Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan
berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya
dan tidak (pula) hidup.Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan
beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah
orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia).(QS.Thaahaa:74-75),
|
Dunia adalah tempat untuk berusaha
sedangkan akhirat adalah tempat untuk menikmati hasil usaha.Oleh karena
itu,baik buruknya kehidupan yang kita rasakan di akhirat itu ditentukan oleh
hasil usaha kita sendiri ketika hidup di dunia.Keselamatan kita di akhirat yang
dimulai dari alam kubur tergantung dari usaha kita yang bisa menyelamatkan.
Ada beberapa ayat Al Quran yang
menyatakan bahwa amal baik yang kita bawa ke akhirat akan membuat kita dibalas
dengan kebaikan dan amal buruk yang kita bawa akan membuat kita dibalas dengan
keburukan:
“Barangsiapa membawa
amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan
barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan
melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya
(dirugikan)”. (QS. Al An Aaam:160),
” Allah menjanjikan kepada
orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya
mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat
yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah
keberuntungan yang besar” (QS.At Taubah:72),
.” Sesungguhnya barangsiapa datang
kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka
Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.Dan barangsiapa
datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah
beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat
yang tinggi (mulia). ” (QS.Thaahaa:74-75),
“Dan barang siapa yang membawa
kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu
dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS. An Naml:90).
Barangsiapa yang membawa kebaikan maka akan dibalas dengan kebaikan
Allah telah menyatakan pula bahwa
pembalasan di akhirat berdasarkan apa yang telah kita lakukan di dunia,artinya
seseorang tidak akan memperoleh balasan melainkan apa yang telah dkerjakannya
di dunia,misalnya seseorang yang tidak pernah membaca Al Quran maka mustahil
akan memperoleh balasan pahala membaca Al Quran. Seseorang yang tidak pernah
membunuh maka mustahil akan diberikan hukuman pembunuhan, ”Dan tidaklah seseorang itu memperoleh balasan kecuali dari
yang ia usahakan”
(QS. An-Najm : 39), atau ” Sesungguhnya kamu hanya diberi
balasan menurut apa yang kamu kerjakan” (QS.At Tahrim:7).
Rasulullah SAW telah bersabda: ”Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah
amalnya kecuali atas tiga hal : shadaqah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau
anak shalih yang mendoakannya” (HR.Muslim).Ketiga hal tersebut walau
seseorang telah mati namun amalnya masih mengalir kepadanya karena usahanya
sewaktu masih hidup dunia dan masih dinikmati oleh orang pada suatu
kebaikan,yaitu usahanya membuat sesuatu yang terus menerus dinkamati oleh
masyarakat (amal jariyah),usahanya menyebarkan ilmu atau usahanya mendidik
anaknya menjadi anak yang saleh.
Sedangkan amalan-amalan yang dilakukan
oleh seseorang untuk saudaranya yang telah mati tidak akan diterima atau tidak
akan bermanfaat bagi orang yang telah mati,kecuali ada dalil khusus yang
mensyariatkan untuk dilakukan amalan tersebut, seperti: Do’a kaum muslimin bagi setiap muslimin baik yang masih hidup maupun
yang telah meninggal; Melunasi utang keluarga yang telah meninggal;Membayar
qodho’ puasa si mayit;Membayar qodho’ nadzar baik berupa puasa atau amalan
lainnya;Segala amalan sholih yang dilakukan oleh anak yang sholih akan
bermanfaat bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia;dan Sedekah atas nama
si mayit.
1. Do’a kaum
muslimin bagi setiap muslimin baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.Dalilnya
adalah firman Allah Ta’ala,
“Dan
orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa:
‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman
lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati
kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha
Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al Hasyr: 10).
Begitu
pula sabda Rasulullah SAW: “Do’a
seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah
do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya
ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan
saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan
mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi”.Do’a kepada saudara kita
yang sudah meninggal dunia adalah di antara do’a kepada orang yang dikala ia
tidak mengetahuinya.
2. Melunasi utang keluarga yang
telah meninggal
Dalilnya
adalah:Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW didatangkan seorang mayit yang masih memiliki utang,
kemudian beliau bertanya, “Apakah orang ini memiliki uang untuk melunasi
hutangnya?” Jika diberitahu bahwa dia bisa melunasinya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan
menyolatkannya. Namun jika tidak, maka beliau pun memerintahkan, “Kalian
shalatkan saja orang ini.”
Tatkala
Allah memenangkan bagi beliau beberapa peperangan, beliau bersabda, “Aku lebih pantas bagi orang-orang
beriman dari diri mereka sendiri. Barangsiapa yang mati, namun masih meninggalkan
utang, maka aku lah yang akan melunasinya. Sedangkan barangsiapa yang mati dan
meninggalkan harta, maka itu untuk ahli warisnya.Hadits ini menunjukkan
bahwa pelunasan utang si mayit dapat bermanfaat bagi dirinya.
3.Membayar qodho’ puasa si mayit
Dalilnya
adalah hadits ‘Aisyah, “Barangsiapa
yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang
nanti akan mempuasakannya. ” Yang dimaksud “waliyyuhu” adalah
ahli waris.
4.Membayar qodho’ nadzar baik
berupa puasa atau amalan lainnya
Dalilnya
adalah: Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah meminta nasehat pada
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia mengatakan, “Sesungguhnya ibuku telah meninggalkan dunia
namun dia memiliki nadzar (yang belum ditunaikan).” Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam lantas mengatakan, “Tunaikanlah
nadzar ibumu.”
5. Segala amalan sholih yang
dilakukan oleh anak yang sholih akan bermanfaat bagi orang tuanya yang sudah
meninggal dunia
Dalilnya
adalah Allah Ta’ala berfirman, “Dan
bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An Najm: 39). Di antara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang
sholih.
Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil
jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua.”
Ini berarti amalan dari anaknya yang sholih masih tetap bermanfaat bagi orang
tuanya walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih
payah orang tua yang pantas mereka nikmati.
6. Sedekah jariyah dan ilmu yang
bermanfaat yang ditinggalkan oleh si mayit
Dalilnya
adalah,Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Jika manusia itu mati,
maka akan putus amalannya kecuali dari tiga perkara: [1] sedekah jariyah, [2]
ilmu yang diambil manfaatnya, [3] anak sholih yang mendo’akan orang tuanya.”
7. Sedekah atas nama si mayit
Dalilnya
adalah, Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Sesungguhnya
Ibu dari Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia, sedangkan Sa’ad
pada saat itu tidak berada di sampingnya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai
Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu
tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu
untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa
kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.”
Dari
keterangan-keterangan di atas,maka jelaslah bahwa amalan-amalan untuk keluarga
yang telah meninggal,yang tidak memiliki dalil khusus untuk melakukannya
tidaklah bermanfaat bagi keluarga yang telah meninggal,dan amalan-amalan
tersebut di atas tidak bisa dijadikan dalil umum untuk amalan lainnya setelah
Rasulullah SAW dan para sahabat meninggal.Karena bila dijadikan dalil umum,maka
akan semakin banyak amalan-amalan bid’ah dalam Islam.Wallahu a’lam,semoga Allah
memberi kita petunjuk kepada kebenaran.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar