Penyakit yang tak kunjung sembuh telah membawa suatu
perubahan pada diri penulis.Pengalaman merasakan bagaimana penderitaan hidup di
kala sakit dan nyeri datang menyapa membuat penulis selalu berpikiran kea lam
akhirat yang dimulai dengan alam kubur yang di dalamnya penuh dengan siksaan
yang dahsyat.Bayangkan yang diberitakan Nabi SAW bahwa siksaan terkecil di alam
kubur sama dengan kalau kita disuruh memakai sepatu dari besi dan sepatu besi itu
telah dipanasi sampai merah hingga membuat otak melele.
Siksaan seberat penyakit yang kualami saja yang diberi
Allah kepadaku di alam kubur kutak akan sanggup menahannya bila itu terjadi
sampai berbulan-bulan,apalagi bila terjadi setahun dalam perhitungan
Allah.Ingat perhitungan Allah bahwa sehari di akhirat sama dengan seribu tahu
dalam perhitungan manusia (waktu alam dunia).Hal itulah yang membuatku tak bisa
tenang dalam hidup ini karena membayangkan dosa-dosa besar yang pernah
kulakukan,baik dosa kemaksiatan karena melalaikan ibadah,juga dosa-dosa
kesyirikan sebagai akibat terlalu akrab dengan dukun-dukun dan ajaran-ajaran
tarekat sesat.
Melalui Al Quran,Allah menyampaikan bahwa azab di
dunia ini adalah azab kecil sebelum mendatangkan azab yang amat besar dan Allah
menghendaki hamba-Nya agar kembali ke jalan yang benar.Segala musibah yang
terjadi di muka bumi dan juga pada diri manusia tidak lepas dari dosa-dosa yang
diperbuatnya di masa yang lalu dan penyakit adalah cara Allah untuk mengampuni
dosa-dosa hamba-Nya lalu mengajaknya ke jalan yang benar.
Allahpun mengatakan bahwa segala keburukan yang
menimpa seseorang adalah merupakan ujian baginya dan Allah menghendaki
kesabaran dari hamba-hamba yang diuji-Nya.Dengan kesabaran itulah maka akan
memberikan keselamatan,rahmat dan petunjuk kepadanya.
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS.Al
Baqarah:153).
Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari
Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk (QS.Al
Baqarah:157).
Dengan ayat-ayat tersebutlah sehingga penulis berkeyakinan bahwa penyakit
yang menimpah seorang manusia adalah ungkapan kasih saying Allah terhadapnya.Wujud
dari rasa kasih saying Allah bagi orang yang sakit atau yang terkena musibah
lainnya adalah:
1. Allah menghendaki
agar hamba-Nya itu bersih dari dosa-dosa sebelum meninggalkan dunia ini,dengan
cara ditebus dengan penyakit/musibah;
2. Allah menghendaki
agar bisa dekat dengan hamba-Nya,dengan cara membersihkan hati hamba-Nya dan
memberinya kesabaran,karena Allah akan bersama dengan orang-orang yang sabar
dan kesabaran adalah anugerah terbesar dari Allah.
3. Allah menghendaki
keselamatan bagi hamba-Nya yaitu dengan cara mengampuni dosa-dosanya melalui
penyakitnya;
4. Allah hendak memberi
petunjuk kepada hamba-Nya yang bersabar dan untuk mengetahui hamba yang
bersabar maka ebih dahulu harus diberi ujian atau cobaan;
5. Allah hendak
mengangkat derajat hamba-Nya dari hamba-hamba lain dengan cara memberinya
petunjuk apabila bersabar atau lulus ujian.
Dari keyakinan tersebut maka penulis merasa berada
dalam pendidikan Allah dan berusaha untuk memenuhi kehendak Allah tersebut
yaitu kembali ke jalannya.Apa dan bagaimana jalan Allah tersebut.Penulis harus
berusaha mengenal dan melewati jaan Allah yang dalam Al Quran disebut “Sirathal
Mustaqin”.
Dalam Al Quran Allah telah menyatakan akan memimpin
hamba-Nya dengan dua cara,yaitu:
1. Memimpin melalui hati
hamba-Nya;
2. Memimpin melalui Al
Quran.
Dari dua cara ini maka penulis berusaha mencari jalan
dan petunjuk Allah melalui hati dan Al Quran.Sejak April 2007 penulis mulai
berusaha mencari Tuhan dalam hati dan berusaha mencari kebenaran dalam Al
Quran.Sejak itulah penulis mulai mengkaji ayat-ayat Allah melalui Al Quran
terjemahan dan mengkaji ajaran Islam melalui Al Quran dan kitab-kitab hadis
serta buku-buku Islam lainnya.
Akhirnya hati penulis terang.Penulis bisa membedakan
antara yang ajaran Islam dengan yang bukan ajaran Islam.Penulis bisa membedakan
antara petunjuk dan kesesatan.Penulis bisa membedakan antara sunnah dan
bid’ah.Penulis yakin bahwa perubahan dalam keyakinan dan pemahaman beragama
adalah karena petunjuk Allah.Tidak mungkin petunjuk setan.Setan tidak akan
mungkin membiarkanku mengkaji Al Quran,kitab-kitab hadis,dan buku-buku orang
saleh.Sampai akhirnya aku berkeyakinan telah berada di atas jalan
Allah.Kuberkeyakinan bahwa sunnah Rasul dan Sunnah sahabat adalah jalan Allah
sedangkan sunnah/tradisi nenek moyang adalah jalan setan yang harus kutinggalkan
dan kujauhi.Ya,harus kujauhi olehku dan oleh keluargaku (istri dan
anakku).Allah yang menyuruhku menyelamatkan diri dan keuarga dari siksaan api
neraka dengan cara memurnikan ketaatan beribadah dalam menjalankan agama yang
lurus yaitu agama Islam yang sesuai dengan sunnah,yang telah dinyatakan
sempurna oleh Allah dan Rasul-Nya.
Melaksanakan Islam sesuai dengan sunnah dalam
masyarakat yang setia pada tradisi memang bukanlah perkara yang muda,melainkan
akan mengalami tekanan dari masyarakat yang sebagian besar pengikut tradisi dan
pengkuti ulama-ulama.Berbagai ocehan keluar dari mulut mereka.Ada yang
mencela,menghina dan menuduh sebagai pengikut aliran sesat.Dan mereka akan
memandang kita sebagai asing dalam Islam.Untung ada Allah yang senantiasa
menghiburku dan memberiku semangat dalam melaksanakan sunnah di tengah ahli
bid’ah.
“Janganlah kamu takut
kepada sesama manusia,tetapi takutlah kepada-Ku”(QS.Al Maaidah:44)
“Allahlah yang berhak kamu
takuti,jika kamu benar-benar orang yang beriman”(QS.Taubah:13)
“Sesungguhnya orang-orang yang takut
kepada Tuhannya yang tidak Nampak oleh mereka akan memperoleh ampunan dan
pahala yang besar”(QS.Al Mulk:12)
Terhadap perkataan mereka yang
mungkin mencela,mengjelek-jelekkan dan berbagai tuduhannya maka Allah menyuruh
kita menghadapinya dengan bersabar,
“Bersabarlah kamu terhadap apa yang
mereka katakan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik”(QS.Al Muzammil:10).
Dan Rasulullah SAW yang mengajari
penulis untuk merasa senang bila dianggap asing oleh masyarakat,”Islam
awalnya dianggap asing dan pada akhirnya akan dianggap asing,maka beruntunglah
kamu yang dianggap asing’ (HR.Muslim).
Beberapa ayat Al Quran sebagai pegangan bagiku dan
sebagai semangat bagi hatiku untuk tetap teguh pada sunnah bahwa kebenaran bukan
dilihat dari banyaknya orang yang melakukannya,bukan dilihat dari popularitas ulama
yang mengatakannya atau bukan didapat dari tradisi nenek moyang,melainkan
dilihat dari dalil-dalil sunnah.
Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di
muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak
lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah
berdusta (terhadap Allah).(QS.Al An Aam:116).
Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia
yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi)
orang-orang yang merugi.(QS.Al Mu’munuun:34).
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah
apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi
kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang
kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat
petunjuk?".(QS.Al Baqarah:170).
Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti
apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul." Mereka menjawab:
"Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami
mengerjakannya." Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka
walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula)
mendapat petunjuk?.(QS.Al Maaidah:104).
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah
apa yang diturunkan Allah." Mereka menjawab: "(Tidak), tapi kami
(hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya."
Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu
menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? (QS.uqman:21).
Jadi penulis memiliki kekuatan untuk menegakkan sunnah
karena Allah yang memberi kekuatan dan berani meninggalkan bid’ah karena Allah
yang memberi keberanian.Allahlah yang menyuruh penulis untuk meninggalkan
amalan-amalan yang tidak memiliki dasar ilmu dan amalan yang yang bersumber
dari hawa nafsu.
”Janganlah kamu
mengikuti apa-apa yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya.Sesungguhnya
pendengaran,penglihatan dan hati akan dimintai pertanggungjawabannya.’(QS.Al
Israa:36)
“Janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan
Allah.Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab
yang berat,karena
mereka melupakan hari perhitungan”(QS.Shaad:26).
Dan Rasulullah SAW sebagai guru
Agama Islam yang menyuruhku untuk meninggalkan amalan-amalan yang dibuat-buat
oeh umatnya sepeninggalnya yang tidak tidak pernah disyariatkannya :
“Jauhilah perkara baru
yang diada-adakan (dalan urusan agama),karena setiap perkara baru yang
diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”dan pada hadist lain
dikatakan”Setiap kesesatan balasannya adalah neraka” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
”Barangsiapa yang mengada-adakan dalam urusan (agama) kami
yang bukan perintah kami maka amalan itu pasti di tolak”,”Barangsiapa yang
melakukan suatu amalan yang tidak ada atasnya syariat (perintah) kami maka
tertolak” (HR.Bukhari-Muslim).
Oleh karena itu,wahai istri dan anak-anaku dan wahai saudara-saudaraku
memurnikan ketaatanmu dalam beribadah kepada Allah dengan menjalankan Agama
Islam yang benar yaitu dengan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW dan Sunnah
sahabatnya yang diberi petunjuk dan tinggalkanlah bid’ah maka itulah jalan yang
lurus.Jalan yang bisa memberimu keselamatan di dunia dan di akhirat.Sebagai
jalan yang dibangun di atas wahyu Allah,bukan jalan yang dibangun oleh setan
melalui persangkaan nenek moyang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar