Islam adalah agama yang sempurna
yang mengatur segala aspek kehidupan manusia baik untuk kehidupan dunia maupun untuk kehidupan akhirat.Islam telah
dinyatakan sempurna oleh Tuhan yang menurunkan-N,ya(Q.S Al Maidah:3).Oleh
karena itu umat Islam sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW,tidak dibolehkan
mengambil ajaran lain ,bid’ah atau
mengadakan berupa kepercayaan maupun ibadah atau mengada-adakan suatu amalan
baru dan mengatasnamakannya sebagai amalan Islam.
Rasulullah
SAW pun telah menyatakan bahwa ajaran Islam telah sempurna, tidak ada satu pun yang
telah tertinggal yang dapat mendekatkan kita kepada surga atau menjauhkan kita
pada neraka semuanya telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Oleh karena itu,
Rasulullah SAW menyatakan bahwa “barang siapa yang mengada-adakan suatu
perkara yang baru dalam urusan agama maka tertolak”(H.R Bukhari dan
Muslim). Rasulullah SAW berpesan agar kita menjauhi perkara baru (dalam agama) yang
diada-adakan,karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap
bid’ah adalah sesat (H.R Abu daud,Ad Darimi dan Tirmidzi)
Dalam
masyarakat di lingkungan kita yang beragama Islam kadang kita dapati suatu kepercayaan dan
amalan-amalan yang tidak didapati keterangannya dalam Al Quran dan sunnah
Rasul,melainkan bersumber dari kebiasaan orang tua yang berlangsung secara
turun temurun (tradisianal),baik yang berdiri sendiri maupun yang dipadukan
dengan ibadah sunnah. Padahal Allah melarang kita,
“Janganlah mencampuradukkan antara yang haq
dengan yang batil dan janganlah menyembunyikan yang haq itu sedang kamu
mengetahuinya” (Q.S
Al Baqarah:42)
Agar
kita tidak terlibat dalam kesesatan,secara terbuka melakukan dosa dan
pelanggaran,maka penulis mencoba mengemukakan berbagai kepercayaan yang berkembang
dalam masyarakat yang pada tulisan ini-tentang kematian.
A. Kepercayaan-kepercayaan yang berhubungan dengan kematian
Berbagai kepercayaan
yang berkembang secara tradisi dalam masyarakat Islam sehubungan dengan kematian yang
perlu kita lihat kebenarannya,antara lain:
1.
Roh gentayangan atau berkeliaran
Berbagai kepercayaan masyarakat
tentang roh orang yang telah mati, di antaranya
:
a.
Roh gentayangan,yaitu roh yang diyakini tidak/ belum mempunyai
tempat yang tetap di alam kubur. Roh gentayangan ini lahir berbagai istilah,di antaranya
arwah penasaran, pocong,hantu,sundel bolong,kuntilanak,dan lain-lain. Roh
gentayangan ini diyakini masih berkeliaran di muka bumi dan menganggu
orang-orang masih hidup,terutama yang terkait dengan sebab-sebab kematianya.
b.
Roh berkeliaran,yaitu ada dua:
1).Roh yang memiliki tempat di
alam kubur,melainkan masih berkeliaran di rumahnya selama 40 hari atau masih
berkeliaran di kuburannya selama setahun.
2).Roh yang diyakini sudah
memiliki tempat dialam kubur,namun pada waktu-waktu tertentu berkeliaran di muka
bumi atau menemui keluarganya,seperti memasuki bulan puasa,pada hari
lebaran,dan sebagainya.
c.
Roh kembali ke dunia,yaitu roh yang diyakini memperoleh izin dari
Allah (karena ketinggian ilmu tariqatnya)untuk menjalani kembali kehidupan
dunia ditempat atau pada tubuh yang lain (reinkarnasi dalam istilah Hindu).
Kepercayaan
terhadap roh gentayangan melahirkan ritual mengusir roh jahat,sedangkan
kepercayaan kepada roh berkeliaran melahirkan ritual “assuro ammaca”dan
kepercayaan kepada kehidupan kembali (reingkarnasi) mendorong manusia menuntut
ilmu tariqat. Apakah semua itu benar menurut tinjauan Al Quran dan Sunnah
Rasulullah SAW?
Allah
melalui Al Quran tidak mengajarkan adanya roh manusia yang sudah berada di dalam kubur (baik roh yang baik
maupun roh yang jahat) bisa kembali berkeliaran di muka bumi ini baik mencelakai
atau menolong manusia yang masih hidup. Tidak ada pula keterangan dalam Al
Quran bahwa orang mati bisa masuk ke dalam tubuh manusia yang masih hidup (kesurupan).
Allah
dalam Q.S Al Mu’minum:99-100 memberitakan bahwa orang-orang yang telah
dikuburkan mustahil bisa kembali kedunia,kecuali dibangkitkan setelah hari
kiamat. Orang-orang kafir (roh jahat) terkurung dalam penjara alam
kubur. Dan pada ayat lain (Q.S Ar Ruum:56), jadi tidak ada kekuasaan manusia
(yang telah berada di alam kubur)untuk bisa kembali ke dunia ini .(Selanjutnya
baca:15.Menelusuri Jejak Roh Gentayangan).
2.
Jazad lenyap dikuburan dan hidup
kembali ditempat lain
Dalam
masyarakat Islam
berkembang suatu kepercayaan bahwa seorang yang telah dikuburkan (mati)
jazadnya bisa lenyap di dalam kubur dan bisa hidup kembali menjalani hidup
seperti semula,tetapi tinggal di tempat atau pada tubuh yang lain.Sebagian umat
Islam percaya (terutama pengikut suatu aliran terikat) karena di antara
guru-gurunya ada yang mengaku telah beberapa kali mati atau telah
dikuburkan,bahkan di antara umat Islam ada yang pernah mendengar atau pernah
melihat seseorang yang telah dikuburkan menampatkan diri di tempat lain,setelah
digali kuburannya ternyata jazad orang tersebut sudah tidak ada di dalam kubur.
Sebagian
guru tariqat mengajarkan bahwa ibadah itu ada 2,yaitu ibadah lahir (syariat)
dan ibadah batin (hakikat).Diajarkan pula bahwa ibadah batin (rahasia) itu
diajarkan langsung oleh Allah kepada gurunya atau ajaran Allah kepada
Rasulullah SAW tetapi dirahasiakan oleh Rasulullah SAW yang hanya diajarkan
kepad sahabat-sahabat yang dekat padanya.
Di antara
ilmu rahasia itu,adalah sembahyang batin yang hanya berupa suara batin yang
hanya berupa suara dalam tubuh. Bagi siapa yang mendapatkan ilmu ini maka dia
tidak perlu lagi melaksanakan sembahyang lahir (shalat lima waktu). Pemilik
ilmu ini dijamin masuk surga, bebas pemeriksaan di dalam kubur dan bebas
pemeriksaan di dalam kubur dan bebas ( diizinkan oleh Allah
) untuk hidup kembali di muka bumi seperti manusia lainya yang belum pernah
mati. Bagi pemilik ilmu ini maka jazadnya dijamin lenyap di kuburan. Apakah
Allah dan Rasul-Nya mengajarkan yang demikian ?.
Allah
melalui Al Quran telah menyatakan Al Quran adalah kebenaran yang tidak bisa
diragukan lagi,sebagai petunjuk bagi umat Islam,yaitu petunjuk bagi orang
beriman kepada yang gaib (Q.S Al Baqarah:2) kematian dan alam kubur tredapat
dalam Al Quran adalah bagian dari keagaiban. Oleh karena itu,informasi/keterangan
yang benar tentang kematian dan alam kubur terdapat dalam Al Quran.
Ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Al Quran adalah ajaran sesat yang
berasal dari setan.(Q.S Zukruf:36).
Ajaran Islam adalah wahyu dari Allah yang
diajarkan oleh Jibril kepada Muhammad SAW dan menjadi tugas Nabi/Rasul untuk menyampaikan
kepada seluruh umat tanpa ada yang disimpan/dirahasiakan,sebagaimana yang
diperintahkan Allah kepada Rasulullah SAW “Wahai Rasul sampaikanlah apa yang
diturunkan kepada kepadamu,jika kamu
tidak melakukanya,berarti kamu termasuk orang yang berkhianat”dan Rasulullah
SAW tidak akan mungkin membuat –buat ajaran selain dari wahyu Allah yang
diperintahkan untuk sebarkan seluruhnya.Allah telah menjamin bahwa Nabi tidak
akan membuat suatu ajaran selain dari wahyu Allah yang diperintahkan untuk
sebarkan seluruhnya.Allah telah menjamin bahwa Nabi Muhammad tidak akan membuat
suatu ajaran selain wahyu Allah. Jika itu terjadi atas nama Allah,”niscaya
benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya,kemudian benar-benar kami
potong urat tali jantungnya”(Q.S Al Haggah:45-46).
Rasulullah
SAW sebagai suri tauladan bagi umat Islam (Q.S Al Ahzab:21) telah mengajarkan
dan mencontohkan cara shalat yang benar dan telah bersabda”shalatnlah kamu sebagaimana engkau melihat aku
shalat”(H.R
Bukhari).Jadi shalat yang sah di sisi Alllah adalah shalat yang telah
diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW ,yaitu berupa bacaan dan gerakan
pada waktu yang telah ditentukan,tidak ada shalat yang hanya berupa membunyikan
sesuatu dalam tubuh.
Islam tidak
mengenal reinkarnasi,yaitu hidup kembali sebelum datangnya kiamat,yang ada
adalah hidup kembali setelah kiamat,sebagaimana firman Allaah “Dialah
yang menciptakanmu dari tanah,sesudah itu ditentukan ajal (kematianmu),dan ada
lagi satu ajal yang ditentukan “(Q.S Al An’am:2),
”Sesungguhnya
kiamat itu pasti datang ,tidak ada keraguan padanya,dan sesungguhnya Allah akan
membangkitkan kembali orang-orang didalam kubur” (Q.S Al Hajj:7)
Dan pada
ayat lain diterangkan bahwa manusia hidup di alam kubur menurut ketetapan Allah
sampai hari kebangkitan (Q.S Ar Rum:56). Reinkarnasi adalah ajaran kepercayaan
orang-orang Hindu yang kita tidak boleh mengikutinya.
Jazad yang
lenyap di kuburan dan hidup kembali di tempat lain adalah tipu daya setan untuk
menyesatkan manusia agar menuntut atau mengamalkan ilmu/ajaran sesat. Lenyapnya
jazad seseorang di kuburnya itu karena setan (jin) yang mencurinya sedangkan
sosok yang nampak di tempat lain hanyalah penyamaran setan yang menyerupai
orang yang telah mati. Sosok yang nampak itu hanyalah sebuah tipuan,buktinya:
a.
Orang yang (dianggap) hidup kembali itu hanya bisa dilihat sesaat
dan tidak bisa ditemui lagi untuk kedua kalinya.
b.
Tempat tinggalnya tidak jelas
c.
Orang itu tidak bisa kembali ke kampungnya atau menemui
keluarganya
d.
Orang itu hanya bisa dilihat dan tidak bisa disentuh,jadi itu
hanya tipuan mata
3.
Kuburan keramat
Sebagian besar umat Islam percaya
dan selalu mendatangi kuburan orang-orang yang dianggap saleh untuk berdo’a
meminta berkah atau keselamatan. Mereka percaya bahwa bila berdoa di kuburan keramat
maka segala keinginan cepat terkabul.
Mereka percaya bahwa penghuni kuburan keramat itu adalah orang-orang
yang dekat kepada Allah melalui mereka maka Allah akan mengabulkanya.
Para pemuja kuburan keramat sangat
percaya dan menghormati kuburan keramat itu,dengan membangun kuburan,melakukan
ibadah di tempat itu,bernazar dan mempersembahkan sesajian ,berupa
penyembelihan hewan dan berbagai macam makanan penghormatan kepada kuburan
keramat akan mendatangkan keberuntungan,sebaliknya penghinaan atau melupakan
kuburan keramat akan mendatangkan keburukan atau kesialan. Sudah begitu banyak
orang yang sukses memperoleh pangkat/jabatan yang tinggi atau kekayaan yang
melimpah karena selalu mendatangi kuburan kermat.
Secara historis,pemujaan terhadap
kuburan orang-orang saleh telah ada jauh belum lahirnya Nabi Muhammad SAW
,yaitu dimulai oleh generasi kelima Nabi Adam AS atau pada zaman Nabi Nuh as.
Mereka membangun kuburan dan membuatkan patung di atasnya dengan maksud
mengenang jasa-jasa orang-orang saleh itu dalam mengajarkan agama. Sepeninggal
Rasulullah SAW,pemujaan terhadap kuburan cucu Raulullah SAW , Hasan dan Huzain yang
terbunuh pada peristiwa Karbala. Namun,ketika berdiri dinasti Sa’ud di
Mekah(gerakan wanabi),pemujaan seperti itu dilarang.
Di Indonesia,pemujaan terhadap
kuburan orang-orang saleh dilakukan pada kuburan para wali penyebar agama
Islam. Pemujaan ini masih berlangsung sampai sekarang,pada hal kongres Islam I
di Mekah pada tahun 1926 telah menolak amalan tersebut (yang diusulkan oleh
ulama tradisional ) karena dianggap mengandung kesesatan dan kesyirikan.
Benarkah keberadaan kuburan keramat itu,tentunya jawabannya ada pada AL Quran
dan sunnah Rasul-Nya
Dalam Al Quran ,Allah
menyatakan bahwa wali-wali Allah adalah
orang-orang yang beriman dan bertakwa,tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan
tidak pula bersedih hati terhadap kehidupan akhirat (Q.S Yunus:62-63). Orang
salehpun kalau telah mati tidak bisa lagi menolong atau membantu urusan orang yang
masih hidup,baik dalam urusan rezki,jabatan atau kesembuhan. Justru orang yang
masih hiduplah yang disyariatkan untuk memohonkan ampunan bagi saudara kita
(seagama) yang telah mati (H.R Abu Daud). Bertolong menolong dalam kebajikan
dan ketakwaan itu hanya disyariatkan bagi manusiayang masih hidup,bukan bagi
manusia yang telah mati (Q.S Al Maidah:2)
Berbagai kemungkaran yang terjadi
dalam penghormatan terhadap kuburan orang-orang saleh (keramat),diantaranya:
a.
Membangun dan memperindah kuburan yang mirip dengan sebuah
rumah,adalah perbuatan yang dilarang Rasulullah SAW
“Rasulullah
SAW melarang mengkapuri (mewarnai) kubur dan mendudukinya dan membina atasnya “ (H.R Muslim)
“Rasulullah
SAW melarang didirikan sesuatu di atas kuburan atau menambah di atasnya(H.R
Nasai)
b.
Meyalakan obor atau lilin dan sejenisnya di atas kuburan adalah
perbuatan yang dilaknat oleh Allah (H.R Abu Daud dan Nasai)
c.
Berzikir dan berdoa memohon berkah atau keselamatan di kuburan
adalah perbuatan bid’ah yang sesat. Tempat berdoa adalah di mesjid atau di
rumah setelah shalat (H.R Bukhari dan Muslim)
d.
Mempersembahkan sesajian kepada oarang yang telah mati adalah yang
termasuk perbuatan sesat,karena makanan itu hanya diperuntukkan bagi orang yang
masih hidup. Jadi termasuk perbuatan boros,sebagai perbuatan setan (Q.S Al Israa:27)
e.
Menyembeli hewan dikuburan atau atas nama penghuni kuburan adalah
termasuk perbuatan syirik,sehingga daging sembelihan seperti itu haram dimakan. (Q.S Al Maidah
:3).
Berdasrkan ayat-ayat di atas maka
jelaslah bahwa sengaja mendatangi suatu kuburan untuk berdoa yang berhubungan
dengan kepentingan dunia kita,adalah perbuatan sesat,yang disyariatkan adalah
mendatangi kuburan keluarga atau kerabat untuk mendoakan keselamatannya dan untuk
mengingatkan kita kepada kematian (H.R Tirmidzi) dan untuk mengurangi kecintaan kepada dunia (H.R
Ibnuh Majah).Jadi Islam tidak mengajarkan adanya kuburan keramat,itu hanya
diada-adakan oleh orang-orang yang tidak memahami syariat.
4.
Makanan Dan Kendaraan Penghuni
Dalam Kubur
Sebagian besar di antara kita yang beragama Islam percaya bahwa
orang-orang yang telah dikuburkan masih menunggu kiriman makanan dunia dari
keluarganya atau pada waktu-waktu mereka kembali ke rumah keluarganya meminta
makanan (sedekah). Kepercayaan ini membuat sebahagian di antara kita melakukan
ritual pengiriman makanan atau menjamu orang mati yang disebut ”assuro ammaca”.
Dengan “assuro ammaca”maka kita akan merasa aman dari gangguan roh-roh keluarga
yang telah mati dan termasuk tanda kecintaan terhadap keluarga kita di alam
kubur.
Mereka percaya pula bahwa kambing
ataupun sapi/kerbau yang disembelih atas nama orang yang telah mati akan
menjadi kendaraannya atau teman menuju negeri akhirat atau dari alam kubur
kepadan Mahsyar. Orang mati yang tidak disembelihkan hewan aqiqah akan
kesulitan menuju ke tempatnya di akhirat atau akan tersiksa berjalan kaki,atau
akan memanggil saudaranya/keluarganya untuk menemaninya. Benarkah semua itu? ya
benar kalau sesuai dangan Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.
Beberapa ayat dalam Al Quran
menyatakan bahwa hidup kita di kampung akhirat tergantung pada amal-amal yang
kita akan bawa. Kita tidak akan memperoleh kebaikan kecuali kalau membawa
kabaikan dan tidak akan memperoleh keburukan kecuali kalau mambawa keburukan.
“ Barangsiapa
yang berbuat baik maka untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat
buruk maka untuk keburukan dirinya sendiri”(Q.S Fushilat:46)
“ Dan
tidak dibalas kamu,melainkan apa yang kamu kerjakan”(Q.S Al Israa:15,Yasiin:54,Fathir:
18)
“ sesungguhnya
kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan”(Q.S At
Tahrim:7)
Makanan dunia yang dihidangkan
untuk orang mati ataupun yang dikirim kepadanya mustahil akan sampai atau
dinikmati olehnya sebab terjadinya perbedaan materi. Makanan dunia dan makanan
roh (akhirat) berbeda materinya. Halusnya makanan dunia bukan dinikmati oleh
roh orang mati melainkan dinikmati oleh setan-setan dari bangsa jin berdasarkan
keteragan Rasulullah SAW (H.R Muslim).
Begitupun halnya penyembelihan
hewan aqiqah untuk orang yang telah mati,adalah suatu kesalahpahaman.
Penyembelihan hewan aqiqah hanya disyariatkan kepada orang tua terhadap anaknya
yang baru lahir sebagai tebusan amanah dari Allah yang disembelih pada hari
ketujuh kelahirannya (H.R Ahmad,Abu Daud,Tirmidzi),jadi tidak disyariatkan
kepada orang hidup terhadap orang mati pada hari ketujuh kematiannya. Adapun
kendaraan orang-orang mati dari alam dunia ke alam kubur itu disediakan oleh
Allah melalui malaikat yang menjempunya (malaikat maut) sesuai dengan keadaan
rohnya,sedangkan kendaraan dari alam kubur ke Padang Mahsyar disediakan oleh
Allah sesuai dengan keadaan amalnya.
Kepercayaan tentang orang mati
menikmati makanan orang dunia atau hewan sembelihan sebagai kendaraan orang mati
bertentangan dengan akidah Islam dan merupakan tipu daya setan untuk
menyesatkan manusia dari jalan Allah ,yang benar adalah bahwa makanan dan hewan
sembelihan hanya diperuntukkan bagi orang-orang dunia dan bilamana kita
menyembelih hewan atas nama orang yang telah mati maka itu termasuk perbuatan
yang melanggar syariat (Q.S Al Maidah:3) dan termasuk perbuatan boros sebagai
perbuatan setan (Q.S Al Israa:27)
5.
Malam Pertama Didalam Kubur
Kebanyakan di antara kita percaya
bahwa roh orang mati mengalami pemeriksaan pada malam pertama di dalam kubur. Benarkah itu? Bisa
saja benar dan bisa saja tidak. Allah melalui Al Quran menceritakan tentang
kehidupan alam kubur sebagai masa menunggu datangnya hari kiamat/pembalasan
(Q.S Al Mu’minuum:99-100,Al Hajj:7 atau Ar Ruum:56) sedangkan awal kehidupan
manusia di alam kubur dijelaskan oleh Rasulullah SAW.
Menurut keterangan Rasulullah
SAW,bahwa bila roh telah keluar meninggalkan tubuh,roh itu langsung dipegang
oleh Malaikat lalu diantar menuju ke langit menghadap Allah . Bila roh itu telah
tercatat di langit sebagai calon penghuni surga ata calon penghuni neraka maka
diperintahkan dikembalikan roh itu ke dunia dan bertemu kembali di dalam
kubur(H.R Ahmad)
Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW
bersabda”Apabila seorang telah dibaringkan dikuburnya dan telah ditinggalkan
oleh teman-temannya,maka sungguh dia mendengar langkah sandal mereka.Dia
didatangi oleh dua malaikat,lalu keduanya mendudukkanya , kemudian ditanyakan
kepadanya”(H.R Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis lain diceritakan bahwa
Rasulullah apabila selesai manguburkan mayat,beliau berdiri dia pinggir kubur
itu dan berkata”mintakkanlah ampunan bagi saudara kamu dan mintakkanlah ketetapan
baginya karena ia sedang ditanya”(H.R Abu Daud)
Berdasarkan keterangan keterangan hadis di atas jelaslah bahwa
istilah malam pertama di dalam kubur tidak bisa dibuktikan
kebenarannya,kecuali kalau orang yang mati itu dikuburkan pada malam hari. Yang benar adalah bahwa
pemeriksaan kubur dilaksanakan setelah manusia itu selesai dikuburkan. Bila
dikuburkan di siang hari maka pemeriksaan dilakukan di siang hari tanpa menuggu
malam hari. Dan bukan hanya orang yang dikuburkan atau diperiksa, melainkan semua orang yang mati bila akan
memasuki alam kubur maka terlebih dahulu menghadapi pos pemeriksaan. Apa
isi pemeriksaan itu?
Dalam sebuah hadis sahih diterangkan oleh Rasulullah SAW bahwa kedua malaikat
mendudukkanya ( orang mati)lalu ditanya kepadanya”Menurut kamu siapa Muhammad
itu?”kalau dia orang mukmin dia menjawab”Aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah
hamba Allah dan utusanya”(H.R Bukhari dan Muslim). Dan pada hadist lainya
diterangkan bahwa “orang mukmin yang telah mati ditanya siapa Tuahnnmu?Dia
menjawab ,Tuhanku adalah Allah dan Nabiku adalah muhammad SAW”(H.R Bukhari dan
Muslim).
Dan pada hadis lain
diterangkan bahwa pertanyaan di dalam kubur adalah: “Dan ruh itu
pun dikembalikan ke jasadnya. Kemudian datanglah dua malaikat yang
mendudukannya dan bertanya kepadanya,’Siapa Tuhanmu?’ dia pun menjawab,’Tuhanku
Allah.’ Keduanya bertanya lagi,’Apa agamamu?’ dia menjawab,’Agamaku Islam.’
Keduanya bertanya,’Siapa lelaki yang diutus kepada kalian ini?’ dia
menjawab,’Dia adalah Rasulullah saw.’ Keduanya bertanya lagi,’Apa ilmumu?’ dia
menjawab,’Aku membaca Al Qur’an, Kitab Allah, aku mengimaninya dan
membenarkannya.’ (HR.Ahmad).
Dan ada pula hadis, yang sebagian
ulama mengatakan bahwa hadist itu lemah bahkan ada yang menganggap sebagai
hadist palsu menerangkan tentang pertanyaan didalam kubur.
“Dari
Dlambra Bin Hab seorang dari tabi’in,ia berkata; Apabila sudah dinyatakan kubur
si manyat dan orang pun pulang dari padanya mereka berkata di sisi kuburnya;”
Hai si Fulan.Katakanlah Tuhanku adalah Allah,Agamaku adalah islam,dan Nabiku
adalah Muhammad”(HR.Said
bin manshur),hadis inilah yang menjadi dasar dari sebagian besar umat islam
untuk mentalgin orang yang telah dikuburkan.Padahal mentalgin orang yang telah
dikuburkan tidak dianjurkan dan tidak pula dilakukan oleh Rasulullah SAW.Yang
diajarkan oleh Rasulullah SAW adalah mentalgin (mengajar) orang yang hampir
mati mengucapkan “Laa Ilaahaillallah)” (HR.muslim).Seorang-orang yang
telah dikuburkan hanyalah di do’akan:”mintakallah ampunan bagi saudara kamu dan
mintakanlah ketetapan baginya karena ia seorang ditanya”(HR.Abu Dawud).
Berdasarkan hadis di atas jelaslah bahwa pertayaan
didalam kubur adalah yang berhubungan dengan
Agidah/imam.Dan
bukan lagi waktunya untuk mengajar orang yang telah mati/dikuburkan untuk mengucapkan “Laa
Ilaahaillallah atau Muhammadan Rasulullah”.Kesempatan terakhir mengajar manusia
saat-saat terakhir menjelang kematiannya.Allah mensyariatkan kepada kita untuk
mengajari atau memberi peringatan kepada orang-orang masih hidup dan tidak
kepada orang yang telah mati “berikanlah peringatan karena peringatan itu
bermanfaat,orang yang takut kepada
(Allah) akan mendapat pelajaran “ (Q.S.Al A’laa: 9-10).Mentalgin atau
mengajari orang yang telah dikuburkan adalah perbuatan yang sia-sia karena “Sesungguhnya
kamu tidak dapat menjadikan orang yang mati mendengar” (Q.S.An
Naval:80-81,Ar Ruum:52).
6.
Mati karena kecelakaan di malam
hari
Sebagian
umat Islam beranggapan bahwa orang mati kecelakan akan celaka juga di negeri
akhirat dan orang yang mati di malam hari akan mendapati kegelapan dalam hidupnya di dalam kubur.Mati kecelakaan yang dimaksud
antara lain dibunuh oleh manusia atau binatang ,kecelakaan lalu lintas dan
lain-lain.
Sebagian di
antara kita ada yang menuntut dan mengamalkan
ilmu-ilmu yang dapat melindungi dirinya dari berbagai
bentuk kecelakaan,ada yang berupa mantra,jimat-jimat ataupun benda-benda yang
dipercaya sakti.Benarkah bahwa orang
mati kecelakaan akan celaka di akhirat dan orang mati di malam hari akan
menemui kegelapan di alam kubur.Kebenarannya tentu dilihat dari Al-Qur’an dan Sunnah
Rasul-Nya.
Nasib
seorang setelah matinya adalah masalah gaib yang hanya Allah yang lebih
tahu.Walaupun ada yang diberitahukan kepada manusia itu hanyalah sedikit dan
pengetahuan yang sedikit itu telah ada
di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya.
Dalam
Al-Qur’an di terangkan bahwa Allah telah menetapkan kadar (ketentuan) bagi
tiap-tiap sesuatu (Q.S.Ath Thalag:3) Dan
segala peristiwa yang terjadi di muka bumi dan juga pada diri seseorang telah ditetapkan oleh Allah dan tertulis
dalam kitab lauh mahfuzh sebelum menciptakan langit dan bumi (Q.S.Al Hadid:22)
Dan adalah ketetapan Allah itu pasti berlaku/terjadi (Q.S.Al Ahzab:37 dan 38).
Mengenai
nasib seseorang di alam akhirat ,celaka atau bahagia itu tergantung pada bekal
yang dibawanya,bukan dinilai dari cara kematiannya.Orang yang mati dalam
keadaan beriman dan beramal saleh akan bernasib baik (Q.S.Al bagarah:82)
sedangkan orang yang tidak beriman akan bernasib buruk (QS.Al Maidah:10).Orang
yang mati dalam keadaan berdosa maka tempatnya adalah neraka (Q.S.Thaahaa:74) sedangkan
orang yang mati dengan membawa amal saleh tempatnya adalah surga
(Q.S.Thaahaa:112).Orang mati dengan membawa kebaikan maka akan memperoleh
balasan kebaikan (Q.S.An Naml:89).Dan orang yang mati membawa kejahatan,maka
memperoleh balasan keburukan (Q.S.An Naml:90).Orang yang mati dalam keadaan
berbakti kepada Allah akan di tempatkan di dalam surga sedangkan orang yang
mati dalam keadaan durhaka akan di tempatkan di dalam neraka (Q.S.al
Infithaar:13-14) dan masih banyak ayat lainnya yang menerangkan bahwa celaka
tidaknya manusia di negeri akhirat tengantung pada awal yang di bawanya.
Rasulullah
SAW dalam sebuah hadis menjelaskan bahwa setelah manusia berumur 120 hari dalam
rahim ibu, Allah lalu mengutus seorang malaikat untuk meniupkan roh ke dalam tubuhnya.malaikat
itupun diperintahkan mencatat empat kalimat, yaitu rezekinya, ajalnya, amal
perbuatannya, celaka atau bahagianya (menjadi penghuni neraka atau penghuni
surga” ( HR Muslim ). Hadis ini sesuai dengan firman Allah , “ Dan
kami tetepkan dalam rahim apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah
ditentukan” (QS. Al Hajj : 5 ).
Kita tidak
boleh beranggapan bahwa mati karena kecelakaan akan membuat kita celaka,
kecuali orang yang mati karena kecelakaan itu membawa dosa-dosa dan mati
sebelum bertaubat. Di antara orang yang mati kecelakaan itu ada yang tergolong
sebagai mati sahid atau mati di jalan Allah. Orang yang mati di jalan Allah
akan di ampuni dosa-dosanya ( HR. Muslim
). Yang termasuk mati di jalan Allah , antara lain :
v Orang yang
mati terbunuh karena bertempur di jalan Allah.
v Orang yang
mati karena tenggelam
v Orang yang
mati karena penyakit keras
v Orang yang
mati karena banyak mengeluarkan darah
v Orang yang
mati karena sakit perut ( HR. Bukhari dan Muslim ). Termasuk pula orang tang
terbunuh karena mempertahankan hartanya. ( HR. Muslim )
Kepercayaan bahwa orang yang mati
kecelakaan akan celaka adalah celaka di akhirat adalah kepercayaan yang
dihembuskan oleh setan dalam rangka menyesatkan manusia, agar manusia menuntut
ilmu-ilmu sesat. Memakai jimak-jimak atau benda-benda lain yang dianggap sakti
yang semuanya itu adalah perbuatan syirik, karena mengambil pelindung selain
Allah.meminta perlindungan kepada setan / jin hanya akan menambah dosa dan
kesalahan. ( QS. Al Jin : 6 ).
Menuntut dan mengamalkan ilmu yang bertentangan dengan Al Quran maka ilmu itu
adalah ilmu sesat yang disebarkan oleh setan. Setan akan mendampingi
orang-orang yang mengamalkan ajarannya “dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat
petunjuk” Q.S Az Zukhruf : 36 ).
Orang
mati kecelakaan yang bisa kita katakan celaka bilamana pada tubuh orang itu
tergantung sebuah jimak, berarti dia mati dalam kesyirikan, sebagaimana sabda
Rasulullah SAW “jampi-jampi, jimak-jimak dan tilawah adalah syirik” (HR. Ahmad
dan Abu Daud)
“ Barang siapa yang menggantungkan jimak penangkal pada tubuhnya,
maka Allah tidak akan menyempurnakan kehendaknya” ( HR. Abu
Daud ). Syirik adalah perbuatan dosa besar, yang Allah tidak akan mengampuninya
(QS. An Nisa : 48 ).
Perlindungan
yang sejenis dengan jimak-jimak adalah jampi-jampi dan tilawah. Jampi-jampi
berupa minyak atau suatu makanan yang telah di mantrai oleh seseorang ( dukun ) lalu dipakai sebagai pelindung.
Sedangkan mantra adalah sejenis bacaan atau doa dalam bahasa daerah. Mantra
sebenarnya boleh dipakai asalkan tidak mengandung syirik, (HR. Muslim). Tetapi
mantra yang diamalkan oleh kebanyakan manusia, umumnya mengandung syirik karena
meminta perlindungan kepada selain Allah. Ada yang meminta kepada jibril, ada
pula yang meminta perlindungan kepada bayangannya yang diberinya nama
“Labolong” atau “malekleng”. Manakala kita memakai jampi-jampi, jimak-jimak,
dan mantra-mantra maka setan dari bangsa jin akan menyertai kita memberi
perlindungan, melindungi kita dari malapetaka atau orang-orang yang ingin
mencelakai kita. Dan kita menyangka bahwa orang yang memakai jampi jimak dan mantra adalah orang yang di
sayangi Allah, yang selalu di jaga dan di lindunginya, padahal mereka tidak
menyadari bahwa sesungguhnya dosa-dosa mereka semakin bertambah ( QS. Al Jin :
6 ), mereka semakin dekat dengan setan yang akan selalu menyesatkan dan
menghalanginya dari jalan Allah, ( Qs. Az Zukhruf : 36 )
7.
Siram air
dan tabur bunga di kuburan
Sudah menjadi kebiasan masyarakat setiap kali ziarah kubur maka
pasti membawa cerek yang berisi air.Sebelum tabor bunga maka kubur terlebih
dahulu disiram.Siram air memang ada dalilnya bahwa pernah dilakukan oleh
Rasulullah ketika menguburkan putranya yang bernama Ibrahim,namun itu tidak
bisa dijadikan sebagai suatu keharusan atau suatu kepercayaan bahwa siram air
bermanfaat bagi si mayit.Karena ada hadis lain yang berkata lain,Seperti dari
hadis Aisyah tidak mengatakan bahwa Rasulullah SAW membawa air dan menyiramkan
di kuburan sahabatnya saat diperintahkan Jibril berziarah di kuburan
baqi,begitupun saat Aisyah bertanya kepada Rasulullah tentang cara ziarah
kubur,Rasulullah tidak mengajarkan siram air melainkan hanya salam dan doa.Lagi
pula telah dijelaskan sebelumnya bahwa yang bermanfaat bagi orang mati hanyalah
doa, sedekah atas
nama orang mat,bayar utangnya dan sebagainya,jadi tidak ada siram air.
Begitupun
Tabur bunga sepertinya telah menjadi keharusan dilakukan terhadap kuburan
sebelum ditalqin.Bunga yang ditabur di atas kuburan beraneka warna dan di
antaranya terdapat potongan-potongan daun pandan.Ada pula yang memberikan bunga
dalam bentuk rangkaian atau karangan bunga.
Sebagian
ulama berpendapat bahwa tabur bunga adalah bid’ah yang tidak pernah diajarkan
atau dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan bahkan ada yang mengatakan bahwa tabur
bunga di kuburan adalah tradisi umat agama lain,padahal Rasulullah SAW telah
menyatakan bahwa “barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka termasuklah ia kaum itu” (HR.Ahmad),artinya
bila mati mereka akan dibangkitkan bersama dengan kaum yang ditirunya dalam
urusan amalan ibadah.
Sebagian
ulama lain membolehkan dan menganggap sunnah menabur bunga di kuburan dengan
menghubungkan perbuatan Rasullullah SAW yang meletakkan pelepah kurma di atas
dua kuburan,Lalu
Beliau bersabda: “Sesungguhnya kedua-duanya
sedang diazab dan tidaklah kedua-duanya diazab karena dosa besar. Adapun yang
ini diazab karena tidak menjaga
(kebersihan) daripada kencing sedangkan yang lainnya karena suka mengadu
domba.” Lalu
Nabi SAW meminta pelepah dan mematahkannya (menjadi) dua bagian. Kemudian
Beliau menancapkan di atas (kubur) ini satu dan di atas (kubur) ini satu. Para
sahabat Nabi bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?”
Beliau menjawab: “Mudah-mudahan
diringankan azab itu daripada kedua-duanya selama pelepah kurma itu belum
kering.” (HR. Bukhari).
Hadis tersebut di atas tidak bisa dijadikan
landasan untuk mengkiaskan bunga dengan pelepah kurma karena Rasulullah SAW
meletakkan pelepah kurma di atas kedua kuburan tersebut karena mendapat wahyu
bahwa kedua penghuni kuburan itu sedang disiksa,jadi hanya dilakukan pada kedua
kuburan itu dan tidak dilakukan pada kuburan sahabat-sahabatnya yang
lain,sehingga para sahabat menganggapnya bahwa meletakkan pelepah kurma di
kuburan hanya bisa dilakukan oleh Rasulullah SAW karena beliau mendapat
wahyu.Sedangkan kita, siapa yang memberi wahyu bahwa penghuni kuburan yang kita
ziarahi sedang disiksa sehingga kitapun mau meletakkan pelepah kurma,dengan
alasan karena tidak ada pelepah kurma di kampung kita sehingga diganti dengan
bunga,mengapa bukan dengan pelepah kelapa atau pelepah pisang,bukankah
sama-sama pelepah ?.Itulah sebabnya para sahabat Rasulullah SAW tidak ada
meniru perbuatan Rasulullah SAW tersebut yaitu meletakkan pelepah kurma di atas
kuburan apalagi dengan bunga,padahal tidak menutup kemungkinan bahwa pada zaman
Rasulullah SAW atau para sahabat telah banyak bunga di Mekah atau di
Madinah.Yang diajarkan Rasulullah SAW setelah penguburan saudara kita adalah
berdiri mendoakannya,
: “Mintakanlah
ampunan bagi saudara kamu dan mintakanlah ketetapan baginya karena ia sedang
ditanya” (HR. Abu Daud).Dan ketika berziarah kuburan diajarkan
mengucapkan salam dan mendoakannya,Ketika
Aisyah (istri Rasulullah) bertanya: “Apa
yang harus aku ucapkan bagi mereka (shahibul qubur) wahai Rasulullah? Beliau
bersabda ”Ucapkanlah, Salam sejahtera untuk kalian wahai kaum muslimin dan
mukminin penghuni kubur. Semoga Allah merahmati orang-orang yang telah
mendahului dan juga orang-orang yang diakhirkan. Sungguh, Insya Allah kami pun
akan menyusul kalian”. (HR.
Muslim) .
8.
Kepercayaan
dalam sakratul maut
Berbagai kepercayaan yang muncul sehubungan
dengan sakratul maut, di antaranya ada yang percaya bahwa yang datang adalah sosok
orang tua yang telah mati, sosok guru bagi yang bertariqat, bahkan lebih dari
itu ada yang percaya akan dijemput langsung oleh Allah dalam wujud yang
berbeda-beda. Ada yang percaya dalam rupa diri kita sendiri yang berpayung
emas, ada yang percaya dalam wujud cahaya besar tinggi seperti batang kelapa,
dan lain-lain. Di antara yang percaya seperti ada yang menuntut dan mengamalkan
ilmu yang bisa menyelamatkan kita dari beratnya sakratul maut, agar tidak
diganggu oleh setan dan agar meninggalkan dunia ini dengan selamat di antaranya
sahadat batin dan junub. Sahadat batin dipercaya sebagai janji kepada Nabi
Muhammad SAW berupa bunyi tertentu di leher ketika sakratul maut. Orang yang
mendapat dan mengamalkan ilmu ini tidak perlu mengucapkan lailaha illallah atau
dua kalimat sahadat tetapi diganti dengan bunyi tersebut. Guru tariqatnya mengajarkan bahwa bunyi itu adalah sahadat
yang asli (sahadatnya sahadat) sedangkan sahadat yang diucapkan itu hanyalah sebuah kalimat (tidak asli).
Barang siapa yang akhir hidupnya berhasil membunyikan sahadat itu maka akan
selamat dan hidup bersama Nabi Muhammad.
Begitupun halnya junub
yang dipercaya sebagai janji kita dengan surga, yaitu berupa orgasme (keluar
mati) ketika sakratul maut. Mereka percaya bahwa orang yang orgasme ketika
sakratul maut akan selamat dan dijamin masuk surga karena itu sudah menjadi
perjanjian dengan surga. Mereka beranggapan bahwa karena mereka diciptakan
melalui orgasme (pancaran mani) maka ia harus tutup hidup ini dengan orgasme pula.
Benarkah semua anggapan di atas?. Allah dan Rasul-Nya telah memberikan
keterangan yang jelas tentang sakratul maut. Kematian itu diawali dengan sakratul maut, sebagaimna, firman Allah “Dan
datanglah sakratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang selalu kamu lari
dari padanya “(QS. Qaaf : 19 ). Sakratul maut adalah roh meninggalkan
jazad perlahan-lahan melewati kerongkongan, “(apabila nafas (seseorang) telah
(mendesak) sampai kekorongkongan dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu
perjalanan (dengan dunia) “(QS. AL Qiyaamah : 26 dan 28).
Menurut Al Quran,
bahwa Apabila datang kematian kepada
salah seorang di antara kamu, diwafatkan oleh malaikat-malaikat kami dan
malaikat-malaikat itu tidak melalaikan kewajibannya “Maka mengapa ketika nyawa sampai
di kerongkongan, padahal kamu ketika itu
melihat, dan kami lebih dekat kepadanya
dari pada kamu, tetapi kamu tidak melihat” ( QS. Al Waaqiah : 83-85)
Malaikat maut itu akan
menampakkan dirinya di hadapan orang yang dijemputnya dengan sosok /rupa yang
disesuaikan dengan keadaan roh/amal orang itu. Orang yang beramal baik akan
didatangi oleh malaikat lemah lembut atau berpenampilan yang baik sedangkan
orang yang banyak berdosa akan di datangi oleh malaikat yang berpenampilan dan
berperilaku yang kasar. (QS An Naa’ziaat : 1-2). Hal ini diterangkan pula pada
ayat lain bahwa “orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat
dengan mengatakan “salamun alaikum”
masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan
“(QS. An Naml : 32), atau malaikat itu datang dengan mengatakan “hai
jiwa yang tenang, kembalilah kepada tuhanmu dengan hati yang puas lagi di
ridhoinya “( QS. Al Fajr : 27). Orang yang banyak dosa akan didatangi
oleh malaikat dengan sosok yang menakutkan, kasar dan tanpa mengucapkan salam
kepada orang yang akan mati.
Kedatangan malaikat
menjelang kematian, dalami setiap manusia, termasuk Nabi Muhammad SAW,
sebagaimana yang diceritakan oleh istri beliau, Aisyah bahwa pada pagi hari
menjelang wafatnya Rasulullah SAW, Rasulullah SAW bersabda kepada orang-orang
yang menjengutnya : “Keluarlah kalian, ada malaikat yang akan menemuiku “Aisyah bertanya :
“Ini bukan pertanda kedatangan Malaikat Maut? “Beliau menjawab : “Benar Aisyah,
yang datang adalah malaikat Maut pencabut nyawa”. Malaikat maut meminta izin
kepada Rasulullah untuk mencabut nyawanya. Rasulullah SAW bersabda : “Tahanlah
sebentar Jibril datang menemuiku”. Kemudian masuklah malaikat Jibril, ia
berkata : “Allah SWT memberi salam kepadamu, Allah menanyakan keadaanmu walaupun
dia lebih tahu keadaanmu “. Bergembiralah karena Allah ingin memberikan semua
yang telah di janjikan kepadamu”.
Sepulang jibril maka datanglah malaikat maut
meminta izin kepada Rasulullah. Beliau lalu mengizinkannya masuk “ya
Muhammad, apa yang engkau minta padaku”
Rasulullah menjawab :” Sekarang pertemukanlah aku dengan Tuhanku” Aisyahpun
lalu mendekati Rasulullah lalu menyandarkan kepala beliau di dadanya. Keringat
dahi beliau mengucur dengan derasnya. Aisyah berkata : “Aku belum pernah
mencium bau sewangi keringat Rasulullah. “ya, rasulullah betapa derasnya
keringat yang mengucur dari dahimu” Rasulullah berkata : Aisyah, sesungguhnya
roh orang mukmin keluar bersama keringatnya, sedangkan roh orang kafir keluar
di mulutnya seperti seekor kedelai”(HR.Bukhari).
Setiap manusia pasti
mengalami sakratul maut, termasuk Nabi Muhammad SAW, sebagaimana yang di
ceritakan oleh Asisyah : “Di depan beliau terdapat tabung yang berisi
air maka beliau memasukkan kedua tangannya dan mengusapkan keduanya kewajahnya
sambil berkata: “Tiada Tuhan selain Allah. Sungguh mati itu ada sekaratnya” (
HR. Bukhari)
Rasulullah SAW pernah
menyebut kematian dan kepedihannya. Beliau bersabda: “ kepedihannya setara dengan tiga
ratus pukulan pedang”. Beliau juga pernah di tanya tentang sakratul maut dan
menjawab : “kematian yang paling ringan adalah seperti duri dalam wol. Tidak
dapat di keluarkan duri dalam wol melainkan tercabut juga wol itu”. Karena
beratnya sakratul amut maka Rasulullah selalu berdoa dan menyuruh kita berdoa
memohon keringanan menghadapi sakratul maut. Ucapan terakhir beliau adalah
“Allahumma Firrafiijil ‘a’laa’) wahai Allah dalam teman tertinggi “ (
HR Bukhari).
Mengenai rupa/sosok
malaikat maut, tidak diterangkan dalam Al Quran dan tidak pula digambarkan oleh
Rasulullah SAW. Namun ada sebuah hadis yang dikutip oleh Iman Al
Gazali dalam sebuah kitabnya bahwa Ibrahim berkata kepada malaikat pencabut
nyawa ,” apakah engkau bisa menampakkan rupamu yang sedang menggenggam roh
pendurhaka?” malaikat maut menjawab : “engkau tidak akan mampu memandangnya”.
Ibrahim lalu berkata : “ya, tetapi tampakkanlah kepadaku” lalu malaikat maut
menampakkan rupanya. Kemudian ia menoleh hingga tampaklah seseorang dengan
kulit hitam, rambut berdiri, berbau busuk, dan pakaian hitam keluar dari
mulutnya. Sementara dari bibirnya berkobar api dan keluar asap. Ibrahim
tiba-tiba jatuh pingsang. Kemudian ia sadar, bahwa malaikat maut itu telah
kembali ke dalam rupa semula.
Ibrahim kemudian
bertanya : “Dapatkah engkau perlihatkan kepadaku rupamu ketika mencabut nyawa
orang mukmin?”. “ya, berpalinglah dariku” malaikat maut menjawab lalu
berpalinglah Ibrahim kemudian menoleh, tiba-tiba ia menghadapi seorang pemuda
dengan wajah yang tampan, pakaian bagus, dan wanginya yang harum. Lalu Ibrahim
berkata “Wahai malaikat maut, kalau engkau tidak menemui seorang mukmin ketika
menjelang kematiannya kecuali dengan rupamu saja, niscaya itu memadai dan dari
situ di peroleh kesaksian dua malaikat penjaga.
Riwayat tersebut diatas walaupun dalam kitab
Iman Al Gazali itu tidak ditulis perawinya namun bisa di terima karena sesuai
dengan Al Quran ( QS. An Naazi’aat : 1-2)
Jika Nabi dan para wali
saja mengalami pedihnya sakratul maut, apa lagi kita yang selalu berlumuran
dosa. Imam Al Gazali mengatakan bahwa bersamaan sakratul maut itu datanglah
berturut-turut kepada kita bencana-bencana
yang lain, antara lain :
a.
Pedihnya pencabutan nyawa
b.
Timbulnya ketakutan dan kenyerian ketika melihat rupa malaikat
pencabutnya yang sedang menggenggam roh seorang hamba pendosa yang orang kuat
sekalipun tidak akan sanggup menandinginya.
c.
Ketika para pendosa melihat tempat mereka di neraka dan ketakutan
mereka karena pemandangan itu, sementara mereka dalam keadaan sekarat. Ruh itu
tidak akan keluar sebelum mendengar perkataan malaikat maut dengan salah satu
dari dua kabar, yaitu kabar akan neraka sebagai tempatnya atau kabar akan surga
sebagai tempatnya. Bagi wali Allah sebagaimana sabda Rasulullah SAW,”siapapun
kalian tidak akan keluar dari dunia hingga mengetahui kemana tempat kembalinya
dan sebelum mengetahui tempat duduknya di surga atau di neraka.
Berdasarkan keterangan-keterangan di atas
maka jelaslah bahwa yang datang menemui kita ketika sakratul maut adalah malaikat
maut dengan rupa yang sesuai dengan keadaan amal atu ruh kita. Jadi anggapan
sebagian manusia bahwa kita akan didatangi/dijemput oleh roh orang tua yang
telah mati, guru, Nabi apalagi Allah yang menyerupai diri kita adalah
salah/sesat. Allah itu mematikan manusia melalui tangan malaikat-Nya, yaitu
malaikat maut. Allah itu tidak bisa diserupakan dengan makhluknya ,tidak ada
yang serupa dengannya ( QS. Asy Asyuura : 11 ). “Dia tidak dapat dicapai oleh
semua mata (mata jasmani atau rohani), sedang dia dapat melihat semua mata “
( QS. Al An’aam : 103). Nabi dan orang-orang saleh saja tidak akan bisa melihat
Allah. Musa As yang bisa bicara langsung dengan Allah tidak bisa melihat Allah.
( QS. Al A’raaf : 143). Rasulullah yang pernah diundang menghadap Allah (isra’
mi’raj) mengaku tidak melihat Allah, hanya malihat cahaya ( HR. Bukhari). Yang
dilihat Nabi ketika itu hanya jibril yang asli ( QS. An Najm : 13-17). Wajah
Allah itu hanya dapat dilihat bila kita berhasil menjadi penghuni surga.
Sebagaimana firmannya, “wajah-wajah para ahli surga pada hari itu
berseri-seri karena dapat melihat kepada Tuhannya” ( QS. Qiamah :
22-23).
Amalan yang di
syariatkan ketika sakratul maut adalah mengucapkan nama Allah atau kalimat yang
mengesakan Allah atau kalimat sahadat. Rasulullah SAW pada akhir hidupnya
mengucapkan kalimat “Allahumma firrafi’ijil a’laa (wahai Allah dalam teman tertinggi) “
( HR. Bukhari). Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa “Talginlah (ajarlah) orang-orang
yang sedang sekarat di antara kalian. Kalimat lailaha illallah” ( HR.
Muslim ). “Barang siapa yang akhir ucapannya itu : “laa ilaaha illallah” dia akan
masuk surga” ( HR. Ahmad dan Abu Daud)
Bagi umat Islam yang memahami ajaran
rasulnya, tentu akan mengamalkan ajaran rasul, tidak mengajari sesamanya
ajaran-ajaran sesat disaat sakratul maut kecuali kalimat “laa ilaaha illallah”.
Dan tidak ada dasar ilmu yang hak atas kepercayaan dan amalan sahadat batin
yang berupa bunyi “Cengukan” di leher atau orgasme ketika sakratul maut.
Sahadat batin mungkin ada kalau mulut kita tidak sanggup lagi mengucapkan
kalimat sahadat, jadi di ucapkan oleh hati kita.
Jadi pendapat – pendapat yang bertentangan
dengan Al Quran atau sunnah rasul tentang tamu-tamu sakratul maut itu jangan
dipercaya dan dijadikan pegangan karena itu boleh jadi adalah tipu daya setan
yang akan menyesatkan kita, apalagi sakratul maut adalah kesempatan terakhir
bagi setan untuk menyesatkan manusia. Dan Allah sudah menyatakan bahwa” barang
siapa yang berpaling dari pengajaran
Tuhan yang maha pemurah ( Al Quran) kami akan adakan baginya setan ( yang akan
menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya
“(QS. AZ Zukhruuf : 36).
9.
Tanda-tanda
datangnya kematian
Dalam masyarakat kita
kadang mendengar seseorang bertanya kepada orang yang sakit parah, “bagaimana
menurutmu, apakah sudah datang pesannya guru (kematian) atau belum?” atau”
bagaimana perasaanya, apakah sudah datang tanda-tandanya atau belum, ”.
Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan lama lagi hidup,
bahkan ada yang minta agar anaknya yang berada di tempat jauh segera . suruh pulang. Ternyata benar. Tetapi tidak
sedikit pula yang salah, meleset dari pesan gurunya. Benarkah kematian itu
dapat di ketahui kedatangannya sebelum terjadi sakratul maut?. Allah dan
Rasulnyalah yang lebih tahu. Kematian adalah ketetapan Allah yang bersifat
gaib, artinya kedatangannya di rahasiakan kepada manusia dan hanya Allahlah
yang lebih mengetahuinya. “Tiada seorangpun di langit dan di bumi yang
mengetahui perkara yang ghaib kecuali Allah, dan mereka tidak mengetahui kapan
mereka di bangkitkan” ( QS. An Naml : 65 ). “Tiada sesuatupun yang ghaib di
langit dan di bumi, melainkan (terdapat dalam) kitab yang nyata (lauh mahfuzh)”
( QS. An Naml : 75 ). Sehingga “Tidak seorangpun manusia yang tahu apa yang
akan di usahakannya besok dan bumi mana akan di kuburkan”.
Manusia baru mengetahui
bahwa kematian telah mendatanginya setelah di datangi oleh malaikat maut untuk
menjemput ruhnya. Allah dan Rasulnya tidak pernah mengajarkan tanda-tanda
datangnya kematian. Hal ini untuk menguji iman seseorang. Kalaupun ada yang
mengetahui batas umurnya dengan mengatakan bahwa tanda-tanda 40 hari lagi, 7 hari lagi, atau 3 hari lagi dia akan mati, maka itu kadang terjadi tanpa kesasaran kita sehingga kita tidak mengetahuinya.
Datangnya kematian
adalah sesuatu yang pasti akan terjadi, namun kita tidak bisa memastikan waktu
terjadinya, yang jelas kita harus selalu siap di jemput oleh malaikat maut.
Kita bisa saja mengira-ngira bahwa kematian telah dekat. Misalnya karena adanya
pengurangan daya pada diri kita, seperti penglihatan atau pendengaran mulai
berkurang, atau rusaknya organ tubuh yang vital misalnya otak, jantung, hati,
ginjal, atau darah yang terus keluar.
Di antara kita ada yang
menjadikan mimpi sebagai tanda bahwa tidak lama lagi malaikat maut akan
menemuinya, antara lain mimpi di tempat oleh seorang keluarga yang telah mati
lalu membawa kita pergi dan tidak kembali lagi, mimpi berada di atas keranda
mayat lalu di angkat oleh orang-orang, mimpi di kuburkan dan lain-lain. Namun
tidak semua mimpi menjadi kenyataan.
Ada beberapa mimpi yang
di alami oleh orang saleh yang berarti kematian, di antaranya mimpi umar bin
khattab yang melihat dirinya di panggil oleh Rasulullah SAW, bahwa mimpi Usman bin Affan yang melihat
dirinya di ajak makan bersama oleh Rasulullah SAW dan Rasulullah
memberitahukannya bahwa “kita akan shalat Jumat bersama hari ini
(jumat”). Baik umar maupun Usman dengan berdasarkan mimpi itu, telah
mempersiapkan dirinya menghadapi kematian, bahkan usman sengaja berpuasa dan
membaca Al Quran pada hari jumat karena beliau memperkirakan akan mati pada
hari jumat. Dan ternyata benar pada hari jumat itu Usman yang sedang berpuasa
dan membaca Al Quran diserang dan di bunuh.
Ada beberapa perubahan
pada fisik kita yang biasa dijadikan sebagai tanda bahwa kematian sudah semakin
dekat, antara lain :
a. Tangan bila
di gosok-gosok atau kulit tidak terasa atau tidak berbunyi gosokan / garukan
lagi.
b. Keringat
tidak terasa asing lagi.
c. Langit-langit
mulut bila di gerak gerakkan ujung lidah padanya tidak terasa geli lagi
d. Penglihatan
atau pendengaran sudah mulai berkurang atau kabur.
e. Perut tidak
lagi menerima makanan/minuman. Walaupun tanda-tanda diatas tidak jelas
sumbernya namun bisa juga di terima oleh akal karena ada perubahan pada fisik
yang sebelunya tidak demikian ( normal)
Sedangkan berita akan
datangnya kematian yang di sampaikan oleh dukun atau tukang ramal tidak boleh
di percaya, karena mempercayai perkataan dukun atau tukang ramal maka tidak
akan di terima shalat selama 40 hari ( HR. Muslim). Dan Rasulullah SAW
menganggap kita telah kafir terhadap Al Quran ( HR. Ahmad).
Dari uraian-uraian di atas
maka dapat di kemukakan bahwa kematian adalah perkara yang ghaib yang hanya
Allah lebih mengetahui kapan dan di mana kedatangannya. Kita tidak boleh
memastikan waktu dan tempat terjadinya dan tidak boleh pula mengambil ajaran
dukun atau tukang ramal tentang waktu dan tempat kematian kita. Kita di larang
mendatangi dukun untuk meminta agar waktu dan tempat kematian kita di rubah
sesuai dengan kemauan kita.
Dalam Islam, tidak ada
larangan mengira-ngira datangnya kematian dengan menatsir mimpi atau
berdasarkan ilmu pengetahuan.
a). Berdasarkan mimpi.
Kita
bisa mengira-ngira datangnya kematian dengan berdasarkan mimpi, sebagaimana
yang di alami oleh sahabat-sahabat Rasulullah yang di ceritakan sebelumnya.
Tetapi kita perlu ingat sabda Rasulullah SAW bahwa “mimpi yang baik dari Allah dan
mimpi yang buruk dari setan. Kalau kamu bermimpi buruk maka meludahla tiga kali
ke kiri dan berlindunglah kepada Allah dari kejelekan tersebut” ( HR.
Muslim).
“Apabila bermimpi yang kamu senangi maka
janganlah kamu ceritakan kecuali kepada orang yang senang kepadamu serta bila
bermimpi buruk maka janganlah menceritakannya kepada orang lain” ( HR.
Muslim).
Ada
seorang Arab yang bermimpi dan datang kepada Rasulullah, “ya Rasulullah, saya telah bermimpi kepala saya
terpenggal, lalu menggelinding, kemudian saya ikuti kemana perginya,”
Rasulullah bersabda : “jangan kau beritahukan kepada orang lain permainan setan
denganmu dalam tidurmu “ ( HR. Muslim)
Berdasarkan mimpi Umar dan Usman sebelum kematiannya, maka mimpi yang
dapat kita jadikan dasar untuk mengira-ngira datangnya kematian adalah mimpi
bertemu dan di panggil oleh Nabi Muhammad SAW, atau mimpi di ajak makan dan
sholat bersama dengan Nabi Muhammad ” Barang siapa melihatku (dalam tidur) maka
dia benar-benar melihatku” ( HR. Muslim)
Antara Umar dan Usman dengan Nabi Muhammad SAW mempunyai hubungan yang
erat, yaitu hubungan persahabatan dan orang yang sangat dicintai atau hubungan
antara murid dengan guru.
Bagi kita tidak pernah melihat Rasulullah
SAW tentu sukar untuk memimpikan Rasulullah, maka yang dapat kita jadikan dasar
mengira-ngira kematian adalah bermimpi bertemu atau di panggil pergi oleh
keluarga dekat yang telah mati ( orang tua, kakek/nenek, atau saudara), atau
guru atau orang yang kita cintai.
b).
Berdasarkan ilmu pengetahuan
Mengira-ngira datangnya kematian berdasarkan ilmu pengetahuan adalah
dengan memperhatikan perubahan fisik dan organ-organ tubuh kita, antara
terjadinya perubahan pendengaran dan penglihatan (kabur), perubahan rasa,
seperti dari geli menjadi tidak geli, dari sakit bila di cubit menjadi tidak
sakit, lidah tidak merasakan lagi pahit, manis, asamnya makanan, rusaknya organ
tubuh yang vital, seperti jantung, ginjal, lever pangreas, lambung, paru-paru,
darah yang kotor, terserang virus ganas, kanker atau tumor, dan lain-lain.
Bila
mengalami seperti itu maka siap-siaplah menghadapi kematian. Dan bagi orang
sudah kedatangan tanda-tanda kematian di wajibkan berwasiat, sebagaimana
perintah Allah “Diwajibkan atas kamu apabila seorang di antara kamu kedatangan
(tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu
bapak, karib kerabatnya secara ma’ruf” (QS. Al Baqarah : 180). Wasiat
yang di syariatkan adalah yang berhubungan dengan harta, bukan yang berhubungan
dengan tempat penguburan mayat kita. Disunnahkan menguburkan mayat di tempat
orang itu mati, bukan di tempat kelahirannya sebagaimana Rasulullah SAW yang
wafat di Madina dan dikuburkan di Madina, padahal Rasulullah lahir di Mekah.
Mengubah wasiat orang yang hampir mati adalah termasuk perbuatan dosa ( QS. Al
Baqarah : 161 (. Kecuali bila orang yang berwasiat itu dianggap berat
sebelah/tidak adil maka boleh mendamaikan/ mengaturnya (mengubahnya) atas
sepengetahuannya (QS. Al Baqarah : 162).
10.Mempercepat
atau memperlambat kematian
Sebahagian di antara kita ada yang percaya
bahwa umur itu bisa ditambah dan bisa
pula dikurangi. Berdasarkan kepercayaan itu maka di antaranya ada yang menuntut
ilmu atau mendatangi dukun untuk diperpanjang umurnya atau agar orang yang
dimusuhinya cepat mati. Banyak yang percaya pada tanda kesialan pada diri
seseorang seperti garis urat yang mendatar di atas hidung, kata dukun bahwa
anak itu umurnya tidak lebih dari lima tahun. Atau tahi lalat yang melekat di
atas kemaluan seorang laki-laki pertanda bahwa istrinya akan cepat mati, atau
di atas kemaluan wanita, pertanda suaminya akan cepat mati, ataupun tanda
kesialan kematian anak.
Orang – orang
yang mempunyai tanda kesialan sering ada yang mendatangi dukun dan oleh dukun
melakukan ritual buang sial. Setelah ritual mandi, maka legahlah perasaan,
berarti anaknya atau suaminya/istrinya tidak jadi berumur pendek (ditambah
umurnya).
Adapula yang
mengamalkan suatu ilmu memperpanjang umur . katanya orang tua-orang tua dulu
panjang-panjang umurmya sampai ratusan tahun karena mengamalkan ilmu
memperpanjang umur sehingga dengan ilmu itu Allah menambah umurnya sehingga
hidupnya sampai tua dan pikun. Sedangkan sekarang, orang – orang tidak menuntut
lagi ilmu penambah umur sehingga pendek-pendek umurnya. Benarkah
kepercayaan-kepercayaan seperti di atas?
Umur (masa hidup
di muka bumi ini ) adalah ketetapan Allah yang mesti terjadi. Umur
masing-masing manusia sudah di tetapkan Allah jauh sebelum manusia itu tercipta
( QS. Al Hadiq : 22). Dan bila umur telah habis atau ajal telah datang maka
tidak ada yang bisa mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak pula dapat
memajukannya barang sesaatpun ( QS. Al A’raaf : 34 ). Bila umur seseorang telah
di tetapkan Allah sebanyak 40 tahun. Maka orang itu tidak akan bisa mati pada
umur 30 tahun atau 45 tahun. Tidak akan kurang semenit atau tidak akan lebih
walau semenit.’
Bagaimanapun
jahatnya seorang manusia, telah banyak kerusakan yang di lakukannya, telah
kafir dan memusuhi Allah, maka Allah tidak akan mencabut nyawanya sebelum sampai ajal
yang ditetapkannya. Begitu pun halnya oleh orang yang beriman, beramal soleh
dan banyak berguna, bagi umat manusia tidak akan ditunda kematiannya atau ditambah
umur agar terus berbuat baik ( QS. An Nahl : 6 ).“Allah sekali-kali tidak akan
menangguhkan (kematian) seseorang
apabila datang waktu kematiannya” ( QS. Al Munafiquun : 11 )
Allah telah menyatakan bahwa sekali-kali tidak
dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi
umurnya (orang yang berumur pendek) melainkan (sudah ditetapkan) dalam
kitab ( QS. Faathir : 11 ). Manusia
mempunyai umur yang berbeda-beda, ada yang singkat, ada pula yang panjang
umurnya sampai pikun (lemah ingatan). Apakah kita akan bangga bila memiliki
umur yang panjang sampai pikun?. Itu bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan
atau di minta kepada Allah, karena Allah mempunyai maksud memberi umur yang
panjang sampai pikun, yaitu “supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang
dahulu di ketahuinya” ( QS. Al Haji : 5 ), bukankah suatu kecelakaan dalam
hidup bila awalnya kita taat beragama dan pada akhirnya melupakan
segala-galanya?
Allah dan
Rasul-Nya tidak mensyariatkan kepada kita untuk menuntut ilmu agar umur
diperpanjang atau diperpendek. Ilmu seperti itu hanyalah tipu daya setan untuk
menyesatkan manusia. Allah dan Rasul-nya hanya mensyariatkan berdoa minta apa
saja kepada Allah agar panjang umurnya berbuat baik atau beribadah, tetapi
maksud bukan penambahan umur, melainkan panjangnya kesempatan (kesehatan) untuk
amal saleh. Sebaik-baik orang yang panjang umurnya adalah orang yang selalu
beramal soleh dan umur yang panjang tidak akan bisa menyelamatkan kita,
sebagaimana firman Allah, “masing-masing mereka ingin agar diberi umur
seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya
dari siksa. Allah maha mengetahui apa yang mereka kerjakan” ( QS. Al
Baqarah : 96 ).
Allah dan
Rasul-Nya melarang kita menuntut ilmu untuk memperpendek umur seseorang ( cepat
mati atau sakit berkepanjangan ), karena ilmu seperti itu termasuk sihir,
adalah persekutuan dengan setan. Sihir yang menimbulkan kematian seseorang
mengandung dua dosa besar, yaitu dosa mempersekutukan Allah dan dosa membunuh
manusia, walaupun orang yang di sihir itu tidak akan mati kecuali dengan izin
Allah karena telah sampai ajalnya.“Barang siapa yang mempersukutukan Allah
maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar “( QS. An Nisa : 48 ).
Di antara kita
adalah melindungi dirinya dari sihir dengan menggunakan jampi-jampi,
jimak-jimak atau mengamalkan mantra-mantra sebelum tidur dan setelah tidur.
Cara seperti ini termasuk cara yang salah karena termasuk perbuatan syirik.
Sama halnya mengambil setan untuk melindungi diri dari gangguan setan, atau
membayar preman untuk melindungi diri dari ganggguan preman, yang benar adalah
mempercayakan Allah untuk melindungi diri kita, karena sebaik-baik pelindung
dan sebaik penolong ( QS. Al Anfaal : 40 ). Allah adalah pelindung dan penolong
orang-orang yang beriman. Dan sihir itu tidak akan merosok seseorang kecuali
kalau Allah menghendaki-nya, “dan mereka itu
(ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun
kecuali dengan izin Allah “ ( QS. Al Baqarah : 102 ).
11.Kepercayaan dan
amalan sesat
Kepercayaan
dan amalan yang berhubungan dengan kematian telah di terangkan dalam Al Quran
dan Sunnah Rasul-Nya. Kepercayaan dan amalan yang tidak memiliki dasar ilmu
atau bertentangan dengan Al Quran atau sunnah rasul adalah termasuk ajaran
sesat yang bersumber dari setan ( QS. As Zukhryf : 36 ).Oleh karena itu, kita
jangan sampai terpedaya pada ajaran-ajaran setan. Maka perlu selalu waspadai
dan membekali diri dengan ilmu agama yang benar. Tinggalkan kepercayaan –
kepercayaan yang sesat, seperti yang telah di kemukakan sebelumnya.
Tinggalkanlah amalan-amalan sesat seperti :
a).
Mengadakan selamatan atau mempersembahkan sesajian untuk mengusir roh-roh
gentayangan. Usirlah setan-setan itu dengan cara yang di ajarkan oleh
Rasulullah SAW.
b). Mengadakan
ritual “Assuro ammaca” untuk menjamu
arwah keluarga yang di percaya mendatangi rumah. Kirimilah doa buat arwah
keluargamu atau ziarahilah kuburnya.
c). Memenuhi
permintaan orang-orang yang kesurupan karena dianggap roh keluarga Itu
janganlah di percaya. Usirlah setan-setan itu.
d). Menuntut
ilmu agar jazad lenyap dikuburan dan bisa hidup kembali. Tetapi tuntutlah ilmu
yang benar yang sesuai dengan Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.
e). Menuntut
ilmu-ilmu tarekat pada guru-guru terikat atau pada dukun-dukun. Tuntutlah ilmu
islam melalui Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW
f).
Menyembelih hewan aqiqah untuk orang yang telah mati. Tetapi sembelilah hewan
untuk Qurban, aqiqah anak yang baru lahir, menjamu tamu atau memberi miskin
atau pekerja. Perbanyaklah amal saleh sebagai makanan dan kendaraanmu di negeri
akhirat.
g). Memakai
jampi-jampi, jimak-jimak atau mantra-mantra agar tidak mati dalam kecelakaan.
Tetapi bekalilah dirimu dengan ilmu yang benar, ibadah yang benar dan budi
pekerti yang luhur.
h). Ziarah
kubur untuk mencari berkah dan keselamatan. Tetapi carilah berkah dan
keselamatan pada Al Quran, pada zikir dan doa-doa yang di panjatkan setelah
sholat, dll. Lakukan ziarah kubur hanya untuk mengingat mati
Menzalimi
orang mati untuk kepentingan diri seperti mengambil organ tubuhnya tanpa
seizinnya untuk keperluan pengobatan, mengambil sepotong tulangnya untuk
pengobatan , mengambil lidah atau bagian
tubuhnya untuk memenuhi persyaratan satu ilmu, memperkosa mayat untuk satu
ilmu, mengambil tali pocong dll. Tetapi hormati orang mati itu dan keluarganya,
jangankan mengambil sebagian anggota tubuhnya, duduk di atas kuburan saja di
larang oleh Rasulullah SAW, ( HR. Muslim). Begitupula menginjak-injak kuburan
orang muslim dilarang oleh Rasulullah SAW (HR. Ibnu Majah)
Kenalilah
kematian dengan ilmu yang benar agar kematian itu tidak menjadi awal dari
penyesalan dan kesengsaraan. Jadikan Al Quran dan Sunnah Rasul sebagai guru
agama, yang akan mengantarmu ke dalam kematian yang membahagiakan.
Ingatlah wasiat-wasiat Nabi SAW :
“ Telah
kutinggalkan bagimu dua perkara, yaitu Al Quran dan Sunnah Nabi, bila kalian
berpegang teguh padanya maka kalian tidak akan sesat” ( HR. Abu Daud)
“ Jauhilah
perkara baru yang diadakan ( oleh urusan agama ) karena segala perkara yang
baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat “(HR Abu Dawud, Ad
Darimi dan tirmidzi).
“ Kalian
akan berselisih setelah kutinggalkan, maka apa yang dikatakan orang tentang
aku, cocokkanlah dengan Al Quran. Maka yang cocok itu dari aku dan yang
bertentangan, bukan dari aku “( HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).
B. Penutup
Al Quran
adalah kitab yang tidak di ragukan lagi kebenarannya, petunjuk bagi orang yang
bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman kepada yang ghaib ( QS. Al Baqarah : 2-3
). Al Quran di turunkan untuk menyempurnakan akhlak manusia yang telah tersesat
oleh kejahiliaannya, yaitu kepercayaan dan amalan-amalan yang mengandung
kesyirikan.
Islam adalah agama yang sempurna,
mengatur segala aspek kehidupan manusia. Segala ajaran dan syariat-syariatnya
merupakan wahyu dari Allah yang dituangkan dalam kitab Al Quran dan sunnah
Rasul. Ikutilah ajaran syariat Allah dan Rasul-nya, dan janganlah mengikuti
ajaran/syariat yang bersumber dari persangkaan orang-orang yang tidak mengetahui
( QS. Al Jaatsiyah : 18 ), yang karena sesungguhnya persangkaan itu tidak
berguna untuk mencapai kebenaran ( QS. Yunus : 36 ). Ajaran yang bersumber dari
hawa nafsu, karena sesungguhnya hawa
nafsu itu akan menyesatkan kamu dari jalan Allah, dan orang-orang yang sesat
dari Allah akan mendapat azab yang beraat ( QS. Shaad : 26 )
Ikutilah syariat Allah dan sunnah
rasul, dan tinggalkan ajaran atau syariat nenek moyang yang sesat dan yang akan
mengantarkanmu kedalam api neraka yang menyala-nyala ( QS. Al Baqarah : 170, Al
Maidah : 104, dan Lukman : 21 ). Jangan ikut-ikutan pada (kepercayaan/amalan)
kebanyakan manusia di muka bumi niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan
Allah ( QS. Al An’aam : 116 ), dan kalau hanya mengikuti manusia biasa ( bukan
Nabi/Rasul) seperti kamu niscaya kamu termasuk orang yang rugi (QS. Al Mukminum
: 34 ).
Jalankan Agama Islam dengan
semurni-murninya ( QS. Al Bayyinah : 5 ), janganlah mencampuradukannya dengan
ajaran-ajaran batil ( QS. Al Baqarah : 42). Segala kepercayaan dn amalan kita
dalam urusan agama hendaknya berdasarkan pada ilmu yang haq (Al Quran dan
Sunnah Rasul) dan jangan mengikuti apa-apa yang tidak ada pengetahuanmu atasnya
sebab perkataan, pandangan dan hati kelak akan di mintai pertanggung jawabannya
( QS. Al Israa : 36 ).
Kembali kepada Al Quran dan Sunnah
Rasul, dan meninggalkan tradisi-tradisi sesat adalah sesuatu yang berat, di
sebabkan oleh 3 faktor, yaitu :
1. Ketidakpahaman
terhadap ayat-ayat Allah
Banyak di antara kita yang membaca Al Quran dan menghapal beberapa
ayat, namun mereka tidak memahaminya, sehingga tidak bisa membedakan antara
yang hag dengan yang batil. Oleh karena itu bacalah Al Quran dan memohonlah
kepada Allah untuk memahaminya, karena melalui Al Quranlah Allah memberi
petunjuk ke jalan yang benar .
2. Masa bodoh
dan taklid buta
Banyak di antara kita yang masa bodoh terhadap agamanya, tidak
tertarik untuk mendalaninya melalui membaca buku-buku agama atau mengikuti
pengajian. Mereka sudah merasa cukup hanya dengan mengikuti ulama-ulama atau
kebanyakan manusia. Padahal tidak ada jaminan kebenaran dan keselamatan
beribadah tanpa dasar ilmu dengan hanya ikut-ikutan ( QS. Al An’am : 116 )
3. Tidak takut
kepada Allah atas segala azab-Nya tetapi lebih takut kepada sesama manusia /
masyarakat atas segala cemohan atau celaannya. Kita hidup dalam masyarakat
Islam yang menjungjung tradisi. Memang kita akan dicela atau dicemoh atau
dianggap asing bila mengikuti sunnah di tengah-tengah ahli bid’ah. Janganlah
takut kepada sesama manusia, tetapi takutlah kepada Allah ( QS. Al maidah : 44
). Allahlah yang berhak kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman (
QS. At Taubah : 13 ). Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan yang
tidak nampak oleh mereka atau memperoleh ampunan dan pahala yang besar ( QS. Al
Mulk : 12). Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah
mereka dengan cara yang baik ( QS. Al Musammil : 10 ). Ikutilah apa yang telah
Allah turunkan ( Al Quran), tiada tuhan selaain dia, dan berpalinglah dari
orang-orang musyrik ( QS. Al An’aam:106 orang-orang yang berpegang teguh pada
(agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah di beri petunjuk kejalan yang lurus.
( QS. Ali Imran : 1).