Allah
SWT telah menciptakan surga dan neraka sebagai tempat untuk membalas amal
perbuatan manusia dan jin.Surga yang penuh dengan kenikmatan diperuntukkan bagi
hamba yang diramhati-Nya dan neraka yang penuh dengan kesengsaraan
diperuntukkan bagi manusia yang meninggalkan dunia dalam keadaan durhaka.Allah
telah mengilhamkan dua jalan kepada jiwa manusia,yaitu jalan kefasikan dan
jalan ketakwaan.Bagi orang yang menempuh jalan kefasikan maka akhir perjalannya
adalah neraka dan kepada yang menempuh jalan ketakwaan maka akhir perjalannya
adalah surga.Allah membekali masing-masing manusia dengan hati dan akal pikiran
untuk menentukan jalan mana yang hendak dilaluinya.Maka beruntunglah
orang-orang yang menggunakan hati dan akalnya dalam menjalankan agama Allah dan
merugilah orang-orang yang tidak menggunakan hati dan akalnya dalam menjalankan
agama Allah yaitu Islam.
Kita
semua tentu tidak mau rugi dalam hidup ini,melainkan menginginkan keberuntungan
hidup di dunia dan di akhirat. Allah pun mendorong kita untuk berjuang mengejar
kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia.Agar perjuangan hidup kita bisa
tercapai maka Allah menurunkan syariat (peraturan hidup) bagi manusia yang
berisi kebenaran,yaitu kebenaran sejati yang tidak bisa diragukan. Kebenaran
tersebut telah sempurna mengatur segala aspek kehidupan manusia yang bisa
mengantar kita kepada jalan ketakwaan dan menjauhkan kita dari jalan kefasikan.Kebenaran
yang yang terangkum dalam Agama Islam tersebut tidak perlu lagi ditambah-tambah
dengan syariat apapun dari selain Allah,apalagi dicampuradukkan dengan
kebatilan.
Kita
hidup dalam masyarakat yang majemuk,yang bukan saja berbeda suku dan ras,melainkan
berbeda keyakinan beragama.Sesama Islam pun kadang kita berbeda pendapat/paham
dan kita hidup dalam berbagai golongan sampai umat Islampun terpecah belah
menjadi beberapa golongan yang masing-masing golongan menganggap dirinya paling
benar,padahal kebenaran itu hanya satu.Diantara kita ada yang berdalih bahwa
perbedaan pendapat adalah rahmat padahal itu adalah pendapat yang
keliru.Bagaimana mungkin perbedaan pendapat itu dikatakan sebagai rahmat
sedangkan Allah sendiri melarang kita berpecah belah dalam agama,Allah menyuruh
kita bersatu berpegang teguh dalam agama Islam,sehingga setiap kali kita
berbeda pendapat dengan sesama maka Allah memberikan solusi yaitu kembalikan
perbedaan itu kepada Allah (Al Quran) dan rasul/hadis (QS.An Nisaa:59).
Rasulullah
SAW telah meyatakan kepada para sahabat bahwa kelak umat Islam akan berselisih
paham,dan Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabat yang seandainya mendapati
zaman perselisihan pendapat itu dalam urusan agama Islam maka “berpegang
teguhlah kepada sunnahku dan sunnah sahabatku yang diberi petunjuk,dan jauhilah
perkara baru yang diada-adakan,karena setiap perkara baru adalah bi’dah dan
setiap bid’ah adalah sesat” (HR.Abu Daud,Ibnu Majah dan Ad Darimi).Dalam hadis
lain Rasulullah SAW mengatakan bahwa kelak umatku akan terbagi menjadi 73
golongan,72 golongan akan masuk neraka dan 1 golongan akan masuk surga.Siapa yang
satu golongan itu ?,Tanya seorang sahabat.Rsulullah menjawab bahwa yang 1 itu
adalah pengikut sunnahku,atau oleh para ulama mengistilahkannya sebagai
golongan ahlusunnah wal jamaah.
Di
dalam masyarakat Islam di tanah air ini,kadang kita hidup bersama dengan sesama
umat Islam tetapi berbeda keyakinan beragama,berbeda pendapat atau berbeda
amalan dan semuanya mengaku ahlusunnah waljamaah,yaitu golongan pengikut
sunnah,tetapi dalam prakteknya terkadang amalan tersebut tidak ditemukan dasar
syariatnya dalam sunnah (Al Quran dan hadis).
Islam
ini dibangun di atas sunnah maka untuk menentukan siapa sebenarnya ahlusunnah
dan siapa yang ingkar sunnah (ahlu bid’ah) maka kita kembalikan kepada sunnah
(Al Quran dan Hadis).Siapa yang keyakinan dan pelaksnaan agamanya sesuai sunnah
maka itulah ahlusunnah dan siapa yang melebihi dari sunnah maka itulah ahlu bid’ah.Nah,supaya
anak-anakku ataupun saudara-saudara pencinta sunnah bisa membedakan antara
keyakinan dan amalan yang sesuai sunnah dan yang melanggar sunnah maka penulis
mempersebahkan sebuah tulisan tentang “Tradisi Attumate dalam Tinjauan
Syariat”.
Penulis
terdorong mengungkap masalah Tradisi Attumate ini karena dalam masyarakat
tempat tinggal kita tradisi ini amat populer dan mendapat tempat istimewa di
hati umat Islam,diataranya mereka percaya bahwa “attumate” adalah bagian dari
amalan ibadah dalam Islam,karena banyaknya umat Islam yang melakukannya dan
umumnya dipimpin oleh imam atau tokoh-tokoh agama dalam masyarakat.Namun
sebagaian kecil masyarakat lain tidak mau melakukan amalan tersebut karena
diyakini bukan syariat Islam atau sebagai amalan bid’ah yang harus
dijauhi.Apakah karena banyak umat yang melakukan ritual “attumate” sehingga
kita katakan bahwa golongan yang banyak itu benar,sedangkan golongan kecil
yang tidak mau melakukan ritual tersebut kita anggap sebagai kelompok yang
salah atau sesat,padahal Allah telah mengingatkan bahwa “Dan
jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka
akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti
persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”
(QS.Al An Aam:116). Begitupun dalam QS Al Mukminuun:34,Allah
menyatakan: “Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati
manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi)
orang-orang yang merugi”.Kalau demikian siapa yang harus dikuti atau
ditaati,jawabnya adalah “taati Allah dan Rasul agar kamu mendapat
rahmat”,bagaimana cara mentaati Allah dan Rasul,yaitu masuklah ke dalam Islam
secara keseluruhannya dan jangan mengikuti langkah-langkah setan ,dengan meyakini dan
melaksanakan syariat yang diturunkan Allah melalui Al Quran dan sunnah rasul
dan tinggalkanlah syariat-syariat lainnya.
Alasan
yang kedua sehingga penulis mengungkap masalah ini karena kurangnya ulama atau
pemimpin umat yang bersedia menjelaskan kepada umat bagaimana sesungguhnya tradisi
ini ditinjau dari akidah dan syariat Islam, serta kurangnya atau bahkan tidak
adanya buku-buku atau tilisan-tulisan yang mengupas tuntas tradisi attumate
ini,sehingga dengan adanya tulisan ini masyarakat dapat memperoleh informasi
tentang tradisi attumate untuk menjadi pertimbangan apakah amalan tradisi
attumate ini layak diteruskan atau lebih baik ditinggalkan.Adapun tujuan
penulis mengupas tradisi ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada generasi
Islam dan saudara-saudara yang memiliki komitmen menegakkan sunnah,berjemaah di
atas kebenaran.
Kebenaran
janganlah dilihat pada banyaknya orang yang melakukannya dan dari popularitas
orang yang mengatakannya,melainkan lihatlah pada sumber kebenaran (Al Quran dan
Sunnah Rasul).Apakah anda akan ragu karena merasa sendikit dan dianggap asing
oleh masyarakat atau mendengar
ucapan-ucapan yang berupa celaan atau cemohan karena tidak mengikuti golongan
mereka untuk melakukan tradisi “attumate” atau
tradisi lainnya ?.Janganlah bersedih.Janganlah ragu.”Bersabarlah
terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang
baik” (QS.Al Muzammil:10).Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa “Islam awalnya
asing dan akhirnya akan kembali dianggap asing,maka beruntunglah orang-orang
yang dianggap asing” (HR.Muslim).Tetaplah berjalan di atas sunnah sekalipun
terasa penuh dengan duri.Jalanilah kebenaran Islam sekalipun terasa
pahit,yakinlah bahwa senantiasa bersama dengan orang-orang yang bersabar dalam
kebenaran.Allah adalah sebaik-baik penolong dan pelindung orang-orang yang
beriman dan bertakwa kepada-Nya.Akhirnya,kepada Allahlah penulis berharap
semoga tulisan yang sederhana ini dapat memberi manfaat bagi umat Islam
terutama bagi diri dan keluarga penulis.Amin.
Palajau,
30 April 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar