedua-duanya sedang diazab dan tidaklah kedua-duanya diazab karena dosa besar. Adapun yang ini diazab karena tidak menjaga (kebersihan) daripada kencing sedangkan yang lainnya karena suka mengadu domba.” Lalu Nabi SAW meminta pelepah dan mematahkannya (menjadi) dua bagian. Kemudian Beliau menancapkan di atas (kubur) ini satu dan di atas (kubur) ini satu. Para sahabat Nabi bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?” Beliau menjawab: “Mudah-mudahan diringankan azab itu daripada kedua-duanya selama pelepah kurma itu belum kering.” (HR. Bukhari).
Hadis tersebut di atas tidak bisa dijadikan landasan untuk mengkiaskan bunga dengan pelepah kurma karena Rasulullah SAW meletakkan pelepah kurma di atas kedua kuburan tersebut karena mendapat wahyu bahwa kedua penghuni kuburan itu sedang disiksa,jadi hanya dilakukan pada kedua kuburan itu dan tidak dilakukan pada kuburan sahabat-sahabatnya yang lain,sehingga para sahabat menganggapnya bahwa meletakkan pelepah kurma di kuburan hanya bisa dilakukan oleh Rasulullah SAW karena beliau mendapat wahyu.Sedangkan kita, siapa yang memberi wahyu bahwa penghuni kuburan yang kita ziarahi sedang disiksa sehingga kitapun mau meletakkan pelepah kurma,dengan alasan karena tidak ada pelepah kurma di kampung kita sehingga diganti dengan bunga,mengapa bukan dengan pelepah kelapa atau pelepah pisang,bukankah sama-sama pelepah ?.Itulah sebabnya para sahabat Rasulullah SAW tidak ada meniru perbuatan Rasulullah SAW tersebut yaitu meletakkan pelepah kurma di atas kuburan apalagi dengan bunga,padahal tidak menutup kemungkinan bahwa pada zaman Rasulullah SAW atau para sahabat telah banyak bunga di Mekah atau di Madinah.Yang diajarkan Rasulullah SAW setelah penguburan saudara kita adalah berdiri mendoakannya, : “Mintakanlah ampunan bagi saudara kamu dan mintakanlah ketetapan baginya karena ia sedang ditanya” (HR. Abu Daud).Dan ketika berziarah kuburan diajarkan mengucapkan salam dan mendoakannya,Ketika Aisyah (istri Rasulullah) bertanya: “Apa yang harus aku ucapkan bagi mereka (shahibul qubur) wahai Rasulullah? Beliau bersabda ”Ucapkanlah, Salam sejahtera untuk kalian wahai kaum muslimin dan mukminin penghuni kubur. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah mendahului dan juga orang-orang yang diakhirkan. Sungguh, Insya Allah kami pun akan menyusul kalian”. (HR. Muslim) .

8.     Kepercayaan dalam sakratul maut
Berbagai kepercayaan yang muncul sehubungan dengan sakratul maut, di antaranya ada yang percaya bahwa yang datang adalah sosok orang tua yang telah mati, sosok guru bagi yang bertariqat, bahkan lebih dari itu ada yang percaya akan dijemput langsung oleh Allah dalam wujud yang berbeda-beda. Ada yang percaya dalam rupa diri kita sendiri yang berpayung emas, ada yang percaya dalam wujud cahaya besar tinggi seperti batang kelapa, dan lain-lain. Di antara yang percaya seperti ada yang menuntut dan mengamalkan ilmu yang bisa menyelamatkan kita dari beratnya sakratul maut, agar tidak diganggu oleh setan dan agar meninggalkan dunia ini dengan selamat di antaranya sahadat batin dan junub. Sahadat batin dipercaya sebagai janji kepada Nabi Muhammad SAW berupa bunyi tertentu di leher ketika sakratul maut. Orang yang mendapat dan mengamalkan ilmu ini tidak perlu mengucapkan lailaha illallah atau dua kalimat sahadat tetapi diganti dengan bunyi tersebut. Guru tariqatnya  mengajarkan bahwa bunyi itu adalah sahadat yang asli (sahadatnya sahadat) sedangkan sahadat yang diucapkan  itu hanyalah sebuah kalimat (tidak asli). Barang siapa yang akhir hidupnya berhasil membunyikan sahadat itu maka akan selamat dan hidup bersama Nabi Muhammad.
      Begitupun halnya junub yang dipercaya sebagai janji kita dengan surga, yaitu berupa orgasme (keluar mati) ketika sakratul maut. Mereka percaya bahwa orang yang orgasme ketika sakratul maut akan selamat dan dijamin masuk surga karena itu sudah menjadi perjanjian dengan surga. Mereka beranggapan bahwa karena mereka diciptakan melalui orgasme (pancaran mani) maka ia harus tutup hidup ini  dengan orgasme pula.
Benarkah semua anggapan di atas?.            Allah dan Rasul-Nya telah memberikan keterangan yang jelas tentang sakratul maut. Kematian itu diawali dengan  sakratul maut, sebagaimna, firman Allah “Dan datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang selalu kamu lari dari padanya “(QS. Qaaf : 19 ). Sakratul maut adalah roh meninggalkan jazad perlahan-lahan melewati kerongkongan, “(apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kekorongkongan dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perjalanan (dengan dunia) “(QS. AL Qiyaamah : 26 dan 28).
      Menurut Al Quran, bahwa  Apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, diwafatkan oleh malaikat-malaikat kami dan malaikat-malaikat itu tidak melalaikan kewajibannya “Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan,  padahal kamu ketika itu melihat, dan kami  lebih dekat kepadanya dari pada kamu, tetapi kamu tidak melihat” ( QS. Al Waaqiah : 83-85)
      Malaikat maut itu akan menampakkan dirinya di hadapan orang yang dijemputnya dengan sosok /rupa yang disesuaikan dengan keadaan roh/amal orang itu. Orang yang beramal baik akan didatangi oleh malaikat lemah lembut atau berpenampilan yang baik sedangkan orang yang banyak berdosa akan di datangi oleh malaikat yang berpenampilan dan berperilaku yang kasar. (QS An Naa’ziaat : 1-2). Hal ini diterangkan pula pada ayat lain bahwa “orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan  “salamun alaikum” masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan “(QS. An Naml : 32), atau malaikat itu datang dengan mengatakan “hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhoinya “( QS. Al Fajr : 27). Orang yang banyak dosa akan didatangi oleh malaikat dengan sosok yang menakutkan, kasar dan tanpa mengucapkan salam kepada orang yang akan mati.
      Kedatangan malaikat menjelang kematian, dalami setiap manusia, termasuk Nabi Muhammad SAW, sebagaimana yang diceritakan oleh istri beliau, Aisyah bahwa pada pagi hari menjelang wafatnya Rasulullah SAW, Rasulullah SAW bersabda kepada orang-orang yang menjengutnya : “Keluarlah kalian, ada malaikat yang akan menemuiku “Aisyah bertanya : “Ini bukan pertanda kedatangan Malaikat Maut? “Beliau menjawab : “Benar Aisyah, yang datang adalah malaikat Maut pencabut nyawa”. Malaikat maut meminta izin kepada Rasulullah untuk mencabut nyawanya. Rasulullah SAW bersabda : “Tahanlah sebentar Jibril datang menemuiku”. Kemudian masuklah malaikat Jibril, ia berkata : “Allah SWT memberi salam kepadamu, Allah menanyakan keadaanmu walaupun dia lebih tahu keadaanmu “. Bergembiralah karena Allah ingin memberikan semua yang telah di janjikan kepadamu”.
Sepulang jibril maka datanglah malaikat maut meminta izin kepada Rasulullah. Beliau lalu mengizinkannya masuk “ya Muhammad,  apa yang engkau minta padaku” Rasulullah menjawab :” Sekarang pertemukanlah aku dengan Tuhanku” Aisyahpun lalu mendekati Rasulullah lalu menyandarkan kepala beliau di dadanya. Keringat dahi beliau mengucur dengan derasnya. Aisyah berkata : “Aku belum pernah mencium bau sewangi keringat Rasulullah. “ya, rasulullah betapa derasnya keringat yang mengucur dari dahimu” Rasulullah berkata : Aisyah, sesungguhnya roh orang mukmin keluar bersama keringatnya, sedangkan roh orang kafir keluar di mulutnya seperti seekor kedelai”(HR.Bukhari).
      Setiap manusia pasti mengalami sakratul maut, termasuk Nabi Muhammad SAW, sebagaimana yang di ceritakan oleh Asisyah : “Di depan beliau terdapat tabung yang berisi air maka beliau memasukkan kedua tangannya dan mengusapkan keduanya kewajahnya sambil berkata: “Tiada Tuhan selain Allah. Sungguh mati itu ada sekaratnya” ( HR. Bukhari)
      Rasulullah SAW pernah menyebut kematian dan kepedihannya. Beliau bersabda: “ kepedihannya setara dengan tiga ratus pukulan pedang”. Beliau juga pernah di tanya tentang sakratul maut dan menjawab : “kematian yang paling ringan adalah seperti duri dalam wol. Tidak dapat di keluarkan duri dalam wol melainkan tercabut juga wol itu”. Karena beratnya sakratul amut maka Rasulullah selalu berdoa dan menyuruh kita berdoa memohon keringanan menghadapi sakratul maut. Ucapan terakhir beliau adalah “Allahumma Firrafiijil ‘a’laa’) wahai Allah dalam teman tertinggi “ ( HR Bukhari).
      Mengenai rupa/sosok malaikat maut, tidak diterangkan dalam Al Quran dan tidak pula digambarkan oleh Rasulullah SAW. Namun ada sebuah hadis yang dikutip oleh Iman Al Gazali dalam sebuah kitabnya bahwa Ibrahim berkata kepada malaikat pencabut nyawa ,” apakah engkau bisa menampakkan rupamu yang sedang menggenggam roh pendurhaka?” malaikat maut menjawab : “engkau tidak akan mampu memandangnya”. Ibrahim lalu berkata : “ya, tetapi tampakkanlah kepadaku” lalu malaikat maut menampakkan rupanya. Kemudian ia menoleh hingga tampaklah seseorang dengan kulit hitam, rambut berdiri, berbau busuk, dan pakaian hitam keluar dari mulutnya. Sementara dari bibirnya berkobar api dan keluar asap. Ibrahim tiba-tiba jatuh pingsang. Kemudian ia sadar, bahwa malaikat maut itu telah kembali ke dalam rupa semula.
      Ibrahim kemudian bertanya : “Dapatkah engkau perlihatkan kepadaku rupamu ketika mencabut nyawa orang mukmin?”. “ya, berpalinglah dariku” malaikat maut menjawab lalu berpalinglah Ibrahim kemudian menoleh, tiba-tiba ia menghadapi seorang pemuda dengan wajah yang tampan, pakaian bagus, dan wanginya yang harum. Lalu Ibrahim berkata “Wahai malaikat maut, kalau engkau tidak menemui seorang mukmin ketika menjelang kematiannya kecuali dengan rupamu saja, niscaya itu memadai dan dari situ di peroleh kesaksian dua malaikat penjaga.
Riwayat tersebut diatas walaupun dalam kitab Iman Al Gazali itu tidak ditulis perawinya namun bisa di terima karena sesuai dengan Al Quran ( QS. An Naazi’aat : 1-2)
      Jika Nabi dan para wali saja mengalami pedihnya sakratul maut, apa lagi kita yang selalu berlumuran dosa. Imam Al Gazali mengatakan bahwa bersamaan sakratul maut itu datanglah berturut-turut kepada kita bencana-bencana  yang lain, antara lain :
a.       Pedihnya pencabutan nyawa
b.      Timbulnya ketakutan dan kenyerian ketika melihat rupa malaikat pencabutnya yang sedang menggenggam roh seorang hamba pendosa yang orang kuat sekalipun tidak akan sanggup menandinginya.
c.       Ketika para pendosa melihat tempat mereka di neraka dan ketakutan mereka karena pemandangan itu, sementara mereka dalam keadaan sekarat. Ruh itu tidak akan keluar sebelum mendengar perkataan malaikat maut dengan salah satu dari dua kabar, yaitu kabar akan neraka sebagai tempatnya atau kabar akan surga sebagai tempatnya. Bagi wali Allah sebagaimana sabda Rasulullah SAW,”siapapun kalian tidak akan keluar dari dunia hingga mengetahui kemana tempat kembalinya dan sebelum mengetahui tempat duduknya di surga atau di neraka.
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas maka jelaslah bahwa yang datang menemui kita ketika sakratul maut adalah malaikat maut dengan rupa yang sesuai dengan keadaan amal atu ruh kita. Jadi anggapan sebagian manusia bahwa kita akan didatangi/dijemput oleh roh orang tua yang telah mati, guru, Nabi apalagi Allah yang menyerupai diri kita adalah salah/sesat. Allah itu mematikan manusia melalui tangan malaikat-Nya, yaitu malaikat maut. Allah itu tidak bisa diserupakan dengan makhluknya ,tidak ada yang serupa dengannya ( QS. Asy Asyuura : 11 ). “Dia tidak dapat dicapai oleh semua mata (mata jasmani atau rohani), sedang dia dapat melihat semua mata “ ( QS. Al An’aam : 103). Nabi dan orang-orang saleh saja tidak akan bisa melihat Allah. Musa As yang bisa bicara langsung dengan Allah tidak bisa melihat Allah. ( QS. Al A’raaf : 143). Rasulullah yang pernah diundang menghadap Allah (isra’ mi’raj) mengaku tidak melihat Allah, hanya malihat cahaya ( HR. Bukhari). Yang dilihat Nabi ketika itu hanya jibril yang asli ( QS. An Najm : 13-17). Wajah Allah itu hanya dapat dilihat bila kita berhasil menjadi penghuni surga. Sebagaimana firmannya, “wajah-wajah para ahli surga pada hari itu berseri-seri karena dapat melihat kepada Tuhannya” ( QS. Qiamah : 22-23).
          Amalan yang di syariatkan ketika sakratul maut adalah mengucapkan nama Allah atau kalimat yang mengesakan Allah atau kalimat sahadat. Rasulullah SAW pada akhir hidupnya mengucapkan kalimat “Allahumma firrafi’ijil a’laa (wahai Allah dalam teman tertinggi) “ ( HR. Bukhari). Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa “Talginlah (ajarlah) orang-orang yang sedang sekarat di antara kalian. Kalimat lailaha illallah” ( HR. Muslim ). “Barang siapa yang akhir ucapannya itu : “laa ilaaha illallah” dia akan masuk surga” ( HR. Ahmad dan Abu Daud)
Bagi umat Islam yang memahami ajaran rasulnya, tentu akan mengamalkan ajaran rasul, tidak mengajari sesamanya ajaran-ajaran sesat disaat sakratul maut kecuali kalimat “laa ilaaha illallah”. Dan tidak ada dasar ilmu yang hak atas kepercayaan dan amalan sahadat batin yang berupa bunyi “Cengukan” di leher atau orgasme ketika sakratul maut. Sahadat batin mungkin ada kalau mulut kita tidak sanggup lagi mengucapkan kalimat sahadat, jadi di ucapkan oleh hati kita.
Jadi pendapat – pendapat yang bertentangan dengan Al Quran atau sunnah rasul tentang tamu-tamu sakratul maut itu jangan dipercaya dan dijadikan pegangan karena itu boleh jadi adalah tipu daya setan yang akan menyesatkan kita, apalagi sakratul maut adalah kesempatan terakhir bagi setan untuk menyesatkan manusia. Dan Allah sudah menyatakan bahwa” barang siapa  yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang maha pemurah ( Al Quran) kami akan adakan baginya setan ( yang akan menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya “(QS. AZ Zukhruuf : 36).

9.     Tanda-tanda datangnya kematian
      Dalam masyarakat kita kadang mendengar seseorang bertanya kepada orang yang sakit parah, “bagaimana menurutmu, apakah sudah datang pesannya guru (kematian) atau belum?” atau” bagaimana perasaanya, apakah sudah datang tanda-tandanya atau belum, ”. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan lama lagi hidup, bahkan ada yang minta agar anaknya yang berada di tempat jauh segera .  suruh pulang. Ternyata benar. Tetapi tidak sedikit pula yang salah, meleset dari pesan gurunya. Benarkah kematian itu dapat di ketahui kedatangannya sebelum terjadi sakratul maut?. Allah dan Rasulnyalah yang lebih tahu. Kematian adalah ketetapan Allah yang bersifat gaib, artinya kedatangannya di rahasiakan kepada manusia dan hanya Allahlah yang lebih mengetahuinya. “Tiada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui kapan mereka di bangkitkan” ( QS. An Naml : 65 ). “Tiada sesuatupun yang ghaib di langit dan di bumi, melainkan (terdapat dalam) kitab yang nyata (lauh mahfuzh)” ( QS. An Naml : 75 ). Sehingga “Tidak seorangpun manusia yang tahu apa yang akan di usahakannya besok dan bumi mana akan di kuburkan”.
      Manusia baru mengetahui bahwa kematian telah mendatanginya setelah di datangi oleh malaikat maut untuk menjemput ruhnya. Allah dan Rasulnya tidak pernah mengajarkan tanda-tanda datangnya kematian. Hal ini untuk menguji iman seseorang. Kalaupun ada yang mengetahui batas umurnya dengan mengatakan bahwa tanda-tanda 40 hari lagi, 7 hari lagi, atau 3 hari lagi dia akan mati, maka itu kadang terjadi tanpa kesasaran kita sehingga kita tidak mengetahuinya.
      Datangnya kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi, namun kita tidak bisa memastikan waktu terjadinya, yang jelas kita harus selalu siap di jemput oleh malaikat maut. Kita bisa saja mengira-ngira bahwa kematian telah dekat. Misalnya karena adanya pengurangan daya pada diri kita, seperti penglihatan atau pendengaran mulai berkurang, atau rusaknya organ tubuh yang vital misalnya otak, jantung, hati, ginjal, atau darah yang terus keluar.
      Di antara kita ada yang menjadikan mimpi sebagai tanda bahwa tidak lama lagi malaikat maut akan menemuinya, antara lain mimpi di tempat oleh seorang keluarga yang telah mati lalu membawa kita pergi dan tidak kembali lagi, mimpi berada di atas keranda mayat lalu di angkat oleh orang-orang, mimpi di kuburkan dan lain-lain. Namun tidak semua mimpi menjadi kenyataan.
      Ada beberapa mimpi yang di alami oleh orang saleh yang berarti kematian, di antaranya mimpi umar bin khattab yang melihat dirinya di panggil oleh Rasulullah SAW,  bahwa mimpi Usman bin Affan yang melihat dirinya di ajak makan bersama oleh Rasulullah SAW dan Rasulullah memberitahukannya bahwa “kita akan shalat Jumat bersama hari ini (jumat”). Baik umar maupun Usman dengan berdasarkan mimpi itu, telah mempersiapkan dirinya menghadapi kematian, bahkan usman sengaja berpuasa dan membaca Al Quran pada hari jumat karena beliau memperkirakan akan mati pada hari jumat. Dan ternyata benar pada hari jumat itu Usman yang sedang berpuasa dan membaca Al Quran diserang dan di bunuh.
      Ada beberapa perubahan pada fisik kita yang biasa dijadikan sebagai tanda bahwa kematian sudah semakin dekat, antara lain :
a.       Tangan bila di gosok-gosok atau kulit tidak terasa atau tidak berbunyi gosokan / garukan lagi.
b.      Keringat tidak terasa asing lagi.
c.       Langit-langit mulut bila di gerak gerakkan ujung lidah padanya tidak terasa geli lagi
d.      Penglihatan atau pendengaran sudah mulai berkurang atau kabur.
e.       Perut tidak lagi menerima makanan/minuman. Walaupun tanda-tanda diatas tidak jelas sumbernya namun bisa juga di terima oleh akal karena ada perubahan pada fisik yang sebelunya tidak demikian ( normal)
   Sedangkan berita akan datangnya kematian yang di sampaikan oleh dukun atau tukang ramal tidak boleh di percaya, karena mempercayai perkataan dukun atau tukang ramal maka tidak akan di terima shalat selama 40 hari ( HR. Muslim). Dan Rasulullah SAW menganggap kita telah kafir terhadap Al Quran ( HR. Ahmad).
   Dari uraian-uraian di atas maka dapat di kemukakan bahwa kematian adalah perkara yang ghaib yang hanya Allah lebih mengetahui kapan dan di mana kedatangannya. Kita tidak boleh memastikan waktu dan tempat terjadinya dan tidak boleh pula mengambil ajaran dukun atau tukang ramal tentang waktu dan tempat kematian kita. Kita di larang mendatangi dukun untuk meminta agar waktu dan tempat kematian kita di rubah sesuai dengan kemauan kita.
   Dalam Islam, tidak ada larangan mengira-ngira datangnya kematian dengan menatsir mimpi atau berdasarkan ilmu pengetahuan.
a). Berdasarkan mimpi.
   Kita bisa mengira-ngira datangnya kematian dengan berdasarkan mimpi, sebagaimana yang di alami oleh sahabat-sahabat Rasulullah yang di ceritakan sebelumnya. Tetapi kita perlu ingat sabda Rasulullah SAW bahwa “mimpi yang baik dari Allah dan mimpi yang buruk dari setan. Kalau kamu bermimpi buruk maka meludahla tiga kali ke kiri dan berlindunglah kepada Allah dari kejelekan tersebut” ( HR. Muslim).
“Apabila bermimpi yang kamu senangi maka janganlah kamu ceritakan kecuali kepada orang yang senang kepadamu serta bila bermimpi buruk maka janganlah menceritakannya kepada orang lain” ( HR. Muslim).
  Ada seorang Arab yang bermimpi dan datang kepada Rasulullah, “ya  Rasulullah, saya telah bermimpi kepala saya terpenggal, lalu menggelinding, kemudian saya ikuti kemana perginya,” Rasulullah bersabda : “jangan kau beritahukan kepada orang lain permainan setan denganmu dalam tidurmu “ ( HR. Muslim)
   Berdasarkan mimpi Umar dan Usman sebelum kematiannya, maka mimpi yang dapat kita jadikan dasar untuk mengira-ngira datangnya kematian adalah mimpi bertemu dan di panggil oleh Nabi Muhammad SAW, atau mimpi di ajak makan dan sholat bersama dengan Nabi Muhammad ” Barang siapa melihatku (dalam tidur) maka dia benar-benar melihatku” ( HR. Muslim)
   Antara Umar dan Usman dengan Nabi Muhammad SAW mempunyai hubungan yang erat, yaitu hubungan persahabatan dan orang yang sangat dicintai atau hubungan antara murid dengan guru.
      Bagi kita tidak pernah melihat Rasulullah SAW tentu sukar untuk memimpikan Rasulullah, maka yang dapat kita jadikan dasar mengira-ngira kematian adalah bermimpi bertemu atau di panggil pergi oleh keluarga dekat yang telah mati ( orang tua, kakek/nenek, atau saudara), atau guru atau orang yang kita cintai.
b). Berdasarkan ilmu pengetahuan
   Mengira-ngira datangnya kematian berdasarkan ilmu pengetahuan adalah dengan memperhatikan perubahan fisik dan organ-organ tubuh kita, antara terjadinya perubahan pendengaran dan penglihatan (kabur), perubahan rasa, seperti dari geli menjadi tidak geli, dari sakit bila di cubit menjadi tidak sakit, lidah tidak merasakan lagi pahit, manis, asamnya makanan, rusaknya organ tubuh yang vital, seperti jantung, ginjal, lever pangreas, lambung, paru-paru, darah yang kotor, terserang virus ganas, kanker atau tumor, dan lain-lain.
   Bila mengalami seperti itu maka siap-siaplah menghadapi kematian. Dan bagi orang sudah kedatangan tanda-tanda kematian di wajibkan berwasiat, sebagaimana perintah Allah “Diwajibkan atas kamu apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapak, karib kerabatnya secara ma’ruf” (QS. Al Baqarah : 180). Wasiat yang di syariatkan adalah yang berhubungan dengan harta, bukan yang berhubungan dengan tempat penguburan mayat kita. Disunnahkan menguburkan mayat di tempat orang itu mati, bukan di tempat kelahirannya sebagaimana Rasulullah SAW yang wafat di Madina dan dikuburkan di Madina, padahal Rasulullah lahir di Mekah. Mengubah wasiat orang yang hampir mati adalah termasuk perbuatan dosa ( QS. Al Baqarah : 161 (. Kecuali bila orang yang berwasiat itu dianggap berat sebelah/tidak adil maka boleh mendamaikan/ mengaturnya (mengubahnya) atas sepengetahuannya (QS. Al Baqarah : 162).
10.Mempercepat atau memperlambat kematian
     Sebahagian di antara kita ada yang percaya bahwa umur itu bisa  ditambah dan bisa pula dikurangi. Berdasarkan kepercayaan itu maka di antaranya ada yang menuntut ilmu atau mendatangi dukun untuk diperpanjang umurnya atau agar orang yang dimusuhinya cepat mati. Banyak yang percaya pada tanda kesialan pada diri seseorang seperti garis urat yang mendatar di atas hidung, kata dukun bahwa anak itu umurnya tidak lebih dari lima tahun. Atau tahi lalat yang melekat di atas kemaluan seorang laki-laki pertanda bahwa istrinya akan cepat mati, atau di atas kemaluan wanita, pertanda suaminya akan cepat mati, ataupun tanda kesialan kematian anak.
             Orang – orang yang mempunyai tanda kesialan sering ada yang mendatangi dukun dan oleh dukun melakukan ritual buang sial. Setelah ritual mandi, maka legahlah perasaan, berarti anaknya atau suaminya/istrinya tidak jadi berumur pendek (ditambah umurnya).
             Adapula yang mengamalkan suatu ilmu memperpanjang umur . katanya orang tua-orang tua dulu panjang-panjang umurmya sampai ratusan tahun karena mengamalkan ilmu memperpanjang umur sehingga dengan ilmu itu Allah menambah umurnya sehingga hidupnya sampai tua dan pikun. Sedangkan sekarang, orang – orang tidak menuntut lagi ilmu penambah umur sehingga pendek-pendek umurnya. Benarkah kepercayaan-kepercayaan seperti di atas?
             Umur (masa hidup di muka bumi ini ) adalah ketetapan Allah yang mesti terjadi. Umur masing-masing manusia sudah di tetapkan Allah jauh sebelum manusia itu tercipta ( QS. Al Hadiq : 22). Dan bila umur telah habis atau ajal telah datang maka tidak ada yang bisa mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula dapat memajukannya barang sesaatpun ( QS. Al A’raaf : 34 ). Bila umur seseorang telah di tetapkan Allah sebanyak 40 tahun. Maka orang itu tidak akan bisa mati pada umur 30 tahun atau 45 tahun. Tidak akan kurang semenit atau tidak akan lebih walau semenit.’
             Bagaimanapun jahatnya seorang manusia, telah banyak kerusakan yang di lakukannya, telah kafir dan memusuhi Allah, maka Allah tidak akan mencabut nyawanya sebelum sampai ajal yang ditetapkannya. Begitu pun halnya oleh orang yang beriman, beramal soleh dan banyak berguna, bagi umat manusia tidak akan ditunda kematiannya atau ditambah umur agar terus berbuat baik ( QS. An Nahl : 6 ).“Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian)  seseorang apabila datang waktu kematiannya” ( QS. Al Munafiquun : 11 )
             Allah telah menyatakan bahwa sekali-kali tidak dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya (orang yang berumur pendek) melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab  ( QS. Faathir : 11 ). Manusia mempunyai umur yang berbeda-beda, ada yang singkat, ada pula yang panjang umurnya sampai pikun (lemah ingatan). Apakah kita akan bangga bila memiliki umur yang panjang sampai pikun?. Itu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan atau di minta kepada Allah, karena Allah mempunyai maksud memberi umur yang panjang sampai pikun, yaitu “supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang dahulu di ketahuinya” ( QS. Al Haji : 5 ), bukankah suatu kecelakaan dalam hidup bila awalnya kita taat beragama dan pada akhirnya melupakan segala-galanya?
             Allah dan Rasul-Nya tidak mensyariatkan kepada kita untuk menuntut ilmu agar umur diperpanjang atau diperpendek. Ilmu seperti itu hanyalah tipu daya setan untuk menyesatkan manusia. Allah dan Rasul-nya hanya mensyariatkan berdoa minta apa saja kepada Allah agar panjang umurnya berbuat baik atau beribadah, tetapi maksud bukan penambahan umur, melainkan panjangnya kesempatan (kesehatan) untuk amal saleh. Sebaik-baik orang yang panjang umurnya adalah orang yang selalu beramal soleh dan umur yang panjang tidak akan bisa menyelamatkan kita, sebagaimana firman Allah, “masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah maha mengetahui apa yang mereka kerjakan” ( QS. Al Baqarah : 96 ).
             Allah dan Rasul-Nya melarang kita menuntut ilmu untuk memperpendek umur seseorang ( cepat mati atau sakit berkepanjangan ), karena ilmu seperti itu termasuk sihir, adalah persekutuan dengan setan. Sihir yang menimbulkan kematian seseorang mengandung dua dosa besar, yaitu dosa mempersekutukan Allah dan dosa membunuh manusia, walaupun orang yang di sihir itu tidak akan mati kecuali dengan izin Allah karena telah sampai ajalnya.“Barang siapa yang mempersukutukan Allah maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar “( QS. An Nisa : 48 ).
             Di antara kita adalah melindungi dirinya dari sihir dengan menggunakan jampi-jampi, jimak-jimak atau mengamalkan mantra-mantra sebelum tidur dan setelah tidur. Cara seperti ini termasuk cara yang salah karena termasuk perbuatan syirik. Sama halnya mengambil setan untuk melindungi diri dari gangguan setan, atau membayar preman untuk melindungi diri dari ganggguan preman, yang benar adalah mempercayakan Allah untuk melindungi diri kita, karena sebaik-baik pelindung dan sebaik penolong ( QS. Al Anfaal : 40 ). Allah adalah pelindung dan penolong orang-orang yang beriman. Dan sihir itu tidak akan merosok seseorang kecuali kalau Allah menghendaki-nya, “dan mereka itu  (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah “ ( QS. Al Baqarah : 102 ).
11.Kepercayaan dan amalan sesat
Kepercayaan dan amalan yang berhubungan dengan kematian telah di terangkan dalam Al Quran dan Sunnah Rasul-Nya. Kepercayaan dan amalan yang tidak memiliki dasar ilmu atau bertentangan dengan Al Quran atau sunnah rasul adalah termasuk ajaran sesat yang bersumber dari setan ( QS. As Zukhryf : 36 ).Oleh karena itu, kita jangan sampai terpedaya pada ajaran-ajaran setan. Maka perlu selalu waspadai dan membekali diri dengan ilmu agama yang benar. Tinggalkan kepercayaan – kepercayaan yang sesat, seperti yang telah di kemukakan sebelumnya. Tinggalkanlah amalan-amalan sesat seperti :
a). Mengadakan selamatan atau mempersembahkan sesajian untuk mengusir roh-roh gentayangan. Usirlah setan-setan itu dengan cara yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW.
b). Mengadakan ritual “Assuro ammaca”  untuk menjamu arwah keluarga yang di percaya mendatangi rumah. Kirimilah doa buat arwah keluargamu atau ziarahilah kuburnya.
c). Memenuhi permintaan orang-orang yang kesurupan karena dianggap roh keluarga Itu janganlah di percaya. Usirlah setan-setan itu.
d). Menuntut ilmu agar jazad lenyap dikuburan dan bisa hidup kembali. Tetapi tuntutlah ilmu yang benar yang sesuai dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.
e). Menuntut ilmu-ilmu tarekat pada guru-guru terikat atau pada dukun-dukun. Tuntutlah ilmu islam melalui Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW
f). Menyembelih hewan aqiqah untuk orang yang telah mati. Tetapi sembelilah hewan untuk Qurban, aqiqah anak yang baru lahir, menjamu tamu atau memberi miskin atau pekerja. Perbanyaklah amal saleh sebagai makanan dan kendaraanmu di negeri akhirat.
g). Memakai jampi-jampi, jimak-jimak atau mantra-mantra agar tidak mati dalam kecelakaan. Tetapi bekalilah dirimu dengan ilmu yang benar, ibadah yang benar dan budi pekerti yang luhur.
h). Ziarah kubur untuk mencari berkah dan keselamatan. Tetapi carilah berkah dan keselamatan pada Al Quran, pada zikir dan doa-doa yang di panjatkan setelah sholat, dll. Lakukan ziarah kubur hanya untuk mengingat mati
Menzalimi orang mati untuk kepentingan diri seperti mengambil organ tubuhnya tanpa seizinnya untuk keperluan pengobatan, mengambil sepotong tulangnya untuk pengobatan , mengambil lidah atau bagian tubuhnya untuk memenuhi persyaratan satu ilmu, memperkosa mayat untuk satu ilmu, mengambil tali pocong dll. Tetapi hormati orang mati itu dan keluarganya, jangankan mengambil sebagian anggota tubuhnya, duduk di atas kuburan saja di larang oleh Rasulullah SAW, ( HR. Muslim). Begitupula menginjak-injak kuburan orang muslim dilarang oleh Rasulullah SAW (HR. Ibnu Majah)
Kenalilah kematian dengan ilmu yang benar agar kematian itu tidak menjadi awal dari penyesalan dan kesengsaraan. Jadikan Al Quran dan Sunnah Rasul sebagai guru agama, yang akan mengantarmu ke dalam kematian yang membahagiakan.
            Ingatlah wasiat-wasiat Nabi SAW :
Telah kutinggalkan bagimu dua perkara, yaitu Al Quran dan Sunnah Nabi, bila kalian berpegang teguh padanya maka kalian tidak akan sesat” ( HR. Abu Daud)
Jauhilah perkara baru yang diadakan ( oleh urusan agama ) karena segala perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat “(HR Abu Dawud, Ad Darimi dan tirmidzi).
“ Kalian akan berselisih setelah kutinggalkan, maka apa yang dikatakan orang tentang aku, cocokkanlah dengan Al Quran. Maka yang cocok itu dari aku dan yang bertentangan, bukan dari aku “( HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).

B. Penutup
                Al Quran adalah kitab yang tidak di ragukan lagi kebenarannya, petunjuk bagi orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib ( QS. Al Baqarah : 2-3 ). Al Quran di turunkan untuk menyempurnakan akhlak manusia yang telah tersesat oleh kejahiliaannya, yaitu kepercayaan dan amalan-amalan yang mengandung kesyirikan.
            Islam adalah agama yang sempurna, mengatur segala aspek kehidupan manusia. Segala ajaran dan syariat-syariatnya merupakan wahyu dari Allah yang dituangkan dalam kitab Al Quran dan sunnah Rasul. Ikutilah ajaran syariat Allah dan Rasul-nya, dan janganlah mengikuti ajaran/syariat yang bersumber dari persangkaan orang-orang yang tidak mengetahui ( QS. Al Jaatsiyah : 18 ), yang karena sesungguhnya persangkaan itu tidak berguna untuk mencapai kebenaran ( QS. Yunus : 36 ). Ajaran yang bersumber dari hawa nafsu,  karena sesungguhnya hawa nafsu itu akan menyesatkan kamu dari jalan Allah, dan orang-orang yang sesat dari Allah akan mendapat azab yang beraat ( QS. Shaad : 26 )
            Ikutilah syariat Allah dan sunnah rasul, dan tinggalkan ajaran atau syariat nenek moyang yang sesat dan yang akan mengantarkanmu kedalam api neraka yang menyala-nyala ( QS. Al Baqarah : 170, Al Maidah : 104, dan Lukman : 21 ). Jangan ikut-ikutan pada (kepercayaan/amalan) kebanyakan manusia di muka bumi niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah ( QS. Al An’aam : 116 ), dan kalau hanya mengikuti manusia biasa ( bukan Nabi/Rasul) seperti kamu niscaya kamu termasuk orang yang rugi (QS. Al Mukminum : 34 ).
            Jalankan Agama Islam dengan semurni-murninya ( QS. Al Bayyinah : 5 ), janganlah mencampuradukannya dengan ajaran-ajaran batil ( QS. Al Baqarah : 42). Segala kepercayaan dn amalan kita dalam urusan agama hendaknya berdasarkan pada ilmu yang haq (Al Quran dan Sunnah Rasul) dan jangan mengikuti apa-apa yang tidak ada pengetahuanmu atasnya sebab perkataan, pandangan dan hati kelak akan di mintai pertanggung jawabannya ( QS. Al Israa : 36 ).
            Kembali kepada Al Quran dan Sunnah Rasul, dan meninggalkan tradisi-tradisi sesat adalah sesuatu yang berat, di sebabkan oleh 3 faktor, yaitu :
1.      Ketidakpahaman terhadap ayat-ayat Allah
Banyak di antara kita yang membaca Al Quran dan menghapal beberapa ayat, namun mereka tidak memahaminya, sehingga tidak bisa membedakan antara yang hag dengan yang batil. Oleh karena itu bacalah Al Quran dan memohonlah kepada Allah untuk memahaminya, karena melalui Al Quranlah Allah memberi petunjuk ke jalan yang benar .
2.      Masa bodoh dan taklid buta
Banyak di antara kita yang masa bodoh terhadap agamanya, tidak tertarik untuk mendalaninya melalui membaca buku-buku agama atau mengikuti pengajian. Mereka sudah merasa cukup hanya dengan mengikuti ulama-ulama atau kebanyakan manusia. Padahal tidak ada jaminan kebenaran dan keselamatan beribadah tanpa dasar ilmu dengan hanya ikut-ikutan ( QS. Al An’am : 116 )
3.      Tidak takut kepada Allah atas segala azab-Nya tetapi lebih takut kepada sesama manusia / masyarakat atas segala cemohan atau celaannya. Kita hidup dalam masyarakat Islam yang menjungjung tradisi. Memang kita akan dicela atau dicemoh atau dianggap asing bila mengikuti sunnah di tengah-tengah ahli bid’ah. Janganlah takut kepada sesama manusia, tetapi takutlah kepada Allah ( QS. Al maidah : 44 ). Allahlah yang berhak kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman ( QS. At Taubah : 13 ). Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan yang tidak nampak oleh mereka atau memperoleh ampunan dan pahala yang besar ( QS. Al Mulk : 12). Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik ( QS. Al Musammil : 10 ). Ikutilah apa yang telah Allah turunkan ( Al Quran), tiada tuhan selaain dia, dan berpalinglah dari orang-orang musyrik ( QS. Al An’aam:106 orang-orang yang berpegang teguh pada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah di beri petunjuk kejalan yang lurus. ( QS. Ali Imran : 1).