Dalam
lingkungan masyarakat Islam tradisional, kita sering menyaksikan atau bahkan
melakukan ritual berdoa diatas hidangan makanan yang dilengkapi dengan aroma
asap perdupaan/kemenyan, yang biasa di sebut “Assuro Ammaca”. Ritual
ini diakhiri dengan acara menyantap bersama makanan yang terhidang tersebut.
Ritual
seperti ini oleh sebagian besar masyarakat yang beragama Islam menganggapnya
sebagai ibadah atau amalan yang harus dilakukan untuk keluarga yang telah mati, terutama bila memasuki bulan Ramadhan, hari lebaran, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, pada hari-hari tertentu kematian
keluarga, ketika menggelar
pesta atau daam dalam acara makan-makan apapun selalu ingat keluarga yang teah
mati dan dikirimkan makanan kepadanya atau dijamu makanan karena diyakini
sedang mendapat izin untuk kembali ke rumah yang ditinggalkannya.
Di
satu sisi, ritual ini ada baiknya, yaitu adanya kesempatan untuk menyantap
makanan yang enak atau mencicipi kue-kue tradisional atau berbagai jenis buah
pisang, baik oleh keluarga maupun tetangga yang diundang. Namun yang menjadi pertanyaan
mengapa sebagian umat Islam yang lainnya tidak mau melakukan ritual seperti
itu?. Apakah cara berdoa model “Assuro Ammaca” disyariatkan dalam Islam?. Kalau
ritual seperti itu adalah sebuah adat warisan nenek moyang, apakah Islam
membolehkan kita mencampuradukkan antara ajaran agama dengan ajaran adat?
Betulkah masyarakat yang meninggalkan tradisi “Assuro Ammaca” adalah orang yang
sesat?.
Untuk
mencari kebenaran dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas, mari kita
kembalikan kepada ilmu yang diturunkan oleh Allah sebagaimana yang telah
disampaikan dan di contohkan oleh Rasulullah SAW yang benar adalah yang sesuai
dengan Al Qur’an dan sunnah Rasul sedangkan yang salah atau sesat adalah amalan
yang bertentangan dengan syariat Al Qur’an dan Sunnah Rasul.
A.Mengenal Tradisi ‘Assuro
Ammaca’
Dari segi istilah, “assuro ammaca” (Bahasa Makassar) terdiri
dari dua kata, yaitu “assuro” yang artinya menyuruh atau meminta seseorang.”
Dan “ammaca” yang artinya membaca suatu bacaan atau doa. Jadi “assuro ammaca”
dapat diartikan sebagai kegiatan meminta seseorang (yang dianggap bisa) untuk
membacakan suatu doa yang isinya permohonan untuk memperoleh sesuatu atau
terhindar dari sesuatu sebagaimana yang di maksudkan oleh orang yang meminta.
Ritual
ini sangat istimewa dimata masyarakat karena dilakukan melalui persiapan yang
matang dengan pengorbanan waktu, tenaga dan materi, bahkan akidahpun
dikorbankan. Adapun ciri khas ritual ini adalah :
1.
Adanya
makanan yang terhidang yang sengaja dipersiapkan untuk ritual ini. Makanan itu
berupa daging (sapi atau kambing atau ayam) yang sengaja disembelih untuk
ritual ini, nasi dari beras ketan, atau makanan ringan berupa kue tradisional
dan atau buah pisang dari berbagai jenis.
2.
Memakai
perdupaan sebagai sarana pengundang roh, perantara doa atau pengusir roh jahat.
3.
Bacaannya
ada yang berupa mantra dan ada pula yang berupa surat-surat pendek dalam Al
Quran (yang pahalanya dikirim kepada roh yang di maksud), dan doa-doa.
4.
Dianggap
sakral, antara lain berlangsung tertib, tenang dan khusyuk.
5.
Biasanya
dihadiri oleh tetangga – tetangga yang (diundang) atau orang – orang yang
dianggap bisa berdoa.
6.
Diakhiri
dengan acara makan bersama yaitu memakan makanan yang telah dibaca.
“Assuro ammaca” atau “assuru
appalattulung” biasanya dilakukan di rumah atau di tempat-tempat tertentu
seperti kuburan yang dianggap keramat, pohon besar, sungai-sungai dan tempat
lainnya yang diyakin keramat. Maksud
dan tujuan “Assuro Ammaca” bermacam-macam antara lain :
1.
Untuk
menghilangkan atau menghindarkan keluarga dari berbagai macam kesialan /
keburukan akibat
gangguan roh keluarga yang tidak dikirimi makanan.
2.
Untuk
memperoleh berkah berupa rekzi yang lancar, kesehatan atau kesembuhan.
3.
Sebagai
tanda kesetiaan kepada keluarga atau seseorang
yang telah mati.
4.
Sebagai
tanda / pengabdian seorang anak terhadap orang tuanya atau nenek moyangnya yang
telah mati.
5.
Untuk menghormati keluarga yang dimimpikannya berkunjung ke
rumahnya.Mereka percaya bahwa bila keluarga yang telah mati dimimpikan
berkunjung ke rumah berarti rohnya benar-benar berkunjung ke rumah dan keluarga
yang dimimpikan itu sedang menunggu kiriman makanan dari anak atau keluarga
yang ditinggalkannya.
Ritual
“Assuro Ammaca” ini biasanya dilakukan karena mengikuti tradisi orang tua saja
(nenek moyang), atau karena anjuran seorang dukun dan atau ajaran guru-guru
tariqat. Tata cara pelaksanaannyapun biasanya mengikuti petunjuk mereka.
B.Asal mula Tradisi ‘Assuro
Ammaca’
Asal
mula tradisi “assuro ammaca” tidak lepas dari kepercayaan manusia sebelum
datangnya Agama Islam di Indonesia.Sebelum Agama Islam masuk ke Indonesia
masyarakat Indonesia sudah lama mengenal kepercayaan dan pengabdian terhadap
sesuatu yang memiliki kekuatan yang berpengaruh terhadap kehidupannya, antara
lain animisme,dinamisme,Hindhu, dan Budha.
Animisme
mengandung ajaran kepercayaan kepada roh yang dikandung oleh tiap-tiap benda
baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa ( KBBI, 1996 : 42 ) sedangkan
dinamisme mengandung ajaran kepercayaan kepada benda-benda tertentu yang
mempunyai kekuatan gaib dan berpengaruh pada kehidupan manusia sehari-hari
yaitu mempengaruhi keberuntungan atau kegagalan usaha manusia dalam
mempertahankan hidupnya. ( KBBI, 1996 : 234).Sebelum agama Hindu, Budha dan Islam masuk ke Indonesia,
kepercayaan yang dianut bangsa Indonesia antara lain adalah paham animisme.
Menurut paham ini ruh dari orang-orang yang sudah mati itu sangat menentukan
bagi kebahagiaan dan kecelakaan orang-orang yang masih hidup di dunia ini. Merekapun percaya bahwa bila seseorang meninggal dunia, maka
ruhnya akan datang ke rumah pada malam hari
pada hari
tertentu mengunjungi
keluarganya. Jika dalam rumah yang dikunjunginya sesajian, seperti membakar kemenyan, dan sesaji kepada yang ghaib
atau ruh-ruh ghaib, maka ruh orang mati tadi akan marah dan mengganggu orang yang masih hidup dari keluarganyat. Maka untuk itu merekapun mempersebahkan sesajen/makanan buat tamu
gaibnya itu melalui ritual ‘assuro ammaca’.
Setelah orang-orang yang mempunyai kepercayaan
tersebut masuk Islam, maka mereka tetap
melakukan tersebut tersebut. Sebagai langkah awal, para
penyebar agama Islam terdahulu tidak memberantasnya tetapi mengalihkan dari
upacara yang bersifat Hindu dan Budha itu menjadi upacara yang bernafaskan Islam.
Mantera-mantera diganti dengan bacaan-bacaan Al Qur’an dan doa-doa.
Ketika agama Islam masuk ke masyarakat yang
sudah kuat dengan ajaran kepercayaan Hindu dan Budha. Para penyebar agama Islam mendapat tekanan yang
berat dari masyarakat yang memegang teguh tradisi Hindu dan Budha,maka
merekapun menempuh langkah
menyesuaikan diri dengan kepercayaan dan tradisi masyarakat yang telah ada. Kalau tidak demikian maka para penyebar
agama akan ditolak dan diusir di bumi nusantara ini. Para penyebar agama Islam
itulah memadukan antara ajaran Islam dengan tradisi-tradisi masyarakat yang
telah ada.
Adapun
kepercayaan dan amalan masyarakat Islam yang merupakan pengaruh dari tradisi
nenek moyang antara lain:
1.
Mendatangi
tempat atau kuburan orang saleh untuk berdoa, bernazar, mencari berkah dan
berkurban.
2.
Berdoa
dengan memakai perdupaaan atau pada makanan / sesajian.
3.
Mempersembahkan
makanan kepada orang yang telah mati pada ritual “attumate”
4.
Penyembelihan
hewan untuk orang yang telah mati
5.
Kepercayaan
bahwa orang yang mati bisa berkeliaran di muka bumi atau bisa hidup kembali
sebagai roh gentayangan, hantu, pocong, yang mendatangi rumahya pada
waktu-waktu tertentu
Tradisi
– tradisi tersebut di atas masih tetap hidup dalam sebagian besar masyarakat
Indonesia karena keberadaannya dilindungi/diakui oleh undang-undang, dan mereka
menganggap sebagai suatu ibadah karena banyak umat Islam yang mengikutinya,
lagi pula dipimpin oleh imam, ulama atau tokoh-tokoh agama.
Kelestarian
tradisi “assuro ammaca” di tanah air ini tidak lepas dari peran ulama /
kyai-kyai tradisional dan guru-guru tarekat. Di
katakan ulama tradisional karena merekalah ynag tetap melakukan dan
mempertahankan kelangsungan tradisi-tradisi dari generasi ke generasi.
Pada
tahun 1926 diadakan kongres Islam sedunia di Mekah oleh raja Abdul Azis ibnu
Sa’ud yang mengundang dua ulama Indonesia, yaitu H. Umar said dari Sarekat
Islam dan KH. Mas Mansyur dari Muhammadiyah. KH. Abdul Wahab Hasbullah, atas
nama kyai tradisional menyampaikan usul kepada kongres melalui kedua utusan
Indonesia. Mereka meminta kepada kongres Islam agar tradisi-tradisi masyarakat
seperti membangun kuburan, ziarah dan berdoa di kuburan keramat, dan tradisi
lainnya tetap dihormati dan diamalkan oleh umat Islam. Usulan mereka ditolak
karena kongres menilai bahwa usulan-usulannya itu bertentangan dengan Al Quran dan
hadist yang mengandung kesyirikan dan kesesatan.
Karena
usulan mereka ditolak maka ulama-ulama tradisional itu menyatakan keluar dari
kongres iIslam lalu membentuk komite Hejazh dan selanjutnya membentuk
organisasi Nahdatul ulama (NU) di
Surabaya Jawa Timur pada tanggal 13 Januari 1926 (Dirangkum dari Ensiklopedi
Islam jilid 3 : 353 ). Organisasi NU menyatakan berpaham Ahli Sunnah Wal
Jamaah. Pengaruh Nahdatul Ulama berkembang meluas ke
seluruh pelosok tanah air terutama kepada masyarakat Islam yang kurang memahami
ajaran/syariat Islam, masyarakat yang hanya bertaqlid
(mengikut) pada amalan tradisi nenek moyangnya.
C.Berdoa Menurut Syariat Islam
1.
Perintah
Berdoa
Berdoa
adalah salah satu bentuk ibadah yang amat istimewa bagi Allah. Makanya Allah
sangat menekankan agar selalu berdoa hanya kepada-Nya, sebagaimana firmannya:
Dan Tuhanmu berfirman“Berdoalah
kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
sombong tidak mau menyembahku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina
dina” QS. Al Mukmin : 60 )
“Bila
Hamba-hamba-ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku ini adalah dekat.
Aku akan mengabulkan doa orang-orang yang berdoa kepada-Ku. Oleh karena itu,
memohonlah kepada-Ku untuk dikabulkan” (QS. Al Baqarah : 186)
“Mohonlah
ampunan kepada Tuhanmu, sungguh dia maha pengampung” (QS. Nuh : 10)
“Barang
siapa yang berdoa selain kepada-Ku, niscaya Aku murka kepadanya “ ( HQR Askari
yang bersumber dari Abu Hurairah dengan sanad hasan).
Perintah
berdoa disampaikan pula oleh Rasulullsh SAW, antara lain dalam hadist-hadist
berikut :
“Mohonlah
kepada Allah Taala dari keutamaan-Nya sesungguhnya Allah Taala itu suka kalau
dimintai “ (HR. Tirmidzi)
“Tuhan
kita turun setiap malam ke langit dunia, ketika tinggal sepertiga malam
terakhir. Dia berfirman : “ siapa yang memohon kepada-Ku, aku akan
mengabulkan-Nya, siapa yang meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya, siapa yang
memohon ampunan-Ku Aku akanmengampuninya “ (HQR Bukhari-Muslim dan Tirmidzi).
Orang
yang tidak mau berdoa kepada Allah menurut QS. Al Mukmin : 60 dianggap sebagai
orang yang sombong, karena merasa tidak butuh, tidak tergantung kepada Allah
atau sudah merasa aman dari azab Allah. Dan Allah akan membalas orang-orang
yang menyombongkan dirinya di hadapan Allah.
1.
Adab
Berdoa
Meminta
kepada Allah tidaklah sama kalau kita meminta kepada sesama manusia. Meminta
(Berdoa) kepada Allah memiliki aturan tersendiri yang telah di ajarkan oleh
Allah dan Rasul-Nya. Adapun aturan-aturannya adalah :
a. Doa diucapkan langsung kepada Allah
dengan merendahkan diri dan suara yang
lembut, sebagaimana firman Allah : “ berdoalah kepada tuhanmu
dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas” ( QS. Al A’raaf : 55 ).
b.
Memakai
Asma-ul Husna sebelum mengucapkan doa sebagaimana firman Allah :
“Hanya milik Allahlah Asma-ul Husna, maka
berdoalah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu" (QS. Al A’raaf : 180 )
c.
Menghadap
kiblat ketika berdoa sebagaimana firman Allah :
“Palingkanlah
mukamu ke arah masjidil haram dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu
ke arahnya” (QS. Al Baqarah : 144). Sesungguhnya ketentuan itu benar-benar
suatu yang hak dari tuhanmu ( QS. Al Baqarah 149).
d. Mengangkat tangan ketika berdoa, sebagaimana
dalam hadist yang diberitakan oleh Umar ra “Rasulullah
SAW itu apabila mengangkat kedua tangannya kalau berdoa, maka tidaklah akan
dikembalikan dua belah tangannya itu sehingga diusapkan wajahnya “ (HR.
Tirmidzi).
e. Bersungguh-sungguh dan optimis dalam berdoa,
sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Berdoalah
kepada Allah dan kamu semua harus berkeyakinan pasti akan dikabulkan.
Ketahuilah bahwa Allah Azza Wajalla itu tidak akan mengabulkan suatu permohonan
yang keluar dari hati yang lalai” (HR. Tirmidzi dan Al Hakim).
f.
Bersabar
menunggu doa dikabulkan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Seseorang di antara kamu dikabulkan doanya
selama ia tidak tergesa-gesa di mana ia berkata, “saya berdoa namun tidak diperkenangkan
sehingga dia merasa jengkel dan tidak berdoa lagi (HR. Bukhari dan Muslim).
g.
Berdoa
dengan doa-doa Rasulullah SAW karena beliaulah suri teladan kita dalam
beribadah kepada Allah, sebagaimana firman Allah :
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suru teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang-orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak menyebut nama Allah” (QS. Al Ahsab : 21).
h.
Hendaknya
bersih dari makanan atau minuman yang haram, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Wahai
sa’ad, jauhilah perbuatan haram karena sesungguhnya setiap perut yang di
dalamnya terdapat sesuap dari yang haram, maka doanya tidak diterima selama 40
hari” (diriwayatkan oleh Abu Laits As Samargamdi).
i.
Hendaknya
berdoa pada waktu-waktu yang dimuliakan Allah seperti pada Bulan Ramadhan, Hari
Arafah, Hari Jumat, dan waktu menjelang sahur, sebagaimana firman Allah :
“Mereka
itu sedikit sekali tidurnya, diwaktu malam, sedang diwaktu menjelang fajar
mereka senantiasa memohon pengampunan” (QS. Ad Dzariyat : 17-18).
Waktu-waktu berdoa lainnya adalah :
-
Setiap
selesai sholat, sebagaimana yang telah dicontoh oleh Rasulullah SAW, yang
diriwayatkan dalam beberapa hadist;
-
Ketika
ayam berkokok, sebagaimana sabda Rasulullsh SAW :
“Apabila
kamu mendengar ayam berkokok maka mohonlah kemurahan Allah karena ketika itu
ayam tersebut melihat malaikat” (HR. Bukhari dan Muslim).
-
Ketika
bersujud, sebagaimana contoh rasulullah SAW :
“Adapun
pada waktu sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena doa kalian
(pada saat itu) banyak untuk di kabulkan (HR. Muslim).
j.
Hendaknya
meninggalkan perkara-perkara yang dilarang karena hanya akan menghalangi
terkabulnya doa, seperti :
-
Jangan
melakukan amalan bid’ah ketika berdoa karena amalan bid’ah hanya membuat
doa-doa tertolak, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Barang
saiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada atas syariat kami maka
tertolak” (HR. Bukhari Muslim).
-
Jangan
memakai jimak-jimak atau benda-benda yang mengandung syirik, sebagaimana sabda
Rasulullah SAW :
“Barang
siapa yang memakai jimak maka ia telah berbuat syirik” dan “Barang siapa yang
memakai jimak maka Allah tidak akan menyempurnakan keperluannya”
-
Jangan
mengangkat pandangan ke langit, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“Hendaklah
semua kaum yang mengangkat pandangannya ke langit ketika berdoa dalam sholat
atau semua mata mereka disambar petir “ ( HR. Bukhari dan Muslim).
-
Jangan
mendatangi dukun untuk suatu urusan perdukunan, karena membuat sholat, doa,
maupun taubat tidak di terima selama 40 hari, berdasarkan sabda Rasulullah SAW
dalam HR. Muslim atau dianggap sebagai orang yang kufur terhadap Al Quran (HR.
Ahmad).
-
Jangan
bermain-main ketika berdoa, sebagaimana firman dalam hadist Qudsi :
“Kamu
berdoa kepada-Ku namun hatimu berpaling dari pada-Ku, maka betapa palsu apa
yang kamu lakukan” (Diriwayatkan oleh ja’far bin bargam).
-
Jangan
melagu-lagukan doa atau mengucapkannya dalam bentuk puisi, karena termasuk
perbuatan melampaui batas aturan berdoa, sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas (Qs. Al A’raaf : 55).
-
Jangan
menyebut nama Allah dengan nama yang bukan termasuk asma-ul husna, sebagamana
firman Allah :
“Dan
tinggalkanlah orang-orang yang menyimpan dari kebenaran dalam (menyebut)
nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang mereka
kerjakan” (QS. Al A’raaf : 180 ).
Bagaimana dengan kebiasaan kita mengucapkan
“karaeng Allah taala” misalnya karaeng tinggi berdoa ‘oh karaeng Allah Taala
sembuhkanlah saudaraku “karaeng lompo” apakah penyebutan gelar ‘Karaeng” pada
manusia dipakai juga pada Allah? Allah disejajarkan dengan manusia, jawabannya
ada pada diri kita masing-masing.
k.
Beberapa
perkara yang dibolehkan antara lain :
-
Boleh
mendoakan orang lain asal orang yang didoakan itu tidak bersama dengan kita
atau kita berlainan tempat, berdasarkan sebuah riwayat tentang seorang yang
meminta kepada sahabatnya yang hendak berhaji untuk di doakan, lalu mereka
bertanya kepada Rasulullah SAW dan beliau bersabda :
“Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama
muslim yang tidak berada di tempatnya akan dikabulkan, selama ia mendoakan
muslim lain. Di atas kepalanya ada malaikat yang ditugasi untuk mengucapkan
“amiin” (HR. Muslim).
-
Boleh
berdoa dengan lebih dahulu menyebut-nyebut kebaikan yang pernah kita lakukan,
atau melakukan suatu kebaikan lebih dahulu sepert bersedekah, baca Al Quran.
Memberi makan orang miskin, dan lain-lain yang disyariatkan, berdasarkan sebuah
kisah yang di ceritakan oleh rasulullah SAW tentang tiga orang yang terjebak di
dalam gua, ketiganya bergantian berdoa dengan terlebih dahulu menyebut
kebaikan-kebaikan yang pernah di lakukannya, maka Allah pun mengeluarkannya
dari gua itu (HR. Bukhari dan Muslim)
-
Boleh
menggunakan mantra atau bacaan dengan bahasa sendiri asalkan tidak mengandung
syirik, sebagamana sabda Rasulullah SAW kepada seorang yang bertanya kepadanya
tentang mantra : “Pergunakanlah mantramu
itu sepanjang tidak mengandung syirik (HR. Muslim).
-
A. Meninjau Tradisi Assuro Ammaca Untuk Orang yang Telah Mati
Kepercayaan
dan amalan-amalan yang bersumber dari tradisi nenek moyang sebenarnya telah ada
sebelum datangnya Agama Islam oleh Nabi Muhammad SAW. Hal ini dikabarkan di
dalam Al Quran :
“Dan apabila di katakan kepada mereka: “
Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab “(tidak) tetapi kami
hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.
(apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak
mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk? (Qs. Al Baqarah : 170 dan
Al Maidah : 104)
“Dan apabila di katakan kepada mereka:
“ikutilah apa yang di turunkan Allah, mereka menjawab ‘(tidak), tetapi kami
hanya mengikuti apa-apa yang kami dapati dari bapak-bapak kami mengerjakannya.
Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu
menyeruh mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? “(QS. Lugman :
21)
Tradisi
“Assuro ammaca” berupa berdoa yang diengkapi sesajian/makanan dan perdupaan telah lama dilakukan oleh masyarakat Arab dan masyarakat Indonesia sebelum Islam. Namun setelah datangnya Islam, amalan-amalan seperti itu dilarang karena
termasuk kepercayaan dan amalan yang tidak didasari oleh ilmu pengetahuan yang
benar dan termasuk ajaran-ajaran syaitan.
Ada
beberapa hal dari tradisi “assuru ammaca” yang bertentangan dengan sunnah Al
Quran dan hadist, antara lain :
1.
Berdoa
dengan memakai perdupaan dan sesajian (makanan) adalah peniruan terhadap kaum
jahiliyah.
Dalam berdoa hanya disyariatkan memakai Asmaul
husna sebagai perantara atau dengan melakukan amal-amal kebaikan. Berdoa dengan
cara yang tidak disyariatkan maka menurut Rasulullah SAW, maka doa amalan itu
tertolak (HR. Muslim) dan dianggap sebagai amalan bid’ah / sesat yang harus di
jauhi (HR. Abu Daud).
Kepercayaan bahwa asap dupa dapat mengundang
roh-roh yang kita beri sesajian untuk datang menikmati sesajian tidak memiliki
dasar dalam ajaran Islam, karena roh orang yang
telah berada di alam kubur mustahil akan bisa kembali ke dunia karena di
batasi oleh dinding yang tidak bisa ditembus oleh siapapun (QS. Al Mukminum :
100 ).
2.
Persembahan
sesajian / makanan kepada keluarga atau orang-orang yang meninggal.
Kepercayaan dan amalan ini tidak memiliki dasar syariat bahwa makanan itu akan sampai
ke alam kubur atau penghuni alam kubur akan ke dunia menikmati makanan
persembahan itu tetapi semua itu hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan
persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran (QS. An Najm
: 28). Dan Allah akan membalas apa yang mereka ada-adakan (Qs. Al An’aam : 138
). Dan roh orang yang mati mustahil akan kembali ke alam dunia (QS. Al Mukminum
: 100).
Makanan yang disajikan untuk orang yang telah
mati mustahil akan dinikmati oleh mereka, karena selain tidak akan sampai
kepadanya juga karena materinya berbeda. Walaupun sama-sama berupa nasi, namun
nasi orang dunia berbeda dengan nasi orang akhirat (alam kubur) berbeda. Dan
manusia di alam kubur itu memperoleh makanan dari balasan amalnya bukan dari
kiriman keluarganya yang masih hidup, sebagaimana firman Allah “Sesungguhnya kamu
hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan (QS. At Tahrim : 7 ) dan
tidak dibalas kamu melainkan apa yang kamu kerjakan (QS. Al Israa : 15).
Menurut keterangan Rasulullah SAW bahwa jin memakan halusnya makanan manusia
(HR. Muslim), jadi jelas bahwa makanan kita (halusnya ) tidak sampai ke roh
keluarga kita melainkan dinikmati oleh jin / syaitan yang kelaparan.
3.
Penyembelihan
Binatang
Makanan
yang disajikan dalam ritual “assuru ammaca” biasanya terdiri dari daging-daging
dari hewan sembelihan atas nama atau di peruntukkan bagi mereka yang telah
mati, ataukah keluarga atau penghuni kuburan yang dikeramatkan. Penyembelihan
hewan atas nama selain Allah adalah haram, termasuk atas nama orang yang telah
mati atau untuk berhala (QS. Al Ma`idah : 3 ). Yang dimaksud atas nama selain
Allah adalah yang pergunakan pada sesuatu yang tidak disyariyatkan Allah atau
menyebut nama selain Allah ketika menyembelihnya.
Menyembelih
hewan untuk orang yang telah mati, penghuni tempat keramat, adalah
penyembelihan yang tidak disyariatkan Allah. Yang disyariatkan antara lain
untuk walimah (pesta perkawinan),untuk menjamu tamu, untuk memberi makan
pekerja, untuk qurban,atau untuk aqiqah anak yang baru lahir. Islam tidak
mengajarkan penyembelihan hewan aqiqah bagi orang tua atau keluarga yang telah
mati.
4.
Persembahan
makanan / sesajian di tempat atau kuburan keramat.
Ziarah kubur dan mendoakan keselamatan
penghuni kubur adalah sunnah (HR. Muslim) tetapi ziarah kubur dengan maksud
menyampaikan doa untuk keselamatan dari keberkahan diri kita adalah perkara
yang tidak disyariatkan. Begitupun halnya membawa dan menyimpan makanan
dikuburan adalah suatu kebodohan dan kesesaatan.
Kepercayaan bahwa para penghuni kuburan
keramat adalah orang-orang saleh yang dapat membantu kita memperjuangkan doa
kita di hadapan Allah tidak memiliki dasar syariat , yang disyariatkan adalah
berdoa sendiri di rumah atau di mesjid setelah shalat, setelah membaca Al Quran
atau setelah berzikir dengan cara yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya.
Dengan sengaja mempersiapkan makanan
persembahan kepada penghuni kuburan keramat dengan harapan mendapatkan berkah
atau terlindung dari kejahatannya adalah perbuatan syirik. Hanya kepada
Allahlah kita memohon berkah dan perlindungan. Begitupun dengan maksud sebagai
tanda terima kasih karena apa yang kita impikan tercapai setelah mendatangi
kuburan / tempat keramat itu (nazar) adalah syirik. Hendaknya hanya kepada
Allahlah kita bersyukur karena segala kenikmatan hanya datang dari Allah.
Mengusap-ngusap nisan dan mengambil minyak
yang ada di kuburan keramat atau membuat ikatan di pohon lalu mengucapkan nazar
adalah perbuatan syirik. Tidak disyariatkan mempersembahkan makanan kepada
orang yang telah mati atau penghuni tempat keramat, yang disyriatkan adalah
memberi makanan kepada orang miskin, orang yang dalam perjalanan, keluarga yang
sedang berduka, atau yang sedang tertimpa musibah.
5.
Assuro
Ammaca yang disertai perdupaan dan sesajian adalah amalan tradisi nenek moyang.
Amalan ini bersumber pada kepercayaan jahiliyah dan diteruskan
oleh penganut agama Hindu dan Budha. Akankah kita akan mengikuti mereka, padahal
Allah telah mengajarkan cara berdoa yang benar. Bukankah Rasulullah SAW telah
menyatakan bahwa “Barang siapa mengikuti suatu kaum maka termasuklah ia kedalam
kaum itu” dan kalau kita mengikuti ajaran Allah dan Rasulnya dalam berdoa maka
kita termasuk orang-orang yang akan di anugerahi nkmat ( Qs. An Nisa : 69 ).
Berdoa dengan memakai perdupaan yang merupakan
amalan jahiliyah dan amalan umat agama lain yang sudah dihapus / dilarang
setelah adanya Islam. Kalau melakukan sesuatu yang sudah dilarang oleh Allah
maka akankah Allah akan menerima doa
kita ?. Allah tidak mau melihat umat Islam berdoa dengan cara-cara jahiliyah,
Doa kepada Allah itu tidak memiliki perantara apa-apa dan dengan suara yang
lembut. Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas dalam berdoa.
Kalau kita menemui seseorang untuk meminta sesuatu dengan membawa sesuatu yang dibenci oleh orang itu,
apakah orang itu akan menerima kedatangan kita dan mau menerima permintaan
kita?. Begitupun Allah. Allah tidak menyukai doa yang memakai perdupaan maka
sudah tentu tidak akan melayani permintaan kita, dan Allah bisa membaca hati
kita. Hati yang ditolak Allah adalah hati yang meyakini berdoa kepada Allah
mesti dengan perdupaan, tanpa perdupaan doa tidak akan ditanggapi. Boleh
menggunakan perdupaan sekedar mengharumkan ruangan, apabila tidak diperoleh
alat pengharum lainnya, dan tidak boleh dijadikan syarat berdoa kepad Allah.
6.
Assuro
Ammaca pada waktu-waktu tertentu adalah tradisi Hindu dan Budha.
Masyarakat sebelum Islam meyakini bahwa pada waktu-waktu tertentu ruh keluarga berkunjung ke
rumah, seperti awal Ramadhan, hari raya, hari tertentu dari kematiannya ( ke-3,
ke-7, ke-40, ke-100, atau 1 tahun. Maka diadakanlah acara jamuan berupa
persembahan makanan .Kepercayaan ini bersumber dari tradsi sebelum Islam yang
hendak di lestarikan oleh orang-orang yang memanjakan nafsu makannya. Kepercayaan
yang benar adalah ruh manusia setelah keluar dari tubuh dan memasuki
alam kubur maka terputuslah hubungannya dengan dunia dan terputuslah jalannya
ke dunia. Kalau ada masalah dengan orang dunia dan orang dunia tidak
memaafkannya maka masalah itu akan di selesaikan setelah kiamat. Ruh orang yang baik akan tinggal di tempat tinggi dan
roh orang yang buruk akan terpenjara di tempat yang rendah. Mereka tidak akan
bisa ke alam lain sampai dibangkitkannya setelah kiamat. ( QS. Al Mukminum :
100 ). Antara alam dunia dan alam kubur terhalang oleh dinding yang tidak ada
yang bisa melewatinya kecuali yang di kehendaki Allah (malaikat).
Amalan yang disyariatkan untuk keluarga yang
telah mati adalah mendoakan keselamatannya, mendoakan agar Allah mengampuni
dosa-dosanya dan memberi tempat yang layak. Doa dipanjatkan setiap saat, setelah
selesai sholat, di bulan ramadhan, pada sholat hari raya tanpa menunggu
waktu-waktu tertentu seperti di atas dan disyariatkan pula bersedekah atas nama
keluarga yang telah mati. Ingat hadis Rasulullah SAW bahwa ketika manusia itu
mati maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu sedekah jariah, ilmunya yang
berguna, dan doa amalnya yang saleh.Jadi perihalalah sesuatu yang menjadi
sedekah jariahnya, amalakan dan teruskan ilmunya serta doakan selalu keluargamu
yang telah mati.
7.
Berdoa
dengan perantaraan orang lain (assuro ammaca) tidak diajarkan oleh Allah dan
Rasul-Nya.
Allah telah menyampaikan kepada Rasulullah SAW
bahwa “Bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka katakanlah
sesungguhnya Aku adalah dekat, Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa
kepadaku”. (QS.
Al Baqarah:186) Ayat ini
menunjukkan bahwa Allah menginginkan agar hamba-Nya dekat kepada-Nya, selalu
meminta sebagaimana kalau kita meminta
kepada orang yang ada di dekat kita. Kalau kita meminta sesuatu kepada orang
yang sudah ada di hadapan kita, yang sudah menunggu kita untuk dimintai, apakah
harus pergi dulu mencari orang yang bisa menyampaikan permintaan kita? Tentunya
tidak, maka begitupun Allah. Allah lebih senang kalau kita mengenal-Nya, dekat
dengan kita dan memanfaatkan kedekatan itu untuk meminta langsung kepada-Nya
dari pada meminta orang lain mendoakan padahal orang lain itu belum tentu
mengenal dan dekat kepada Allah. Tentu agak lucu kalau seseorang mempelajari
agama Islam, atau sudah menunaikan ibadah haji, lalu meminta kepada orang yang
tidak paham agama atau belum haji untuk mendoakan kepada Allah.
8.
Berdoa
kepada Allah yang disertai perdupaan atau sesajian untuk siapa?
Makanan apapun yang kita sajikan tidak akan
dimakan oleh Allah. Berapapun hewan yang kita sembeli lalu disajikan ketika
berdoa tidak akan menarik perhatian Allah dan tidak mempengaruhi Allah untuk
mengabulkan doa kita, justru Allah akan menolak doa seperti itu sebagaimana
keterangan Rasulullah SAW ( HR. Muslim ).
Yang sampai kepada Allah hanyalah ketakwaan
dan ketaatan hati kita terhadap syariat Allah. Seperti halnya kurban dan akikah
anak. Sesungguhnya darah dan daging (sembelihan) tidak akan sampai mencapai
keridhaan Allah, tetapi ketakwaanlah yang mencapainya.
Walaupun kita ikhlas menyembeli hewan untuk
“assuro ammaca” namun keikhlasan itu tiada artinya, karena pengorbanan seperti
itu tidak disyariatkan sedangkan amalan yang tidak disyariatkan oleh agama
Islam adalah tertolak (HR. Muslim) dan termasuk amalan sesat yang harus
ditinggalkan sebagaimana wasiat Rasulullah SAW (HR. Abu Daud ).
9.
Kebanyakan
umat Islam melakukan ritual “assuro ammaca” karena dipengaruhi oleh adanya
orang-orang yang kesurupan.
Di antaranya ada yang mengaku sebagai orang
tuanya, roh orang saleh, roh penghuni tempat keramat dan lain-lain. Mereka
mengaku datang untuk mengingatkan keluarganya atau pengikutnya agar selalu
mengingatnya, antara lain memberinya makanan. Pengakuan-pengakuan seperti
itulah yang membuat masyarakat percaya bahwa sesajian yang dipersembahkan itu
benar-benar sampai kepada yang dituju.
Benarkah yang masuk ke dalam tubuh manusia
berkata-kata itu adalah roh manusia (orang tua
atau orang saleh) ?.Tidak ada satu dalilpun yang menyatakan bahwa roh
manusia baik yang masih hidup maupun yang jasmaninya telah mati dapat meninggalkan jasmani atau
keluar dari kuburnya lalu masuk ke dalam tubuh manusia lainnya. Yang ada adalah
dalil yang menyatakan bahwa jin dapat masuk ke dalam tubuh manusia, yaitu sabda
Rasulullah SAW : “sesungguhnya syaitan
(jin) beredar dalam diri manusia seperti aliran darah (HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi yang masuk kedalam tubuh orang yang
kesurupan itu adalah syaitan dari bangsa jin. Dan dalam rangka misi menyesatkan
manusia maka syaitan-syaitan itu mengaku sebagai roh orang tua atau orang-orang
saleh, karena syaitan itu tahu bahwa manusia itu pasti percaya dan mentaati
permintaan orang tua dan orang-orang saleh. Misi menyesatkan adalah keberadaan
syaitan yang telah mendapat SIM (surat izin menyesatkan) dari Allah sebagaimana
firman Allah :
“Iblis nerkata : Rabbi lantaran
Engkau telah menetapkan aku sesat, sungguh aku benar-benar membuat mereka
memandang indah (kemaksiatan) di muka bumi, dan aku akan benar-benar
menyesatkan mereka semuanya.kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara
mereka’ (QS. Al Hijr : 39-40)
“Iblis berkata : “maka demi
kekuasaan-Mu, aku benar-benar akan menyesatkan mereka semua, kecuali
hamba-hambamu yang mukhlis di antara mereka (QS. Shad : 82-83) dan dalam sabda Rasulullah SAW iblis berkata
sebagaimana yang disabdakan rasulullah SAW :
“Demi kegagahan dan kemuliaan-Mu, aku akan terus
menerus menyesatkan hambamu selama hayat mereka di kandung badan” (Hr. Ahmad
dan Hakim ).
Adapun surat izin Allah adalah surat nomor : Q.S. Al
Israa (17) : 63-65 yang isinya :
“pergilah, barang siapa diantara
mereka (manusia) yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka jahannam adalah
balasanmu semua. Sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang
kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkan terhadap mereka
pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan
mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang
dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya
hamba-hambaku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka dan cukuplah Tuhanmu
sebagai penjaganya.
10. Di antara umat Islam ada pula yang melakukan
ritual “assuro ammaca” karena mengikuti petunjuk dukun.
Kebanyakan di antara kita termasuk penulis
pernah percaya bahwa dukun itu adalah orang yang mendapat petunjuk dari Allah,
dia itu adalah kekasih Allah sehingga Allah bisa memenuhi segala permintaanya.
Padahal kita belum tahu siapa sebenarnya dukun itu.
Dukun adalah sekutu setan untuk menyesatkan manusia. Pengobatan yang dilakukan
dukun hanyalah alat untuk mencapai tujuan penyesatannya. Agama melarang kita
bersekutu dengan sekutu-sekutu syaitan. Perhatikan sabda Rasulullah SAW :
“Para malaikat sedang
bercakap-cakap di awan mengenai urusan yang terjadi di bumi. Kemudian syaitan-syaitan
menguping percakapan tersebut seraya menuangkannya ke dalam telinga dukun
sebagaimana menuang kedalam botol. Syaitan-syaitan itu menambahinya dengan
seratus kebohongan (HR. Bukhari).
“Barang siapa yang mendatangi
dukun atau paranormal seraya menanyakan suatu permasalahan, maka tidak diterima
sholatnya selama 40 hari. (HR. Muslim)
“Barang siapa yang mendatangi
dukun atau paranormsl seraya membenarkan ucapannya berarti ia telah kafur
terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad SAW (Al Quran) (HR. Ahmad)
“Orang yang mendatangi dukun
serta membenarkan ucapannya berarti telah kafur terhadap apa yang di turunkan
kepada Nabi Muhammad SAW “(HR. Hakim dan As Habush Sunan).
“Bukan termasuk umat kami, orang
yang mempercayai adanya tanda keberuntungan dan kesialan, orang yang menjadi
dukun dan mendatangi dukun, serta tukan sihir dan orang yang mendatangi tukan
sihir “(HR Tabrani dan Al bazzar )
Rasulullah SAW mengeluarkan larangan keras mendatangi para dukun,
membenarkan ucapan mereka menyangkut masalah perdukunan. Pelarangan ini
didasari oleh adanya kemungkaran yang besar, bahaya yang besar dan
akibat-akibat yang buruk.
B. Penutup
Bagi
umat Islam yang beriman kepada Allah dan
hari akhirat (pembalasan), menyembah Allah dengan ikhlas dalam menjalankan
agama yang lurus adalah jalan yang terbaik dari pada mengikuti syariat yang
hanya bersumber dari hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.
“Assuro
ammaca” dengan segala macam bentuk dan tujuannya adalah amalan tradisi yang di
dalamnya mengandung kedurhakaan, kesyirikan dan kesesatan.Kedurhakaan karena
tidak mentati perintah Allah untuk hanya mengikuti syariat-Nya dan melanggar
larangan – larangan Allah. Kesyirikan karena mengambil ajaran selain ajaran
Allah, melakukan suatu pemujaan dan penyembelihan hewan yang dipersembahkan
kepada selain Allah. Sedangkan kesesatannya adalah karena melakukan
amalan-amalan yang tidak diajarkan atau tidak diamalkan oleh Rasulullah SAW,
atau amalan yang tidak sesuai syariat al Quran dan Sunnah rasul-Nya.
Kedurhakaan,
kesyirikan, dan kesesatan hanya akan membawa kerugian bagi kita, mendekatkan
kita kepada syaitan dan mengantar kita ke dalam nyala api neraka yang
menyala-nyala.
Orang
yang dianugerahi iman dan akal sehat tentu akan menempuh jalan yang benar dan
meninggalkan kedurhakaan, ksyirikan dan kesesatan . tidak akan membuang-buang
waktu, tenaga dan harta untuk suatu amalan yang sesat. Lebih baik berkorban di
jalan Allah dari pada berkorban di jalan syaitan.
Memang
berat dan penuh cobaan bila kita meninggalkan tradisi-tradisi masyarakat, namun
lebih baik di benci oleh jutaan masyarakat dari pada di benci oleh Allah yang
satu. Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka
dengan cara yang baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar