Kamis, 30 April 2015

KATA PENGANTAR 'TRADISI ATTUMATE DALAM TINJAUAN SUNNAH'


Allah SWT telah menciptakan surga dan neraka sebagai tempat untuk membalas amal perbuatan manusia dan jin.Surga yang penuh dengan kenikmatan diperuntukkan bagi hamba yang diramhati-Nya dan neraka yang penuh dengan kesengsaraan diperuntukkan bagi manusia yang meninggalkan dunia dalam keadaan durhaka.Allah telah mengilhamkan dua jalan kepada jiwa manusia,yaitu jalan kefasikan dan jalan ketakwaan.Bagi orang yang menempuh jalan kefasikan maka akhir perjalannya adalah neraka dan kepada yang menempuh jalan ketakwaan maka akhir perjalannya adalah surga.Allah membekali masing-masing manusia dengan hati dan akal pikiran untuk menentukan jalan mana yang hendak dilaluinya.Maka beruntunglah orang-orang yang menggunakan hati dan akalnya dalam menjalankan agama Allah dan merugilah orang-orang yang tidak menggunakan hati dan akalnya dalam menjalankan agama Allah yaitu Islam.
Kita semua tentu tidak mau rugi dalam hidup ini,melainkan menginginkan keberuntungan hidup di dunia dan di akhirat. Allah pun mendorong kita untuk berjuang mengejar kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia.Agar perjuangan hidup kita bisa tercapai maka Allah menurunkan syariat (peraturan hidup) bagi manusia yang berisi kebenaran,yaitu kebenaran sejati yang tidak bisa diragukan. Kebenaran tersebut telah sempurna mengatur segala aspek kehidupan manusia yang bisa mengantar kita kepada jalan ketakwaan dan menjauhkan kita dari jalan kefasikan.Kebenaran yang yang terangkum dalam Agama Islam tersebut tidak perlu lagi ditambah-tambah dengan syariat apapun dari selain Allah,apalagi dicampuradukkan dengan kebatilan.
Kita hidup dalam masyarakat yang majemuk,yang bukan saja berbeda suku dan ras,melainkan berbeda keyakinan beragama.Sesama Islam pun kadang kita berbeda pendapat/paham dan kita hidup dalam berbagai golongan sampai umat Islampun terpecah belah menjadi beberapa golongan yang masing-masing golongan menganggap dirinya paling benar,padahal kebenaran itu hanya satu.Diantara kita ada yang berdalih bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat padahal itu adalah pendapat yang keliru.Bagaimana mungkin perbedaan pendapat itu dikatakan sebagai rahmat sedangkan Allah sendiri melarang kita berpecah belah dalam agama,Allah menyuruh kita bersatu berpegang teguh dalam agama Islam,sehingga setiap kali kita berbeda pendapat dengan sesama maka Allah memberikan solusi yaitu kembalikan perbedaan itu kepada Allah (Al Quran) dan rasul/hadis (QS.An Nisaa:59).
Rasulullah SAW telah meyatakan kepada para sahabat bahwa kelak umat Islam akan berselisih paham,dan Rasulullah SAW berpesan kepada para sahabat yang seandainya mendapati zaman perselisihan pendapat itu dalam urusan agama Islam maka “berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah sahabatku yang diberi petunjuk,dan jauhilah perkara baru yang diada-adakan,karena setiap perkara baru adalah bi’dah dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR.Abu Daud,Ibnu Majah dan Ad Darimi).Dalam hadis lain Rasulullah SAW mengatakan bahwa kelak umatku akan terbagi menjadi 73 golongan,72 golongan akan masuk neraka dan 1 golongan akan masuk surga.Siapa yang satu golongan itu ?,Tanya seorang sahabat.Rsulullah menjawab bahwa yang 1 itu adalah pengikut sunnahku,atau oleh para ulama mengistilahkannya sebagai golongan ahlusunnah wal jamaah.
Di dalam masyarakat Islam di tanah air ini,kadang kita hidup bersama dengan sesama umat Islam tetapi berbeda keyakinan beragama,berbeda pendapat atau berbeda amalan dan semuanya mengaku ahlusunnah waljamaah,yaitu golongan pengikut sunnah,tetapi dalam prakteknya terkadang amalan tersebut tidak ditemukan dasar syariatnya dalam sunnah (Al Quran dan hadis).
Islam ini dibangun di atas sunnah maka untuk menentukan siapa sebenarnya ahlusunnah dan siapa yang ingkar sunnah (ahlu bid’ah) maka kita kembalikan kepada sunnah (Al Quran dan Hadis).Siapa yang keyakinan dan pelaksnaan agamanya sesuai sunnah maka itulah ahlusunnah dan siapa yang melebihi dari sunnah maka itulah ahlu bid’ah.Nah,supaya anak-anakku ataupun saudara-saudara pencinta sunnah bisa membedakan antara keyakinan dan amalan yang sesuai sunnah dan yang melanggar sunnah maka penulis mempersebahkan sebuah tulisan tentang “Tradisi Attumate dalam Tinjauan Syariat”.
Penulis terdorong mengungkap masalah Tradisi Attumate ini karena dalam masyarakat tempat tinggal kita tradisi ini amat populer dan mendapat tempat istimewa di hati umat Islam,diataranya mereka percaya bahwa “attumate” adalah bagian dari amalan ibadah dalam Islam,karena banyaknya umat Islam yang melakukannya dan umumnya dipimpin oleh imam atau tokoh-tokoh agama dalam masyarakat.Namun sebagaian kecil masyarakat lain tidak mau melakukan amalan tersebut karena diyakini bukan syariat Islam atau sebagai amalan bid’ah yang harus dijauhi.Apakah karena banyak umat yang melakukan ritual “attumate” sehingga kita katakan bahwa golongan yang banyak itu benar,sedangkan golongan kecil yang tidak mau melakukan ritual tersebut kita anggap sebagai kelompok yang salah atau sesat,padahal Allah telah mengingatkan bahwa “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)(QS.Al An Aam:116). Begitupun dalam QS Al Mukminuun:34,Allah menyatakan: “Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi”.Kalau demikian siapa yang harus dikuti atau ditaati,jawabnya adalah “taati Allah dan Rasul agar kamu mendapat rahmat”,bagaimana cara mentaati Allah dan Rasul,yaitu masuklah ke dalam Islam secara keseluruhannya dan jangan mengikuti langkah-langkah setan ,dengan meyakini dan melaksanakan syariat yang diturunkan Allah melalui Al Quran dan sunnah rasul dan tinggalkanlah syariat-syariat lainnya.
Alasan yang kedua sehingga penulis mengungkap masalah ini karena kurangnya ulama atau pemimpin umat yang bersedia menjelaskan kepada umat bagaimana sesungguhnya tradisi ini ditinjau dari akidah dan syariat Islam, serta kurangnya atau bahkan tidak adanya buku-buku atau tilisan-tulisan yang mengupas tuntas tradisi attumate ini,sehingga dengan adanya tulisan ini masyarakat dapat memperoleh informasi tentang tradisi attumate untuk menjadi pertimbangan apakah amalan tradisi attumate ini layak diteruskan atau lebih baik ditinggalkan.Adapun tujuan penulis mengupas tradisi ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada generasi Islam dan saudara-saudara yang memiliki komitmen menegakkan sunnah,berjemaah di atas kebenaran.
Kebenaran janganlah dilihat pada banyaknya orang yang melakukannya dan dari popularitas orang yang mengatakannya,melainkan lihatlah pada sumber kebenaran (Al Quran dan Sunnah Rasul).Apakah anda akan ragu karena merasa sendikit dan dianggap asing oleh  masyarakat atau mendengar ucapan-ucapan yang berupa celaan atau cemohan karena tidak mengikuti golongan mereka untuk melakukan tradisi “attumate” atau  tradisi lainnya ?.Janganlah bersedih.Janganlah ragu.”Bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik” (QS.Al Muzammil:10).Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa “Islam awalnya asing dan akhirnya akan kembali dianggap asing,maka beruntunglah orang-orang yang dianggap asing” (HR.Muslim).Tetaplah berjalan di atas sunnah sekalipun terasa penuh dengan duri.Jalanilah kebenaran Islam sekalipun terasa pahit,yakinlah bahwa senantiasa bersama dengan orang-orang yang bersabar dalam kebenaran.Allah adalah sebaik-baik penolong dan pelindung orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.Akhirnya,kepada Allahlah penulis berharap semoga tulisan yang sederhana ini dapat memberi manfaat bagi umat Islam terutama bagi diri dan keluarga penulis.Amin.

                                                                                                         Palajau, 30 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar