Jumat, 01 Mei 2015

2.NASIB SESEORANG DITENTUKAN OLEH AMALNYA


Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia).(QS.Thaahaa:74-75),

Dunia adalah tempat untuk berusaha sedangkan akhirat adalah tempat untuk menikmati hasil usaha.Oleh karena itu,baik buruknya kehidupan yang kita rasakan di akhirat itu ditentukan oleh hasil usaha kita sendiri ketika hidup di dunia.Keselamatan kita di akhirat yang dimulai dari alam kubur tergantung dari usaha kita yang bisa menyelamatkan.
Ada beberapa ayat Al Quran yang menyatakan bahwa amal baik yang kita bawa ke akhirat akan membuat kita dibalas dengan kebaikan dan amal buruk yang kita bawa akan membuat kita dibalas dengan keburukan:
Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”. (QS. Al An Aaam:160),
Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar” (QS.At Taubah:72),
.” Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa, maka sesungguhnya baginya neraka Jahannam. Ia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia).(QS.Thaahaa:74-75),
  “Dan barang siapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan. (QS. An Naml:90).
 Barangsiapa yang membawa kebaikan maka akan dibalas dengan kebaikan

Allah telah menyatakan pula bahwa pembalasan di akhirat berdasarkan apa yang telah kita lakukan di dunia,artinya seseorang tidak akan memperoleh balasan melainkan apa yang telah dkerjakannya di dunia,misalnya seseorang yang tidak pernah membaca Al Quran maka mustahil akan memperoleh balasan pahala membaca Al Quran. Seseorang yang tidak pernah membunuh maka mustahil akan diberikan hukuman pembunuhan, ”Dan tidaklah seseorang itu memperoleh balasan kecuali dari yang ia usahakan” (QS. An-Najm : 39), atau Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan” (QS.At Tahrim:7).
Rasulullah SAW telah bersabda: ”Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali atas tiga hal : shadaqah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya” (HR.Muslim).Ketiga hal tersebut walau seseorang telah mati namun amalnya masih mengalir kepadanya karena usahanya sewaktu masih hidup dunia dan masih dinikmati oleh orang pada suatu kebaikan,yaitu usahanya membuat sesuatu yang terus menerus dinkamati oleh masyarakat (amal jariyah),usahanya menyebarkan ilmu atau usahanya mendidik anaknya menjadi anak yang saleh.
Sedangkan amalan-amalan yang dilakukan oleh seseorang untuk saudaranya yang telah mati tidak akan diterima atau tidak akan bermanfaat bagi orang yang telah mati,kecuali ada dalil khusus yang mensyariatkan untuk dilakukan amalan tersebut, seperti: Do’a kaum muslimin bagi setiap muslimin baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal; Melunasi utang keluarga yang telah meninggal;Membayar qodho’ puasa si mayit;Membayar qodho’ nadzar baik berupa puasa atau amalan lainnya;Segala amalan sholih yang dilakukan oleh anak yang sholih akan bermanfaat bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia;dan Sedekah atas nama si mayit.
1. Do’a kaum muslimin bagi setiap muslimin baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
 Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al Hasyr: 10).
            Begitu pula sabda Rasulullah SAW: “Do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: “Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi”.Do’a kepada saudara kita yang sudah meninggal dunia adalah di antara do’a kepada orang yang dikala ia tidak mengetahuinya.
2. Melunasi utang keluarga yang telah meninggal
Dalilnya adalah:Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW didatangkan seorang mayit yang masih memiliki utang, kemudian beliau bertanya, “Apakah orang ini memiliki uang untuk melunasi hutangnya?” Jika diberitahu bahwa dia bisa melunasinya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menyolatkannya. Namun jika tidak, maka beliau pun memerintahkan, “Kalian shalatkan saja orang ini.”
Tatkala Allah memenangkan bagi beliau beberapa peperangan, beliau bersabda, Aku lebih pantas bagi orang-orang beriman dari diri mereka sendiri. Barangsiapa yang mati, namun masih meninggalkan utang, maka aku lah yang akan melunasinya. Sedangkan barangsiapa yang mati dan meninggalkan harta, maka itu untuk ahli warisnya.Hadits ini menunjukkan bahwa pelunasan utang si mayit dapat bermanfaat bagi dirinya.
3.Membayar qodho’ puasa si mayit
Dalilnya adalah hadits ‘Aisyah, Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya yang nanti akan mempuasakannya. Yang dimaksud “waliyyuhu” adalah ahli waris.
4.Membayar qodho’ nadzar baik berupa puasa atau amalan lainnya
Dalilnya adalah: Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah meminta nasehat pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia mengatakan, Sesungguhnya ibuku telah meninggalkan dunia namun dia memiliki nadzar (yang belum ditunaikan).Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengatakan,Tunaikanlah nadzar ibumu.”
5. Segala amalan sholih yang dilakukan oleh anak yang sholih akan bermanfaat bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia
Dalilnya adalah Allah Ta’ala berfirman, “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An Najm: 39). Di antara yang diusahakan oleh manusia adalah anak yang sholih.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya yang paling baik dari makanan seseorang adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dan anak merupakan hasil jerih payah orang tua. Ini berarti amalan dari anaknya yang sholih masih tetap bermanfaat bagi orang tuanya walaupun sudah berada di liang lahat karena anak adalah hasil jerih payah orang tua yang pantas mereka nikmati.
6. Sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat yang ditinggalkan oleh si mayit
Dalilnya adalah,Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Jika manusia itu mati, maka akan putus amalannya kecuali dari tiga perkara: [1] sedekah jariyah, [2] ilmu yang diambil manfaatnya, [3] anak sholih yang mendo’akan orang tuanya.”
7. Sedekah atas nama si mayit
Dalilnya adalah, Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Sesungguhnya Ibu dari Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia, sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sampingnya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.”
Dari keterangan-keterangan di atas,maka jelaslah bahwa amalan-amalan untuk keluarga yang telah meninggal,yang tidak memiliki dalil khusus untuk melakukannya tidaklah bermanfaat bagi keluarga yang telah meninggal,dan amalan-amalan tersebut di atas tidak bisa dijadikan dalil umum untuk amalan lainnya setelah Rasulullah SAW dan para sahabat meninggal.Karena bila dijadikan dalil umum,maka akan semakin banyak amalan-amalan bid’ah dalam Islam.Wallahu a’lam,semoga Allah memberi kita petunjuk kepada kebenaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar